krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Karunia BELAJAR (PR ke-2)

Tinggalkan komentar

Semua anak, pada dasarnya mau BELAJAR.
Pelajaran terbesar didapat anak dari keluarganya. Baik nilai kebaikan (positif) atau keburukan (negative). Anak sampai usia 18tahun, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Artinya:
– 86% mereka habiskan waktu di rumah,
– 14% sisanya disekolah & lingkungan.

Berkaca dari hal di atas, cobalah kita tengok. Anak senang saat berada di mana? Di rumah atau di luar rumah? (sekolah dan lingkungan). Jika anak-anak lebih nyaman berada di sekolah, ada apa dengan rumahnya? Jika anak lebih betah berada di lingkungannya (di luar rumah). Artinya ada hal yang membuatnya tidak nyaman berlama-lama di rumah.

Tahukah, Ayah Ibu, bahwa sebenarnya waktu terbanyak mereka habiskan di rumah saat usia <18thn. Setelah itu secara de facto. Mereka bukan lagi anak-anak yang bisa dengan bebas kita intervensi.

Intervensi orangtua terhadap anak bisa dilakukan seperti berikut:
– Usia anak < 12 tahun (s/d kelas 6 SD): 100%
– Usia anak 12 – 15 tahun (kelas 7-9): 60%
mulai ada pengaruh lingkungan. Anak mulai punya hak privacy.
Remaja tak mau selalu ditempel orangtuanya.
– Usia anak 15 – 18 tahun (SMU): 40%
makin besar lagi pengaruh luar terhadap anak.
– Usia anak 18 – 23 tahun (kuliah): 0%
sangat kecil, bahkan tidak ada intervensi kepada anak jika anak kuliahnya ngekost.

Saat anak menikah, tidak ada lagi intervensi orangtua terhadap anak. Karena keluarga anaklah yang lebih berhak (istri dan anak-anaknya)

Simak kejadian berikut:
Satu saat Ibu sedang memasak di dapur. Niatnya mau masak sayur asam. Anak kita usia balita datang menghampiri.
“Mama lagi ngapain?” tanya si anak.
“Mama lagi masak, Nak.”
“Mama masak apa?”
“Masak sayur asem, Nak.”
“Kok namanya sayur asem?”
“Iya karena rasanya asam.”
“Kenapa bisa asam?”
“Karena pakai buah asam,” jawab Mama sambil menunjukkan buah asam kepada anaknya.
“Isi sayurnya apa aja, Ma?”
“Ada jagung, melinjo, dau melinjo, labu, kacang tanah,”
“Melinjo itu kayak apa?”
“Kayak ini.” Mama menunjukkan buah melinjo yang berwarna hijau dan merah.
“Kenapa warnanya beda-beda?”
“Udah ah, tanyanya. Sana-sana. Main aja di luar. Mama lagi masak nggak beres-beres, nih.” Jawab Mama mulai nggak sabar.

Saat inilah, orangtua menghentikan gairah anak untuk belajar. Padahal, umumnya setiap anak pasti kritis. Setiap anak bertanya artinya dia penasaran. Curious, rasa ingin tahunya tinggi. Ini harus dipenuhi.
Berapa banyak orangtua yang tahan terhadap pertanyaan anak. Yup, sedikit sekali. Kebanyakan dari kita nggak sabaran menjawab pertanyaan anak. Sejatinya, anak juga anak capek, kok. Buktikan!

Abah Ihsan bercerita, bahwa anaknya pernah bertanya nama hari.
“Abah, sekarang hari apa?”
“Senin.”
Kemudian bertanya lagi, “Sudah senin?”
“Selasa.”
“Sudah selasa?”
“Rabu.”
“Sudah Rabu?”
“Kamis.”
“Sudah Kamis?”
“Jum’at.”
“Sudah Jum’at?”
“Sabtu.”
“Sudah Sabtu?”
“Minggu.”
“Sudah Minggu?”
“Senin.”
“Sudah senin?”
“Selasa.”
“Sudah selasa?”
Begitu terus anaknya bertanya berulang-ulang. Berputar-putar menanyakan hal yang sama. Fungsinya adalah, dengan mengulang pertanyaan, makan semakin kuat tertanam di otak bawah sadar anak. Pertanyaan terus berlanjut, Abah terus meladeni. Sampai akhirnya si anak berhenti sendiri.
Lalu Abah tanya,”Kenapa berhenti?”
“Capek ah, Bah.”
Mau tahu berapa putaran? Cukup tiga putaran, si anak sudah capek. Nah, kan? Anak juga ada capeknya. Tinggal kuat-kuatan aja sama Ayah Ibunya. Azamkan di hati, Demi Allah. Saya akan jawab pertanyaanmu, Nak. Kita lihat siapa yang duluan berhenti. Masa saya kalah sama anak kecil. Berani mencoba? Yuuk.

