krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

BERSAMA anak, bukan DENGAN anak (PR ke-1)

Tinggalkan komentar

20150201_183921

Hari pertama mengikuti program sekolah pengasuhan anak (PSPA) 31 Jan-1 Feb 2015, saya datang telat bangeet. Alhamdulillah boleh masuk.
Begitu masuk sudah banyak ketinggalan. (colek gank rempong, liputannya tambahin ya)

Duduk manis di deretan belakang. Abah Ihsan sedang menjelaskan korupsi berawal dari keluarga:
– Antar jemput anak pakai fasilitas kantor.
– dll

Ice breaking ke-1:
Peserta diminta mengeluarkan tali raffia dari godiebag. Perintahnya, mengikatkan ujung tali di tangan kakan dan mengaitkan tali ke satu orang teman di sebelah kita. Kemudian ujung yang lain diikatkan ke tangan kiri. Jadilah tali yang mengikat tangan saya dan ibu Tanti saling nyangkut. Perintah selanjutanya, kami diminta saling melepaskan diri.
Hadeuh, gimana atuh?

Usaha pertama, tali yang mengikat kedua tangan saya, dilingkarkan ke bu Tanti kemudian diloloskan lewat kaki. Berhasil? Tidak. Masih nyangkut. Usaha kedua, gantian saya yang meloloskan tali lewat kaki. Hasilnya? Teteup..nyangkut. Bolak balik, teteup. Tak bisa saling melepaskan diri.

Sampai selesai, tak ada peserta yang berhasil melepaskan diri dari temannya. Akhirnya Abah Ihsan menjelaskan, cara melepaskan diri. Caranya ternyata simple. Dengan menekuk tali raffia salah satu peserta yang terikat, kemudian diselipkan di pergelangan tangan temannya. Taraa… berhasil. Dua peserta bisa saling melepaskan diri.

Point penting dari permainan ini adalah:
Jika belum tahu ilmunya, games sepele seperti ini akan terlihat sangat sulit.

Ice breaking ke-2:
Peserta diberi waktu 10 detik, untuk menggambar pemandangan. Hasilnyaa, menakjubkan. Hampir sebagian besar peserta menggambar gunung. Baik gunung lengkap dengan jalan, matahari yang punya duri, pohon-pohon di sekitar gunung. Dst.
Point dari permainan ini adalah:
Saat terdesak, manusia akan menggunakan informasi masa lalu.

Okee… lanjut ke materi.
Ilmu menjadi Orangtua
Seperti games ke-1, “Jika tidak tahu ilmunya, akan terasa SULIT”
Begitu pula dengan menjadi orangtua, jika kita menjadi orangtua, tapi tak punya ilmu untuk menjadi orangtua. Maka yang terjadi adalah terus-terusan menghadapi KESULITAN dalam tugas kita menjadi orangtua.

Nah, kalau kita tidak punya ilmu, bagaimana cara kita mendidik anak-anak?
1. TRIAL
– Yup, sama seperti games tadi. Trial and trial again. Sampe capek. Iya kalau trial-nya langsung berhasil. Kalau tidak? Sampai kapan anak-anak kita jadi percobaan pola asuh dari orangtuanya.
– Buat anak kok coba-coba. Hadeuh… kudu insyaf segera.
2. WARISAN
– Ada dua warisan; over dosis perhatian (menjadikan anak super manja tidak mandiri dll), atau kurang perhatian.
– Jika kita dibesarkan dengan penuh kasih sayang, maka kita akan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang juga.
– Tapi jika kita besar dalam bentakan, cubitan, pukulan, maka tidak menutup kemungkinan maka kita akan melakukan hal yang sama terhadap anak-anak kita. Walau tak pernah ada niat sedikitpun melakukan hal itu, walau setelah nyubit nyeselnya banget-banget.
– Itulah warisan. Kita akan melakukan hal yang pernah kita alami saat kita terdesak. Saat emosi tinggi, saat tak tahu lagi harus berbuat apa dalam mengadapi anak-anak, maka akan keluar jurus-jurus warisan; bentak dan main tangan.

