krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Pengingat Ulung

Tinggalkan komentar

Pulang kerja, saya mendapat undangan dari sekolah Ifa. Jelas tertulis jadwal dan materi lomba. Ada pesan juga dari Wali kelas, untuk mengulang semua hafalan. Baik doa sehari-hari, hadits, maupun surat pendek Al Qur’an.
Biasanya Iffa tak pernah mau diajak mengulang hafalan dengan serius. Sambil bermain, saya mencoba mensiasatinya. Memancing Iffa untuk membenarkan bacaan Al Qur’an yang sengaja tak selesai saya bacakan, atau salah dalam pengucapan. Benarlah, Iffa terpancing.
“Ih, Ibu. Salah tuh,” tukas Iffa cepat.
“Oh, salah ya? Terus yang benar bagaimana Kak? Ayo, Kakak deh yang baca. Ibu mau dengar,” pinta saya.

Mulailah Iffa mengulang hafalannya. Hati-hati dibacanya surat Al Ma’un. Tajwid dan makhraj sudah cukup lumayan untuk anak seusianya. Selesai satu surat, saya kembali pancing untuk mengulang surat lainnya. Begitu juga dengan doa dan hadits. Sukses. Sebelum tidur, malam itu saya berhasil membuat Iffa mengulang hafalannya sambil bermain.

Awalnya saya tidak menyadari Iffa cukup baik dalam hal mengingat sesuatu. Baik dalam bentuk hafalan, permainan puzzle bahkan kata-kata asing yang baru sekali didengar dengan mudah dia ingat. Lagu-lagu berbahasa Inggris dan Arab dengan cepat Iffa hafal. Walau pengucapan kadang masih salah.

Pernah satu waktu saya berkunjung ke sekolah, konsultasi pada wali kelas TK-A setelah pembagian raport semester satu. Karena saat pembagian raport bertepatan dengan puncak tema, rapot dibagikan tapi orang tua tidak sempat konsultasi pada wali kelas. Bu Ani, menjelaskan prestasi Iffa dengan sangat rinci. Iffa adalah salah satu anak dengan daya ingat cukup baik. Dijelaskan pada saya, saat bu Ani menceritakan kisah Nabi Ibrahim ada beberapa kata yang asing atau jarang didengar anak-anak. Alhamdulillah dia bisa menjawab saat bu Ani bertanya tentang isi cerita, termasuk nama kota Babilonia.

Waktu yang lain, saat ada program pemutaran film anak-anak di sekolah, Iffa juga mengingat lagi hal-hal yang baru saja di lihat dan di dengar. Film kartun Tupi Ping-ping tentang tumbuhan, diceritakan dalam film ada tokoh Fungi si jamur, Venus dan Kantung Semar. Film selesai diputar, kembali anak-anak ditanya tentang film yang baru saja mereka saksikan. Iffa, lagi-lagi menjawab semua pertanyaan guru, bahkan bisa menceritakan ulang isi film dengan jelas. Hal ini saya dengar dari walikelasnya.

“Bunda. Masya Allah dengan daya ingat Iffa. Dia menjadi contoh untuk teman-temannya dalam hal menghafal. Karena Iffa cepat sekali. Untuk hafalan yang baru dibacakan satu atua dua kali oleh saya, Iffa dengan cepat bisa mengulang tanpa dibantu oleh saya. Seringkali, saya bilang ke teman-temannya, ‘tuh, lihat Iffa sudah hafal. Hayoo, semuanya hafal yang baik ya, seperti Iffa’ jika sudah begitu, teman-temannya jadi bersemangat. Semoga Iffa bisa menjadi Hafidzoh ya, Bunda.”

Saya mengaminkan doa bu Ani saat mengambil rapot semester dua, bulan Juni lalu. Iya, semoga Iffa bisa menjadi penghafal Al Qur’an yang baik. Harapan dan mimpi saya sebagai ibunya.

Lain waktu saya mendengar dari guru sentra creativity. Mereka bercerita, bahwa dari sekian anak didiknya. Iffa cukup menonjol. Saat kegiatan mencampur warna, Iffa salah satu siswa yang cepat mengerti apa yang diperintah dan ditanya oleh guru. Pertanyaan guru tentang dua warna primer yang dicampur akan menjadi warna sekunder, bisa dijawab oleh Iffa. Pada saat yang sama banyak teman sekelasnya yang masih bingung menjawab, apa warna yang dihasilkan dari pencampuran kuning dengan biru, atau merah dengan biru. Masya Allah..

Kelebihan Iffa biasanya saya stimulasi dengan banyak membacakan buku. Buku apapun. Mulai komik, majalah, buku Ensiklopedia Bocah Muslim, sampai dengan buku yang bisa bercerita sendiri karena dilengkapi e-Pen. Jika sudah begitu Iffa betah berlama-lama membaca buku. Selain membaca saya juga mencoba menstimulasi dengan berbagai permainan. Main tebak gambar, puzzle, mencocokan gambar, sampai permainan flash card. Tidak hanya itu, saya juga terkadang meminta Iffa membacakan buku untuk adiknya. Biasanya buku yang sudah pernah saya bacakan sudah Iffa hafal luar kepala.

Selain membaca, Iffa juga senang sekali menggambar. Baik di buku, di tembok, bahkan di tubuh adiknya. Sambil menggambar, mulut kecilnya tak pernah diam. Selalu bersuara. Kadang bernyanyi, lain waktu menghafal Hadits, tak jarang pula menghafal dialog dari sebuah film yang pernah dilihatnya. Masya Allah, Iffa walau tak pernah dipaksa menghafal, dengan senang hati dia mengingat semua itu. Waktu yang biasa saya gunakan untuk Iffa menghafal adalah saat sedang bermain, sebelum tidur malam dan saat Iffa sedang menggambar atau mewarnai. Tiga moment itu cukup efektif menurut saya.