Eh, tapi ada yg protes nih. “Saya kan capek, pulang kerja diberondong dengan pertanyaan anak yang tak ada habisnya.”
Oke, boleh menunda menjawab pertanyaan anak. Begini, caranya.
“Anak Ibu pengen tahu ya? Boleeh. Tapi tidak sekarang. Ibu lagi capek. Satu jam lagi ya..” (untuk waktu silakan tentukan sendiri)
Insya Allah kalau anak-anak disampaikan dengan cara yang baik, lembut, mereka akan mengerti.

Kita ingat-ingat lagi, saat anak balita belajar jalan. Walau jatuh berpuluh-puluh kali, dia akan bangun lagi untuk belajar jalan sampai bisa. Bahkan kalau sudah bisa jalan, coba deh ingat. Anak-anak nggak pernah tuh, jalannya pelan. Pasti ngebut (lari).
Belajar bukan hanya menulis, mewarnai, dan sejenisnya. Bagi balita, numpahin air ke lantai itu belajar. Main pasir, itu belajar. Becek-becekan dan main hujan, itu belajar. Ngemut sandal, itu belajar. Tapi kalau gigit sandal kotor dan belok jangan dibiarin ya, ganti sandal dengan teether yang bersih. Biar bisa belajar gigit-gigit dan fase oral dengan aman.

Kapan dan di mana anak belajar?
Kapan saja, di mana saja. Anak-anak selalu belajar. Bukan hanya di sekolah, bukan hanya di tempat les. Saat bermain mereka sedang belajar. Sekalipun mereka ujung-ujungnya nangis karena berantem dengan temannya. Iya, beneran.

Saat anak berantem (misal berebut mainan), saat itu anak sedang belajar bersosial. Jika anak kita nggak mau ngalah, pengen menang sendiri, nantinya nggak ada teman mau bermain dengan anak kita. Besok-besok, anak kita mulai menurunkan egonya. Daripada main sendiri, nggak asyik kan? mainlah dia dengan teman-temannya lagi. Berusaha menurunkan ego, nggak apa nggak menang terus. Yang penting bisa main bareng.
Setiap anak sejatinya MAU BELAJAR, asal metodenya tepat.

Trus, apa yang harus kita lakukan? Sejak saat ini tanamkan software kebaikan dalam diri anak.
Yuk, kerjakan PR 2
Insya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh tidak meninggalkan anak setiap hari jika saya di RUMAH setidaknya pada 4 waktu, yaitu:
1. BANGUN TIDUR
2. SHOLAT
3. MAKAN
4. MAU TIDUR

Kita bahas satu-satu kenapa orangtua harus ada setidaknya di 4 waktu di atas.
1. Bangun Tidur
Saat anak tidur, gelombang otaknya ada pada posisi delta. Sebelum bangun, akan terjadi perpindahan gelombang. Dari delta ke theta dan seterusnya sampai anak benar-benar bangun dan siap beraktifitas. Gunakan momen ini untuk menanamkan kebaikan.
Membangunkan anak dari tidur hendaklah dengan lembut. Bisa dengan mengitik-ngitik kakinya. Bisa dengan dongeng, bisa dengan apapun hal yang sangat disukai anak. Begitu anak membuka matanya, yang dilihat adalah wajah ayah/ibunya. Bacakan doa bangun tidur, meski matanya masih kriyep-kriyep. Beri motivasi positif kepada anak. “Anak hebat, bangunnya pagi.” Atau “Anak hebat, Subuhnya rajin”, dan seterusnya.
Atau dengan hal lainnya. Yang pasti Ayah/ibu lebih faham kesukaan anak-anaknya.
Ifa (8thn), paling senang dibangunkan dengan boneka kucingnya. “Miaw..miaw, kakak bangun yuuk. Aku mau main sama kakak. Kita sholat subuh bareng yuuk. Miaw, miaw,” sambil si boneka kucing ngusek-ngusek pipi Ifa. Nggak pake lama. Mata Ifa terbuka pelan, senyum mengembang meski masih bau acai. Tapi dia beneran melek, mau beranjak dari tidurnya dan meninggalkan guling apeknya.
Rif’an (6thn) beda lagi. Bangunin dia nggak mempan pakai boneka kucing. Kedua tangan saya selipkan di bawah badan Rif’an. “Ada excavator mau angkut batu besar, buat bangun jalan, Dek.” Kedua tangan saya langsung bergerak seolah-oleh jadi bucket excavator. Sambil membaca doa bangun tidur di telinga Rif’an. Enggak lama, matanya riyep-riyep. Liat emaknya udah heboh jadi excavator. Sudah mulai cengar-cengir. Lanjut membopong Rif’an ke depan kamar mandi.
Kalau Ayah Ibu yang lain, bagaimana? Pasti beda-beda ya.. cara membangunkan anak di pagi hari.
Jika mereka bangun dengan hati yang riang, senang, maka akan Happy juga untuk melakukan hal selanjutnya.