Untuk apa berkeluarga?
Umumnya jawaban peserta terbagi menjadi 3.
1. Keturunan
– Meneruskan keturunan, dst.
2. Biologis
– Menyalurkan kebutuhan biologis sesuai syariat (halal)
3. Nilai
– Membentuk generasi Robbani, dst.
Umumnya kita (bangsa Indonesia) “Siap Nikah tapi tidak siap jadi Orangtua”
Kok bisa? Iya.
Karena umumnya di Indonesia, saat kita merencanakan pernikahan, yang paling difikirkan adalah; surat-surat untuk nikah, pesta pernikahan, foto pre-wed, dan semacamnya.
Tapi belum pernah terpikir untuk ikut sekolah menjadi orangtua. Ikutan program parenting bagaimana mendidik anak-anak. Bagaimana mempersiapkan diri menjadi ibu untuk anak-anaknya kelak.
Saat sudah mempunyai anak, taraaa selamat datang KESULITAN.

Perlu kita tahu, di negara lain ada program yang wajib diikuti jika ada pasangan yang hendak menikah.
– Israel (1969), mereka ada program pendidikan calon orangtua selama 6 bulan. Materinya lengkap. Persiapan sebelum menikah, saat ibu mengandung, sampai cara orangtua mendidik anak usia sekolah, dst.
– Malaysia (NURI), program pendidikan orangtua.
– Infonya nanti di Indonesia ada Direktorat keayahbundaan. (tolong di koreksi yaa. Nulisnya cepet2)
– Di Indonesia…., infonya ada pengarahan di KUA. Berapa lama? Wajibkah? Apa cukup efektif? (ketahuan, dulu saya nggak ikutan pengarahan di KUA). Tahu ilmu parenting saat dengar khutbah nikah, atau baca buku-buku parenting. Tapi, nggak nendang. Hanya tahu teori, bingung aplikasi.

Anak, Anugrah atau Beban?
Kali ini kami peserta ditanya Abah Ihsan.
Banyak yang menjawab anak adalah Anugrah. Hanya satu peserta yang menjawab anak adalah Beban.
Betul, Anak adalah Anugrah. Bukan beban. Memang ada sedikit beban yang harus ditanggung. Misal; membesarkan butuh biaya makan, sekolah, dan lain-lain. Beban akankah kita mampu mendidik dengan baik, dll.
Lanjut ke pertanyaan kedua.

Anak, banyak memberi atau Meminta?
Jawabannya, sebagian besar peserta menjawab “ Anak banyak memberi”. Beberapa orang menjawab “Anak banyak meminta”
Let see..
Anak balita kita baru bisa bicara, “mmmaamaa…, mmaaa.”
Apa yang kita rasakan? Normal, melihat anaknya pertama kali bisa mengucapkan mama, pasti bahagia, senangnya luar biasa. Wajah kita mendadak tersenyum lebar, tak terasa air mata menetes di pipi (khususnya ibu2 yang sering lebay, termasuk saya).
Apa yang anak sudah lakukan tadi? Ya, si anak sedang memberikan kebahagiaan untuk orangtuanya. Dan masih banyak lagi yang dilakukan anak. Mereka selalu memberi dan memberi.
Begitu pulang kerja, capek, pusing, dsb. Tapi pas main petak umpet bareng anak, main kuda-kudaan (ortu biasanya jadi kuda), Main tembak-tembakan, pukul-pukulan bantal guling, apa yang kita rasakan?
Hati kita pastinya langsung, mak nyleesss. Capek, bête, pusing karena kerjaan dijamin mendadak hilang. Jadi, benarlah anak lebih banyak memberi.

Seperti dalam Al Qur’an, Allah berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imron: 14)

Benarlah, anak adalah perhiasan. Anak, adalah Anugrah. Anak memberi kita ketenangan dan kesejukan dalam hati.

Terus, kenapa ada yang punya anak tapi tidak bisa merasakan anugrah tersebut. Misal; anak semakin besar sulit diatur, mudah marah hingga meledak-ledak, tidak menghargai orangtua dan sebagainya.
Ingat, ANUGRAH bisa rusak karena salah mengelola. Siapa yang salah? Ya… orangtuanya.
Menurut teori yang berkembang tentang prilaku, bisa di sebutkan sbb:
1. Dosa Asal; teori yang berkembang saat dulu (lupa thn berapa). Anak membawa dosa asal. Jadi jika dilihat dalam garis
(-) __________ 0 ___________ (+)
I____________I (prilaku anak ada di posisi ini, karena membawa dosa asal)
2. Behaviorisme; Bahwa prilaku ditentukan oleh lingkungan. Jadi, anak yang terlahir ada pada kondisi (0) Nol, Zero, tidak berdosa juga tidak memiliki fitrah (nilai kebaikan)
(-) __________ 0 ___________ (+)
I_I (prilaku anak ada di posisi ini, Nol Dosa, Nol nilai kebaikan)

