krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Karunia FITRAH

Tinggalkan komentar

Anak itu FITRAH, SUCI. Maka mereka anak-anak kita pasti mempunyai sifat berikut:
1. Jujur
2. Patuh
3. Belajar
4. Pintar
5. Kreatif
6. Mandiri

Penjelasannya sebagai berikut:
1. Anak JUJUR
Semua anak itu Jujur. Asli, beneran. Liat anak kecil pas diajak jalan ke Mall. Lihat orang yang orang yang punya tanda lahir di wajahnya, pasti si anak akan tanya,”Om, kenapa itu mukanya ada item-item gede?”
Atau apapun yang mereka lihat, pasti dengan jujur juga dia ucapkan. Tanpa rekayasa.
Anak berbohong bisa jadi saat anak jujur, malah dapat musibah.

Contoh:
Anak menjatuhkan gelas ke lantai. Ibu karena tidak melihat kejadian bertanya kepada si anak, “Siapa yang menjatuhkan gelas?”
“Aku, bu.”
Selanjutnya, si Ibu akan ngomel panjang kali lebar kali tinggi. Walau tangannya sambil ambil lap dan membersihkan pecahan gelas. Tapi, si anak akan menyimpan kejadian ini.
“Aku jujur, aku diomelin.” Jadi… mending next, aku bohong aja.
Tuh… kan, yang bikin akan nggak jujur si Ibu juga.
Atau kejadian lain.
Misal di dalam kamar ber AC, terdengar suara “Tuuut.” Selanjutnya tercium aroma tidak enak memenuhi ruangan.
“Siapa yang buang angin?” tanya Ibu/Ayah.
“Ya, ampuuun. Nggak sopan tahu, bau, bikin mau pingsan aja” hehehe lebay banget dah.
Mulai saat itu, si anak ogah ngaku kalo dia hitut. Bisa berimbas ke hal lainnya. “Gue jujur, gue bakal apes dimarahin, diomelin, dst,dsb,”
Boleh saja, kita mengatakan kalau buang angin di depan orang kurang baik. Karena ada yang terganggu. Tapi dengan cara yang baik pula.

2. Patuh
sejatinya anak itu patuh, tapi dia melihat contoh orangtuanya yang tidak mematuhi aturan main yang ada. Atau tidak konsisten menetukan batasan. (nanti ada bahasan selanjutnya)

Contoh:
ngajak anak naik motor nggak pakai helm.
Si anak lagi batuk dan sensitive dengan permen. Eh…, pas ada tamu. Biar anaknya anteng nggak ganggu rumpian emaknya, maka si anak dibolehkan makan permen.
Anak itu mencatat loh. Dan pengingat ulung.
Dia pasti mikir, “Tadi pagi nggak boleh, kok sekarang boleh?” artinya, “aku nggak perlu patuh sama Mama, karena berubah-ubah.”

3. Belajar
semua Anak mau BELAJAR. Asal metodenya tepat dan menyenangkan. (sudah di bahas pada karunia belajar)
Jangan larang anak main.
Karena bagi anak, MAIN adalah sesungguh-sungguhnya belajar.
Dengan bermain mereka menstimulasi kehidupan. Tidak hanya dari segi kognitif, tapi semua. Sosial, fisik, kerjasama, dll.

4. Pintar
setiap anak adalah PINTAR. Enggak ada anak bodoh. Yang ada, anak introvert dan extrovert.
Yuk kita lihat kelebihan mereka.
Intovert :
Hati-hati, pengamat ulung, nilai akademisnya rata-rata bagus, tapi begitu pelajaran olahraga dia paling kewalahan.
Ekstrovert:
Jago dalam komunikasi, fisiknya kuat karena nggak bisa duduk diam, motorik kasarnya hebat (nilai olahraga paling tinggi), seringkali tersiksa dengan metode belajar yang banyak duduk manis.

Selain dua hal itu, semua anak di dunia ini PINTAR. Coba deh, lihat anak kecil main games di gadget. Walau nggak ngerti bahasa inggris tapi dia bisa memainkan dengan baik. Padahal ngerti bahasanya saja tidak.