2. SHOLAT
Usahakan (wajib) ada disamping anak saat sholat. Misal; subuh, ajak anak-anak bangun pagi, sholat subuh bareng. Jika ayah ibu kerja, moment pagi ini pastikan jangan terlewat. Karena ini akan terbawa sepanjang hari dia beraktifitas. Jika paginya baik, maka akan baik juga sampai nanti dia tidur lagi. Tapi, kalau pas ibu udzur gimana dong? Nggak bisa kan, sholat bareng anak-anak. Ih, siapa bilang nggak bisa disamping anak pas sholat. Ibu yang sedang haid, bisa tetap menemami anak-anaknya yang sholat. Duduk manis saja di samping atau belakang anak. Dari mereka takbir sampai salam. Peluk, cium saat mereka selesai sholat. Pelukan itu membuat anak nyaman. Jangan pelit meluk anak, yaa. (khususnya anak-anak yang masih kecil <12thn).

3. MAKAN
Makan bersama anak juga agenda wajib. Jangan makan sambil nonton televisi. JANGAN! Karena kegiatan yang dilakukan sambilan efeknya tidak baik. Anak jadi tidak konsen makan, tapi konsen ke tivi. Makan jadi lamaa. Dsb, dst.
Waktu makan boleh bicara. Asal, jangan sampai pas mulut penuh trus ngomong, bisa keselek atuuh. Saat makan, lakukan komunikasi pada anak-anak. Pan lumayan tuh, waktu makan biasanya berapa menit? Bisa jadi ajang tukar info ringan dengan anak-anak. Yang tidak boleh itu, makan dengan bersuara ngeclap (apa ya istilahnya, kalau ngunyah makanan bunyi gitu)

4. MAU TIDUR
Menjelang tidur, gelombang otak anak-anak berada dalam kondisi teta (tenang). Saat inilah terbaik diisi dengan cerita, sugesti positif dan kisah-kisah kebaikan dari 20 sahabat, 25 nabi dan Rasul, kisah Rasulullah. Dan banyak lagi cerita kebaikan yang bisa kita tanamkan sebagai software dalam otak anak-anak. Wajibkan untuk cerita kepada anak minimal 1kali sehari. MINIMAL 1 kali/hari. Paling baik saat anak-anak menjelang tidur. Cerita yang kita sampaikan akan tertanam dengan baik di otak sadar, kemudian jika rutin dilakukan, maka akan tersimpan di otak bawah sadar. Tentunya sebagai orangtua, kita ingin menanamkan banyaak kebaikan. So, tunggu apalagi? Lakukan sekarang juga. Tanam software kebaikan kepada anak kita. SEKARANG, bukan nanti, bukan besok. Mulai ntar malam praktek yaa. Cerita ke anak-anak sebelum mereka tidur. Jangan kita duluan yang pules, sementara anak-anak masih lulumpatan.
Bisa juga senandungkan sholawat saat selesai bercerita. Tambahkan sugesti positif di sela sholawat. Anak-anak akan selalu terkenang moment indah mereka sebelum tidur.

Selamat mengerjakan PR kedua, sedikitnya 4 WAKTU yang wajib ada orangtua. Jika lebih dari 4 waktu itu bagaimana? Yaa… lebih baik lagi atuuuh.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s