3. Psikoanalisa; Prilaku anak ada kecenderungan antara kebaikan dan keburukan.
(-) __________ 0 ___________ (+)
I___________________________I (prilaku anak ada di posisi ini, bisa baik, bisa juga buruk)
4. Fitrah; Anak saat terlahir ke dunia adalah dalam keadaan suci, baik, tidak ada keburukan sama sekali di dalamnya.
(-) __________ 0 ___________ (+)
I_____________I (prilaku anak ada di posisi ini, FITRAH)

Jika kita lihat teori yang berkembang di atas, sebenarnya prilaku anak pada dasarnya adalah FITRAH. Menyenangkan, membuat bahagia, tentram, menenangkan, dst.
TAPI, itu semua tidak bisa terus bertahan dalam FITRAH-nya. Karena seiring bertambahnya usia anak, akan berubah atau tidak tergantung dari ORANGTUANYA.
Jika kita lihat kondisi saat ini, banyak anak-anak yang membangkang, dan makin ngeselin orangtuanya. Jangan salahkan ANAK. Tapi lihat ORTU-nya. Sedekat apakah ortu dengan anaknya. Dekat dalam artian, berapa banyak waktu yang dihabiskan BERSAMA anak. Bukan DENGAN anak.
Tahu bedanya antara “BERSAMA anak” dan “DENGAN anak”
BERSAMA anak adalah (ortu terlibat main, bukan hanya jadi penonton):
– Main hujan-hujanan bareng anak
– Main air di kamar mandi bareng anak
– Main kotor-kotoran (pasir) bareng anak
– Main puzzle bareng anak
– Dan main lainnya, tanpa ada kotak (baik HP, Televisi, gadget, dan kegiatan lainnya)

DENGAN anak, ortu main dengan anak disambi kegiatan lainnya:
– Main balok sambil bolak balik ke mesin cuci.
– Main petak umpet, sambil goreng ayam di dapur.
– Main sama anak sambil nonton Televisi (tayangan sinetron Muhidin pula, hehehe)
– Main lego sambil wasapan, bbm-an, inetan (walau jualan sekalipun, jitak pala sendiri)

BERSAMA anak harus FOKUS, tidak disambi dengan kegiatan yang lain.
Main petak umpet kudu serius main, nggak boleh setengah2. Anak akan happy jika main bersama orangtuanya. Walau main petak umpet, main congklak, main kejar-kejaran, pukul-pukula bantal, mereka senang jika kita FOKUS MAIN.

Siapa yang harus lebih banyak berinteraksi dengan anak? Ayah, Ibu, atau keduanya.
Dalam al Qur’an disebutkan interaksi Orangtua dengan anaknya:
– 14 kali interaksi antara Ayah dengan Anak.
– 2 kali interaksi antara Ibu dengan Anak.
– 1 kali antara orangtua dengan Anak.

Penelitian menyebutkan:
Anak-anak yang bermasalah dibesarkan oleh Ayah yang bermasalah. 85 % adalah orang yang saat dia kecil tidak bersama Ayahnya. Atau Ayahnya ada tapi tidak terlibat secara langsung dalam mendidik dan mengarahkan anak-anak.
Apa yang harus dilakukan orangtua saat ini, agar terhindar dari hal-hal tersebut?

PR.1
Insya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh bertanggung jawab dengan anak-anak saya bukan hanya dengan ucapan tapi dengan perbuatan.
Saya bersungguh-sungguh memulainya dengan hal sederhana, yaitu setiap hari menyediakan waktu BERSAMA ANAK, setidaknya 30 menit sebelum mereka remaja dan 3 jam sepekan setelah mereka remaja.

Ingat:
BERSAMA anak, bukan DENGAN anak.

Sumber:
PSPA 31 Jan-1 Feb, Abah Ihsan Baihaqi ibnu Bukhori

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s