krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Moly keliling lagii

Tinggalkan komentar

Malam Sabtu mulailah beres-beres buku yang nantinya akan dibawa keliling si Moly. Huwaa.. ternyata dus buku banyak yang sobek. Rak buku di mobil, belum juga terlihat hilalnya (hihihi). Akhirnya pakai baki plastik yang biasa digunakan hidroponik. Eyang memang baik sekali, merelakan baki hidroponiknya buat tempat buku sementara.

Begini penampakan saat beres-beres.Kayak kapal pecah ya. Setelah masuk mobil lumayan lah.

Modal keliling tiga tempat nanti. Perumahan Asri Pratama, Taman Sentosa dan Cikarang Permai. Yey… kita keliling lagi, Moly.

Moly di Asri

Kunjungan kali ini ke Asri. Tempat yang tidak asing bagi si emaknya moly. Sayang, lagi-lagi harus terjebak macet sepanjang jalan. Begitu masuk ke mbak Kilong (nama jalan), ternyata ada pengecoran jalan. Si Moly harus mengambil jalan pintas yang sempit (cuma muat 1 mobil). Begitu keluar, eh… kok sampai Wahana. Mau ke Asri bingung lewat mana. Sempat nyasar dikit. Tanya sana sini, akhirnya melewati jalan yang sama sempitnya. Asli sepanjang jalan nahan napas, ngeri jeblos, ngeri papasan dengan mobil dari arah berlawanan, ngeri-ngeri sedap deh.

Fiuh… akhirnya sampai juga di rumah bu Irom. Buku langsung digelar, anak-anak mulai berebut. Satu-dua anak pe-we ngatur meja mute dan bangku imutnya. Sebagian membaca di dalam rumah, sebagian di luar. Panas mulai menyengat, keringat gobyos.

E-pen NBI tak lupa saya bawa juga. Eh, tapi.. batrenya habis. Bu RW keliling nyari batre (jazaakillah khair buu..) Si epen ngadat euy, nggak mau nyala kalau bukan batre alkalin (pengen jitak si Lion). Alhamdulillah nyala, satu batre alkalin satu lagi bukan. Mulailah saya dirubung anak-anak. Membacakan kisah Nabi Daud.

Begitu e-pen disentuhkan pada gambar kambing, terdengar suara “Mbeeek..” Anak-anak langsung tertawa. Selanjutnya disentuhkan pada gambar burung, terdengar bunyi kepakan sayap burung yang terbang. Wuih.. seru. Anak-anak makin penasaran membaca dengan e-pen. Saya minta satu anak yang agak besar memegang e-pen. Bergerombol nyari tempat nyaman, mereka melanjutkan membaca Nabiku Idolaku.

Selesai e-epen, saya mengeluarkan Hafiz Doll. Menyetel lagu-lagu. Bisa ditebak, lagi-lagi saya dirubung anak-anak. Afia penasaran, saya pangku deh. Hihihi… anak-anak tuh ya, memang punya hukum kekekalan penasaran. Jadilah mereka ngoprek Hafiz doll sendiri. Pencet sana-pencet sini. Giliran diajak ngobrol, si Hafiz suka nggak nyambung. Mungkin suaranya berisik jadi nggak focus si Hafiz (ngeles).

Sedang asyik baca, hujan turun. Alhamdulillah… adeem. Moly melipir ke dalam. Anak-anak sebagian pulang, sebagian tetap bertahan menyelesaikan bacaannya. Wow, ada bonus yogurt sehat dari Bunda Afia. Jazaakillah khair buun…

Terima kasih juga buat teman-teman moly di Asri, sudah bersedia menunggu lama. Kalian kereen, bergerombol asyik baca, bukan main gadget.

Moly di taman Sentosa

Kali ini moly main ke Taman Sentosa, sampai di masjid Raudhatul Jannah (ini bener nggak namanya) pukul 3.15. Kami (saya dan eyang) sholat Asar. Selesai sholat, terdengar suara ibu-ibu yang sebut-sebut si moly. Ah, kayaknya itu deh.. barisan ibu-ibu keren dari Zona Muslimah.

Rame di grup wasap, baru pertama kali kopdar di taman sentosa. Qodarullah… agenda moly ke tamsos bareng dengan agenda ibu-ibu arisan. Tempatnya juga sama, di selasar masjid. Baiklah, sementara ibu-ibu arisan, anak-anak bisa puas baca buku.

 

Senangnyaa.. lagi-lagi saya lihat anak laki-laki usia pre-teen bergerombol di pojokan masjid. Mereka membaca buku. Saling diskusi buku yang dibaca. Selesai satu buku, mereka pilih-pilih lagi, dan kembali asyik dengan bukunya. Pemandangan ini yang membuat emaknya moly terus semangat keliling. Bener deh, melihat anak-anak asyik dengan buku adalah pemandangan yang indah. Hari gini liat anak balita pegang gadget sudah nggak aneh. Tapi lihat anak-anak pre-teen ga pegang gadget itu yang aneh.

Ada satu pembaca yang bikin saya nyengir lebar. Anak laki-laki usia 3 tahun, mendekati saya. Mencoba mencari buku tapi tampangnya bingung. Cepat tanggap, saya ambil boardbook bob the builder. Wajahnya langsung sumringah. Hihihi… anak cowok gitu loh, ga jauh-jauh dari mobil dkk. Selesai melihat gambar di buku tersebut, si anak balik lagi. Tampangnya tetep lempeng. Saya tawari berbagai buku, si anak nggak mau. “Pemadam!” serunya.

Walah.. dari tadi nyari buku fireman?

“Mau buku pemadam kebakaran?” tanya saya. Si anak mengangguk.