5. Kreatif
setiap anak adalah KREATIF.
Enggak ada anak yang kehabisan ide saat bermain. Coba deh perhatikan. Mainannya sama, lego. Tapi bisa kuat berlama-lama, bikin gedung, kapal, mobil2, trus nanti tabrakan, ada gempa gedungnya hancur, terus begitu nggak ada matinya ide anak-anak saat main. Padahal kita sebagai orangtua nggak pernah kan, nyuruh, “Bikin pesawatnya begini aja dek, trus nanti jadi banjir, trus begini, begitu.” Nggak pernah kan? Anak-anak punya ide yang tak pernah habis.
Saat di kamar mandi. Mulai main gelembung, siram-siram air ala fireman, sampai berendam seakan-akan berenang di kolam renang besar.
Yang MEMATIKAN KREATIFITAS anak-anak, umumnya adalah orangtua.
Misal: anak banyak bicara, komunikasi verbalnya sangat baik. Tapi orangtua malah menganggapnya cerewet, bawel, banyak ngomong, dan label negative lainnya. Sejak saat itu kretifitas anak MATI.
Saat anak menunjukkan kelebihan, ketertarikan, idenya dalam bidang apapun, kemudian orangtua bukan memotivasi tapi melemahkan, meremehkan, maka sejak saat itu kreatifitas anak-anak MATI.

6. Mandiri
setiap anak, pada masanya ecara fitrah punya sifat MANDIRI.
Orangtua yang sering menyebabkan anak jadi tidak mandiri.
Contoh:
Ani, anak TK-B, sudah terbiasa pakai sepatu sendiri.
Tapi hari itu, Ayah dan Ibu kesiangan. Jemputan sekolah sudah membunyikan klakson di depan pagar rumah. Si anak yang sedang berusaha menggunakan sepatu sendiri, tiba-tiba dikagetkan suara Ibu.
“Cepatan pakai sepatunya! Itu jemputan udah nungguin. Kamu lelet banget sih. Sini, Mama pakaikan.”
Akhirnya si Ibu mengambil alih memakaikan sepatu Ani, sambil terus ngomel. “Pakai sepatu sendiri nggak bisa.”
Ani, merekam. “Aku nggak bisa pakai sepatu sendiri.”
Atau….
Aulia anak kelas 2 SD anak akan pergi ke TPA, sedang asyik memilih baju yang akan dipakai. Tiba-tiba Ibu mengingatkan dia.
“Lama amat milih bajunya. Udah ambil yang mana saja.”
Pilihan jatuh pada, kaus lengan panjang warna pink, celana panjang warna biru dan jilbab kaus polkadot warna hijau.
Melihat pilihan Aulia, Ibunya komentar lagi,”Masa kaus pink, celana biru, jilbab hijau. Jangan tabrak-tabrak gitu dong warnanya.”
Si Ibu mengambil celana panjang dan jilbab dengan warna yang senada dengan pink.
Saat itu Aulia merekam, “Pilihanku tidak bagus. Pilihan Ibu yang bagus.”
Yuhuuu, apa yang sudah ibu lakukan?
Yup, mulai saat itu, kemandirian si anak MATI. Si anak akan berfikir, bahwa dirinya tidak bisa mandiri. Pilihannya tidak baik, tidak benar, tidak bagus. Dst.

PR 3
Insya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh membebaskan hidup anak demi kebahagiaan mereka, sepanjang tidak berlebihan. Yaitu:
1. Tidak membahayakan dirinya
2. Tidak merugikan orang lain
3. Tidak melanggar hukum agama dan negara

Contoh:
– Anak balita naik tangga, tidak boleh dilarang. Yang dicegah jatuhnya. Jadi, ortu wajib jagain. Jangan ditinggal tidur, atau lengah.
– Main Air, tidak boleh dilarang. Yang dilarang, borosnya, bahaya terpelesetnya, dan buat batasan. Misal boleh main air 15 menit. Boleh main air seember. Boleh main air di halaman rumput (bukan di lantai licin). Teteup, kudu dijagain (supervise sama ortu)
– Main pisau, boleeeh. Yang dicegah, luka kena pisau. Caranya, awasi, pengangin tangannya, kasih contoh memegang dan menggunakan pisau yang aman.
– Main Hujan, boleeeh. Yang dicegah sakitnya. Caranya, liat kondisi anak. Kalau sehat boleh. Tapi kalau kondisi drop, kecapean, ya jangaan.
– Lompat-lompat di tempat tidur, boleeeh. Yang nggak boleh jatuhnya, benjutnya, jadiii jagain atuuuh.
Ya, kayak gitu deh, contohnya. Ngga terus-terusan melarang anak. Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Lama-lama anak bingung, harus ngapain.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s