krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Seribu Semut dan Pasukan Badak

2 Komentar

IMG-20151230-WA0007

Kali ini saya bukan nulis tentang kisah Nabi Sulaiman yang bertemu pasukan semut.  Tapi sekedar mengabadikan moment Rif’an khitanan  pekan lalu.

Sepulang kemping di Cibodas, ujug-ujung Rif’an request khitan. Alhamdulillah, akhirnya mau juga dia. Ahad sore 27 Des, meluncurlah kami ke klinik SABILA. Minta dijadwalkan khitan Senin pagi.

Sebelumnya Rif’an maju mundur mau khitan. Meski teman sekelas sudah banyak yang dikhitan, Rifan kekeuh belum mau. Yowis, nggak bisa maksa juga kan.

Sebagai emak yang pengen anaknya berani, saya setel film Upin-Ipin versi khitanan, lanjut wawancara ke teman-teman Rif’an yang sudah khitan. Jawabannya doong, plus minus bikin Rif’an ngeri-ngeri bingung. Ada yang bilang kayak ditabrak pasukan badak (lebay deh kamu Nak), itu pengikut si Mail yang bilang kayak digigit harimau. Ada juga yang bilang nggak sakit (hebat euy). Namanya juga anak-anak, jujur banget deh.

Taraa, tibalah saatnya. Senin pagi yang ditunggu-tunggu. Sepanjang jalan menuju klinik, Rif’an diam saja. Mungkin mempersiapkan hati dan memanggil keberanian dalam dirinya. Begitu masuk ke ruangan praktek, Rif’an minta saya yang menemani.

Kehebohanpun dimulai. Mulai tanya-tanya ke saya; Sakitkah disuntik? Seperti apa rasanya? Berapa menit prosesnya? Dan banyaaak lagi. Sempat juga minta pulang, nggak jadi khitan.

Sebagai pihak yang tidak berkompeten, saya minta Rif’an bertanya langsung pada Pak dr.Nas dan Bu dr.Meli.

“Dokter. Disuntik sakit nggak?” wajah Rif’an mulai berkeringat, matanya berkeliling melihat peralatan dokter di rak dan meja.

“Sakit sedikit, biar nanti pas dikhitan nggak terasa sakit lagi.”

“Sakitnya kayak apa? Seperti dicubit atau digigit semut? Kalo dicubit, cubitnya pelan apa kenceng? Kalo kayak digigit semut, berapa semutnya?”

Dua dokter jadi mesem-mesem diberondong pertanyaan Rif’an.

“Kayak digigit semut.”

“Semutnya satu? Dicubitnya kayak gini bu?” Rifan mencubit tangan saya pelan.

Pak dr.Nas menghypno Rif’an yang mulai panik. Memotivasi Rif’an agar berani, sabar, dan tenang. Berhasil? TIDAK.

“Rif’an, biar tenang coba deh baca bismillah terus baca Al Fatiha. Tarik napas pelan-pelan, hembuskan pelan-pelan juga. Nggak usah lihat alat-alat dokter. Merem atau lihat Ibu saja, biar nggak takut.” bisik saya sambil memegang kedua tangannya.

Air mata sudah siap-siap tumpah. Keringat membasahi wajahnya. Genggaman tangan makin kuat. Sesekali melirik kea rah peralatan dokter.

Waduh, bakalan lama nih judulnya. Berkali-kali saya bujuk agar Rif’an tenang.  Alhamdulillah bisa tenang. Begitu  lihat syringe kecil ditangan dr.Nas, panik lagi dia.

“Sebentar, aku napas dulu. Aku mau tenangin dulu.”

Baiklah.. team dokter menunggu dengan sabar. Akhirnya saya minta Rif’an membaca surat yang sudah dihapal dengan baik. Pilihan jatuh ke surat Al Balad.

Pas jarum suntik menyentuh kulitnya, suara Rif’an yang sedang murojaah Al Balad meninggi.

“Sakiit, katanya tadi enggak sakit. Ibu bohong. Ini sakitnya bukan kayak digigit semu satu. Tapi SERIBUU.” Pecahlah tangisnya. Nggak tega sebetulnya, pengen ikutan nangis juga. Eh, tapi emak mah kudu menguatkan. Kudu tahan sedih, biar nggak mewek.

Selesai khitan menggunakan laser, Rif’an minta langsung pulang. Loh, belum dijahit. Ada 4 titik kata dokter. Walah… kehebohan berlanjut.

“Ya Allaah… semoga nggak sakiit. Ya Allah, semoga nggak sakit.” Teriak Rif’an sambil menangis saat dijahit.

Duh, aslinya saya nggak tegaa. Tapi mau gimana lagi. Kudu kuat, kuat, kuat.  Tak sampai setengah jam, akhirnya selesai juga. Fiuh… pas operasi sesar dulu enggak separno ini deh. Alhamdulillah, berhenti juga  tangisan Rif’an. Sebagai apresiasi kami pada keberanian mau dikhitan, saya dan paksu menghadiahkan dua box lego buatnya.

Anastesi belum hilang, mainan datang, senyumpun mengembang. Siap-siap dengan rengekan saat anastesi hilang. Hihihi… perjuangan belum usai.

Rif’an hanya mau ditemani ibunya. Urusan buang air kecil, besar, main bahkan tidur. Jadilah ibunya bolos kerja.

Saat wajahnya terlihat mau nangis, saya harus menguatkan lagi. Sebut saja shahabat Thalhah bin Ubaidillah, saat perang Uhud dikenal sebagai Syahid yang hidup. Karena lukanya sangat banyak dan cukup parah. Dikira syahid ternyata masih hidup. Allah janjikan surga untuknya. Belum lagi Abu Dujanah,  Zubair bin Awwan, Ja’far bin Abi thalib, Hamzah dan banyak lagi. Saya ceritakan kisah para shahabat yang terluka dan janji Allah untuk mereka para syuhada. Ternyata sangat ampuh untuk penguatan mental anak-anak. Bersyukur anak-anak megenal para shahabat dan mulai mengidolakannya.

Ditengah rengekan Rif’an ternyata terselip bahagia.

Bahagia  saat Rif’an tetap sholat 5 waktu meski susah ruku dan sujud.

Bahagia saat Rif’an memeluk erat saya untuk menenangkan hatinya. Padahal hanya urusan mau ke toilet, karena dia ngeri membayangkan bekas lukanya.

Bahagia saat melihat Rif’an semangat mau jadi imam sholat begitu lukanya mengering.

Bahagia saat Rif’an dan Ifa berlomba berwudhu sebelum adzan.

Bahagia saat mereka diskusi memilih surat pendek yang akan dibaca saat sholat nanti.

Alhamdulillah.., semoga jadi anak yang sholeh ya, Naak. Robbi Habli minasholihiin.

 

 

 

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

2 thoughts on “Seribu Semut dan Pasukan Badak

  1. tetap semangat menulis ya bu ……. peluk cium buat buat Kaka Ifa & Rif’an ya, penget bangat ketemu sama duo krucilnya …….. semoga menjadi anak sholeh & sholehah, jadi kebanggaan ayah & ibunya, amin…….

  2. kapan main ke jakarta lagi Ta? kabar-kabari atuuh.. biar bisa ketemuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s