Seingat saya Rif’an punya koleksi buku tentang fireman. Dari soft book sampai buku busa, dia punya. Tapi saya lupa, itu buku nyelip di mana. Belum ketemu juga. Akhirnya saya tawari buku dino (CIS), dia mau. Berlari menjauh sambil membawa buku. Tidak sampai sepuluh menit, si anak balik lagi. “Pemadam!”

Hahahha… asli pengen ngakak. Ini anak bener-bener pakai ilmu kekekalan ikhtiar. Kekeuh pengen buku pemadam. Kembali saya ngubek-ngubek jejeran buku. Nggak ketemu. Memang saya juga agak lupa naruh di mana.

“Enggak ada buku pemadamnya. Nanti ya, ibu carikan lagi. Enggak mau lihat buku lainnya?”

Si anak menggeleng, “Pemadam!” kemudian lari. Jadilah saya nyengir lebar. Si anak tetap nge-fans banget sama si pemadam. Sementara saya belum berhasil menemukan persembunyian si pemadam.

Seorang ibu mendekati saya, “Ibu, sepertinya saya baru pertama kali lihat ibu.”

Memang saya baru pertama kali ngider moly di tamsos. Bertemu dengan ibu-ibu juga baru pertama ini. Wajar kalau tidak familiar.

“Iya bu, saya baru pertama ke sini.” Jawab saya.

“Ini buku ibu semua?” tanya si Ibu lagi (saya lupa namanya)

“Ada beberapa donasi. Sisanya buku koleksi pribadi.”

“Bagus juga kalau sering-sering keliling begini. Selama ini belum ada perpus keliling.”

Dalam hati saya mengaminkan.

“Iya, maunya saya juga begitu bu, lebih sering keliling. Sayangnya, saya masih kuli. Jadi hanya Sabtu-Ahad bisa kelilingnya.”

Respon ibu-ibu, Alhamdulillah cukup baik. Kalau anak-anak tak usah ditanya deh. Melihat mereka bolak balik ambil buku dan menyelesaikan bacaannya, sudah terlihat mereka senang sekali.

Semoga kita bisa ketemu lagi yaa…

Moly di Perum Cikarang Permai

Langit mulai gelap. Tapi Moly sudah janji berkunjung ke Darul Ilmi. Sempat pules juga siang tadi, bagitu bangun sudah pukul tiga. Huwaaa… telat deh. Buru-buru wudhu dan sholat asar begitu Adzan terdengar. Duo krucil tidak mau ikut moly, karena Rifan mau cukur rambut, si Kakak mau main congklak sama nenek. Baiklah, emak moly keliling sama eyang saja.

Sambil melototin wasap petunjuk jalan, lagi-lagi saya nyasar. Hihihi… ini hoby atau apa ya. Petunjuk sudah jelas, tapi selalu bingung membaca belok kanan-kiri, lurus, dan seterusnya. Mentok sampai di Masjid. Menunggu beberapa menit, menelpon Ibu Dedeh, tak juga dijawab. Mengirim wasap juga tak dibaca. Akhirnya SOS deh, ke beberapa grup. Tak lama serombongan anak-anak berlari mendekati mobil. Ada yang salah target. Kebetulan ada parkir di sebelah kami mobil terios silver (mirip punya bu Rini). Mengetuk-ngetuk jendela mobil.

Pas saya tanya, “Dek, tanya dong. Darul Ilmi di mana ya?”

Serempak mereka jawab, “Di sana.” Walah… ternyata anak-anak darul ilmi semua.

“Sini bu, ikutan saya aja.” Satu anak memimpin. Alhamdulillah… akhirnya sampai juga.

Buku digelar, anak-anak semangat membantu membawakan buku lanjut merapikan di atas meja kecil. Meski hujan, anak-anak tetap semangat membaca buku.

Satu anak cantik mendekati saya, “Ibu, bawa buku yang bisa bunyi?”

Langsung teringat e-pen lion yang tertinggal di rak buku di rumah.

“Maaf ya, e-pennya tertinggal. Jadi nggak bisa bunyi deh bukunya. Mau dibacakan saja?” tanya saya.

Si anak menghambur lari mendekati guru-gurunya. Kayaknya si cantik ini type kinestietik deh. Ga bisa duduk diam. Maunya ngusilin kakak-kakak yang sedang asyik baca.

Tak lama si cantik mendekati saya lagi, “Ibu, kasian kakek. Sampai ngantuk tuh. Dudk sendirian di kantor.”

“Kakak yang temenin dong, biar Kakek nggak ngantuk.” Jawab saya sambil nyengir.

“Aku kasih air minum aja ya, sama sedotannya. Biar Kakek minum.” Langsung dia lari. Beberapa detik sudah kembali lagi.

“Mau dibacakan buku?” tanya saya.

Segera dia ambil satu buku Halo Balita berjudul Aku sayang Allah. Mulailah saya bacakan. Ternyata kuat juga dia duduk sampai selesai satu buku. Saya pikir nggak tahan 1 menit nih.

Selesai 1 buku, dia ambil buku ke dua. Judulnya Aku saying Bibi. Hanya bagian flip flop yang dilihat, selebihnya dia lari keluar. Hujan-hujanan.

Masya Allah…. lagi-lagi saya dibuat terharu. Iya, melihat anak-anak yang ternyata suka dengan buku. Jadi, siapa bilang bahwa anaknya tidak suka buku? Normalnya anak-anak pasti suka buku. Asalkan ada yang rajin membacakan (untuk usia balita), dan ada buku-buku menarik sesuai usia dan gender. Selama moly keliling, jarang terlihat ada anak nggak mau pegang buku.

Next, kemana lagi MOLY?

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s