krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Alysha si Naga Marah

Tinggalkan komentar

Alysha merebut boneka beruang warna krem milik Jasmine. Keduanya saling tarik.Tak lama Alysha melepas pegangannya. Jasmine jatuh dengan posisi duduk, sementara boneka beruang terlempar ke tanah becek. Siku Jasmine lecet, boneka beruang kotor dan basah. Alysha hanya berdiri diam melihat Jasmine terjatuh. Tak ada kata maaf atau uluran tangan untuk menolong.

“Kamu jahat, Alysha.” Mata Jasmine berkaca-kaca. Air mata siap tumpah. Tapi urung. Jasmine berdiri dan membersihkan kotoran yang menempel pada boneka beruangnya. Kemudian berjalan menjauhi Alysha.

Kali ini Alysha mengambil bola Diego yang terletak di bawah pohon. Sementara Diego dan Billy sedang membuat kereta dari kotak bekas susu. Diam-diam Alysha menendang bola jauh-jauh. Sayangnya, bola tergelincir dan jatuh ke saluran air.

“Hei, mengapa bolaku dibuang ke saluran air?” teriak Diego.

Alysha diam saja. Sementara Diego mencoba mencari kayu untuk mengambil bola. Beberapa kali tak berhasil. Akhirnya Billy membantu. Bola Diego basah, kotor dan bau.

“Kalau mau pinjam, bilang dulu!” Diego marah. Hati-hati dipegangnya bola yang basah dengan dua tangan. Diego khawatir kotoran yang menempel di bola mengenai baju.

Alysha hendak merebut kereta api yang baru saja dibuat Billy, tapi tak bisa. Karena billy lebih cepat berkelit.

Alysha menghentakkan kaki. Nampak sekali sedang kesal.

“Alysha, kamu seperti naga kalau marah. Tahu, kan Naga? Yang bisa menyemburkan api dan mambuat takut orang. Kalau begini terus, kamu tak akan punya teman. Awas saja kalau berani merebut mainanku. Teman-teman memang takut padamu, tapi aku tidak!” Billy segera meninggalkan Alysha.

Alysha kesal. Dia berlari pulang. Sampai di halaman rumah, dia menangis sambil duduk menekuk lutut. Membenamkan wajah di lipatan lengan.

“Kenapa semua orang enggak mau main denganku?” Tangisan Alysha pecah.

Terdengar langkah kaki mendekat. Aysha mendongak. Ternyata Billy mengikutinya.

“Mau apa kamu?” bentak Alysha disela tangisnya.

“Seharusnya aku yang tanya. Mengapa kamu jahat pada teman-temanku? Kamu orang baru di sini. Harusnya bersikap lebih ramah.” Billy berdiri tegak memandang Alysha dari jarak dua meter.

“Kalian yang jahat. Tidak mau bermain denganku. PELIT!” teriak Alysha sambil mengusap air mata dengan kasar.

“Hah. Bukan kami yang pelit. Tapi kamu yang main ambil mainan teman-teman tanpa izin. Coba ingat lagi, apa yang kamu lakukan pada Jasmine dan Diego?” Billy makin garang.

Tangis Alysha terhenti. Dia coba mengingat Jasmine yang menangis saat melihat boneka beruangnya jatuh ke tanah becek. Juga Diego yang geram menahan marah saat bolanya masuk ke saluran air.

“Apa salahku? Selama ini aku selalu mendapatkan yang aku mau. Mama Papa selalu memberikan semuanya. Tak pernah melarangku ini itu.” Sanggah Alysha.

“Berapa banyak teman di rumah dan sekolah yang dulu? Aku tidak yakin kamu punya teman di manapun jika sikapmu selalu begini. Baru pindah ke sini dua hari, dua temanku sudah menjauh darimu.” Sindir Billy.

Alysha diam. Mencoba merenungi ucapan Billy. Berapa orang temannya? Ah, benar. Tak banyak teman yang dia punya di sekolah dan rumah yang dulu. Hanya ada 1-2 orang. Itupun jika mereka diberi hadiah dari Alysha.

Dia memang anak tunggal di rumah, segala yang diminta selalu dituruti Mama Papa. Tak ada orang yang menolak jika Alysha sudah menginginkan sesuatu.

“Kalau mau punya teman, kamu harus bersikap baik kepada kami. Tak perlu memberi kami hadiah dan kue-kue enak seperti yang diberikan Mamamu kemarin sore. Kami pasti mau jadi temanmu jika kamu baik.” Billy akhirnya duduk di sebelah Alysha.

“Aku ingin punya teman. Tapi aku bingung harus bagaimana? Karena dirumah aku selalu sendirian. Semua orang seperti takut padaku, selalu memenuhi apa keinginku. Tak pernah mau melihat aku marah atau menangis.” Alysha mulai serak.

“Mamamu kemarin ke rumahku, saat ada Jasmine dan Diego. Meminta kami agar mau bermain denganmu.  Mamamu juga bilang, kamu tak pernah punya teman dekat. Karena kamu kelewat manja. Sedikit saja tidak dituruti pasti kamu akan marah dan menangis.” Ujar Billy pelan.

“Jadi?”

“Ya, sebetulnya kami mau jadi temanmu. Asal kamu janji, mau merubah sikap. Tidak seperti tadi. Mengganggu teman-teman. Merebut mainan dan membuat kami kesal.” Jawab Billy mantap.

“Benarkah?” tanya Alysha.

“Janji ya, kita jadi teman. Aku, Jasmine dan Diego akan membantumu menjadi anak baik.” Billy mengulurkan tangan disambut oleh Alysha.

“Terima kasih Billy, kamu memang teman yang baik. Bantu aku, ya.” Alysha tersenyum. Berjanji dalam hati tidak akan menyakiti teman-temannya lagi. Tidak juga mau jadi naga yang menakutkan jika sedang marah.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s