krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Parent with no property

1 Komentar

20160203_115113-1_resized

 

Ada Ayah Hebat di sini..

Judul buku “Parent with No Property” menarik perhatian saya. Keajaiban apa yang bisa dilakukan ayah miskin terhadap cara belajar anaknya?

Dalam buku ini, Han Hee Seok menceritakan pengalaman dirinya. Seorang penulis buku di Korea yang sangat perhatian dengan cara belajar anaknya.

Menurut Hee Seok, penghasilan dari menulis belum menjanjikan, sehingga dia harus melakukan beberapa pekerjaan lainnya. Melihat kondisi perekonomian keluarga yang memprihatinkan, dia berniat memutus rantai kemiskinan. Jangan sampai anak-anaknya nanti hidup susah juga.

Hee Seok terjun langsung dalam proses belajar putri sulungnya, saat hasil belajar Geoul  dibawah standar. Beruntung hasil belajar SD diberikan dalam bentuk deksripsi, bukan angka. Jadi seperti membaca laporan perkembangan belajar anak-anak TK di Indonesia. Beberapa SD di sini mungkin ada juga.

Meski bentuk cerita, tetap saja menyiratkan bahwa Geoul pencapaiannya jauh di bawah standar. Jika diteruskan sampai SMP pastinya tidak bisa bersaing dengan teman-temannya. Karena sistem penilaian sudah berupa angka, adan ada peringkat.

Rata-rata pelajar di sana mengikuti bimbingan belajar, atau pendidikan khusus. Jadi bisa dibayangkan persaingan dalam hal merebut peringkat di sekolah, seperti apa di sana.

Hee Seok mendadak menghentikan semua kebiasaan buruk (merokok, minum soju, pulang larut dalam kondisi masuk), demi mengawal belajar Geoul. Baginya, pendidikan Geoul lebih penting dari segalanya. Hee Seok berjuang agar anaknya bisa memperbaiki cara belajar meskipun tanpa ‘pendidikan khusus’ (les di luar sekolah).

Mencoba masuk ke dalam dunia anak bukan hal mudah bagi Hee Seok. Dia mulai mengalah untuk lebih menyukai makanan yang anak-anak suka, berbicara tema yang anak-anak suka, agar lebih mudah berkomunikasi.

Jika anak-anak mengeluh, fokuslah untuk memandang dan mendengarkan mereka. Jika kita tidak berusaha untuk terbiasa dengan gaya bicara, tingkah laku, dan kesukaan anak-anak, maka akan terjadi kesenjangan generasi. -hal.158

Saat SMP, Geoul mendapat rangking 27/36 siswa. Nyaris paling bawah. Si Ayah sedih, ternyata hasil belajar anaknya belum membaik. Mulailah Hee Seok menyuruh Geoul pinjam catatan teman yang rangking 1, meniru apa yang dilakukan si rangking 1. Mencatat apa yang dijelaskan guru saat di kelas. Baik dengan tulisan ataupun gambar-gambar lucu yang Geoul mengerti.

Terbukti, Geoul lebih paham saat banyak coretan di buku pelajarannya. Saat Geoul melihat gambar yang dibuatnya, serta merta ingatannya melayang pada penjelasan guru saat di kelas. Coretan dan gambar-gambar seperti komik yang dibuat Geoul sangat membantu proses belajar.

Peningkatan hasil belajar Geoul terlihat jelas, dari peringkat 27/36 menjadi peringkat 1/36 dan 1/211. Kereen banget ya. Tanpa les-lesan, hanya modal semangat dan dorongan kuat dari ayahnya Geoul mampu mendrongkrak prestasi belajarnya.

Hee Seok juga memotivasi Geoul untuk rajin bertanya kepada guru jika ada pelajran yang tidak mengerti.

“Geoul, dalam belajar diperlukan juga sebuah keberanian. Dan, keberanian tidka bisa ditunjukkan oleh siapapun. Apakah bertanya itu suatu hal yang memalukan?” -hal. 62

Begitu SMA, Hee Seok sampai rela setiap hari bolak balik perpus bahkan pernah basah kuyup kehujanan agar bisa meminjam buku untuk anaknya. Harga buku di sana mahal. Tak kan sanggup keluarga miskin beli banyak buku untuk memenuhi kebutuhan informasi anak-anaknya. Andalannya hanya pinjam ke perpus, itupun harus mengantri panjaang.

Biaya hidup dan pendidikan cukup tinggi di Korea. Ya,  11-12 lah dengan Indonesia. Hanya yang punya uang banyak yang bisa lanjut sekolah. Orang miskin kalau tidak berprestasi, minggir saja. Hal ini juga yang memicu si Ayah untuk terus memompa semangat anak-anaknya untuk selalu giat belajar. Bahkan saat musim ujian tiba, tak ada agenda nonton tivi selama 20 hari menjelang ujian. Semua anggota keluarga dilibatkan dalam proses belajar. Saat Geoul membaca atau latihan soal, Ayah, Ibu dan adiknya juga harus membaca. Kondisi kondusif dibangun dari rumah.

Perjuangan Hee Seok membuat saya meleleh. Membayangkan begitu perhatiannya Hee Seok saat Geoul menjelang ujian kelas 3 SMU.  Ah, andai semua ayah jaman sekarang seperti Hee Seok, semua anak pasti happy dalam proses belajarnya.

Teruslah mencari kesempatan untuk berbicara kepada anak. Kala lelah, putus asa, ataupun bahagia. Biarkan anak menikmati proses kebersamaan dengan orangtua. Buat mereka merasa bahwa kita (orangtuanya) akan selalu ada. -hal.169

Buku ini sekali duduk selesai dibaca. Bacaan bergizi untuk semua orangtua yang ingin anaknya semangat dan survive dalam belajar.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

One thought on “Parent with no property

  1. Kereeen. Iya juga sih kalau lagi belajar yg lain santai nonton TV jadi tergoda juga 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s