krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

SIBLING

Tinggalkan komentar

CIMG0083

Ifa dan Rifan jarang berpisah. Keduanya sejak kecil dikira anak kembar. Meski jarak lahir mereka 1thn 8 bulan, tapi memang mirip dan badannya hampir sama besar. Jika satu sakit, dua-duanya sakit. satu ingin minum susu, dua-duanya bareng pengen. Bahkan ke kamar mandi sering rebutan, sama-sama kebelet BAK atau BAB.

Minggu malam, jadwal Ayahnya pulang ke Jakarta. Rif’an ikut, karena libur sepekan di sekolahnya. Agenda siswa SD kelas 6 ujian nasional (ujian bersama), efeknya siswa kelas 1-5 diliburkan.
Baru jalan 5 menit, Ifa sibuk dengan henpon saya. Saya pikir sedang nge-grid foto. Akhir-akhir ini hoby banget dia ngegrid segala foto. Eh, taunya sedang menelepon ayahnya.

“Baru juga jalan, Kak.”
“Tapi ini bantalnya Rif’an ketinggalan. Nanti dia enggak bisa tidur karena nggak bisa utek-utek bantal.” Ifa khawatir sekali.
“Coba dari teras, nelponnya. Dalam kamar nggak ada sinyal.” Saran saya.

Sekali, dua kali, tiga kali, sampai enam kali akhirnya dijawab.
“Haloo, ini siapa?” suara khas Rif’an karena loudspeaker.
“Aku, kakak.”
“SIAPA?” tanya Rif’an lagi. Mungkin tidak jelas karena sedang di jalan.
“Bantal ketinggalan. Balik lagi gih.” Ifa setengah berteriak.
“Oh.., bantal. Enggak apa-apa. Aku bisa tidur enggak pakai bantal, kok. Udah, ya. Suara kakak enggak jelas, abisnya berisik banget ini di jalan.” Rifan memutuskan pembicaraan.

Sejak kapan Rifan bisa lepas dari bantal utek-uteknya? Harus bersyukur, atau gimana nih?
“Rif’an beneran bisa tidur, Bu?” Ifa sepertinya sangsi Rifan bisa pulas tanpa utek-utek.
Karena telepon terputus, Ifa mengirim pesan via wasap.
Ayah, bantal rifan ketinggalan di kamar depan. Ayah ditelponin kok gak diangkat sih. Ayah, rifan udah tidur belum di mobil espas.

Hayaah, beginilah kalau duo krucil enggak pernah pisah. Baru beberapa menit pergi ke Jakarta, Ifa sudah resah.
Besok paginya, begitu membuka mata Ifa pinjam HP saya.
“Aku mau wasapan sama Ayah.”
Saya baca apa yang ditulis Ifa.
Ayah, Rifan bisa tidur gak semalam gak pakai bantal utek-utek.

Duh, kakak. Ibu jadi meleleh deh kalau lihat kakak begini. Biasanya kalian sering becanda berujung ribut mulut. Berebut mainan apapun. Berebut makanan. Padahal sama-sama dibelikan. Selalu rame dirumah dengan adanya kalian.

Pagi tadi sebelum berangkat nguli, Ifa sibuk merapikan tempat pinsil rifan.
“Ini punya rifan, bu.” Ujarnya sambil memasukkan penghapus pinsil ke dalam kotak.
Selepas sarapan ifa lagi-lagi ingat rifan.
“Rifan udah makan belum, Bu?” saya tersenyum mendengarnya.
“Telpon atuh, tanya ke Adek, udah makan belum.” jawab saya.

Beberapa menit kemudian, “Rifan enggak bawa lego, Bu. Ntar dia bosan nggak di Grogol?”

Sampai hal-hal kecil, Ifa ingat kebiasaan adiknya. Begitu juga rifan. Jika terpisah dari Ifa, selalu membelikan sesuatu untuk Ifa. Mulai susu uht, pernak pernik yang ifa suka, sampai dengan makanan.

Huhuhu… jadi pengen mewek deh. Ingat Ifa meluk rifan pas main puzzle. Rifan takut dan ngeri karena gambarnya. Dari ngumpet di belakang badan Ifa, sampai duduk berjejer seperti ini.

PhotoGrid_1392127558453_resized

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s