Hal lain yang saya gunakan untuk menstimulasi Iffa adalah, dengan memberi tauladan. Ya, saya mencontohkan pada Iffa. Setiap ba’da Subuh atau ba’da Maghrib, selalu menyempatkan diri membaca Al Qur’an walaupun hanya satu atau dua lembar. Saat sedang menemani bermain, saya kerap mengulang hafalan. Baik hafalan saya sendiri maupun hafalan Iffa. Jika sudah demikian, Iffa akan terpacu semangatnya untuk sama-sama mengulang hafalan.

Satu hal yang membuat saya agak gemas, adalah kebiasaan Iffa mengulang hafalan tidak pada tempatnya. Seringkali Iffa mengulang hafalan Al Qur’an saat dia sedang duduk di kloset. Beberapa kali sudah saya jelaskan, sebaiknya mengulang hafalan di luar kamar mandi. Saya jelaskan juga adab di dalam kamar mandi sebaiknya bagaimana. Biasanya Iffa berhenti beberapa menit, selebihnya suara Iffa sudah terdengar lagi. Satu tugas buat saya, bagaimana menghilangkan kebiasaan ini.

Merujuk pada multiple intelegence, bahwa kecerdasan tidak harus selalu melihat pada hasil akademik. Saya mulai mencari informasi mengenai kecerdasan yang dimiliki oleh Iffa dan Rif’an. Jika saya amati, Iffa senang dengan music, lagu, mewarnai dan menggambar. Tak suka menulis huruf atau angka memenuhi bukunya. Tak juga suka meniru barisan bentuk kotak-kotak sesuai anjuran ibu Guru di sekolah. Melihat buku kegiatan di sekolah, tampak full pada bagian menggambar, mewarnai. Tapi hanya separuh isi untuk menulis angka, huruf, dan bentuk.

Motorik kasarnya juga belum terasah dengan baik. Iffa tak berani naik jarring laba-laba. Meniti jembatan kayu atau sekedar naik-naik bangku. Tapi jika sudah berhadapan dengan crayon dan buku gambar, Iffa tak bisa diganggu. Jika sudah membaca buku, Iffa tak mau beranjak. Agaknya Iffa termasuk cerdas dalam hal auditori dan visual. Sementara adiknya lebih kinestetik. Cenderung tak bisa diam. Bergerak dan bergerak terus, kecuali sedang tidur.

Prestasi Iffa yang membahagiakan saya adalah, hafalan Juz 30 sudah cukup banyak. Doa sehari-hari juga sudah hafal dan rutin dibaca. Satu hal lagi, hafalan bacaan sholat dari takbir sampai tasyahud sudah hafal luar kepala. Untuk hal bacaan sholat, Iffa hafal karena di sekolah dan di rumah biasa sholat berjamaah. Bacaan sholat dibacakan dengan kencang sehingga Iffa bisa mendengar dengan jelas.

Reward yang saya berikan untuk prestasi Iffa biasanya tidak melulu dalam bentuk materi. Kadang saya berikan pelukan, kecupan lembut dikepala atau menggendong di punggung. Jika ada dana lebih, saya belikan alat menggambar atau plastisin. Tak jarang juga sekotak susu UHT sebagai hadiahnya. Berbeda dengan hadiah yang biasanya saya berikan, Iffa merujuk film “Hafalan Sholat Delisa” saat dia sudah hafal bacaan sholat.

Awalnya sempat bimbang. Akhirnya hadiah saya pending sampai Iffa usia lulus sekolah dasar. Saya jelaskan bahwa perhiasan emas kurang baik jika digunakan anak kecil. Misalnya: hilang, dicuri orang, bahkan anak kecil bisa diculik karena menginginkan emas yang digunakan. Alhamdulillah Iffa mengerti. Hadiah kalung emas berleontin inisial namanya bisa digantikan sementara dengan sekotak plastisin beserta cetakan ice cream atau boneka yang bajunya bisa bongkar pasang.

Melihat kondisi Iffa dalam hal daya ingatnya, tak mau saya sia-siakan pemberian Allah ini. Setiap saat, stimulasi tetap saya berikan. Tak pernah juga memaksa Iffa untuk serius menghafal. Biarlah masa bermain tetap dirasakan bermain tanpa adanya paksaan. Tanpa dipaksa Iffa akan mengulang hafalannya sendiri. Sesekali saja saya tambahkan hafalan baru. Sambil menjaga hafalan yang sudah ada, agar jangan sampai lupa.

Banyak hal positif untuk anak yang daya ingatnya baik. Tapi hal negatifnya juga ada. Satu saat saya kaget mendengar Iffa bernyanyi lagu dangdut “Kemana” dari penyanyi Ayu Tingting. Sambil bergoyang Iffa asyik bernyanyi ditemani adiknya. Entah dari mana anak-anak mendengar lagu tersebut. Setelah sempat bertanya pada Ibu dan Eyang di rumah, barulah saya tahu. Lagu itu sering dinyanyikan teman bermain di sekitar rumah.

Kali kedua, saat saya dan Ibu sedang membuat peyek kacang dan peyek udang rebon untuk camilan. Tiba-tiba saja Iffa dan Rif’an bernyanyi “Iwak Peyek”. Kali ini saya yakin, selain dari teman mainnya, anak-anak mendengar dari iklan di televisi. Karena beberapa kali saya sempat mendengar lagu tersebut menjadi jingle iklan dari salah satu minuman energy yang sering ditayangkan di kotak ajaib.

Selain dua lagu ajaib di atas, kata-kata kasar dan aneh yang anak-anak dengar juga mudah sekali mereka ingat. Pernah Iffa bertanya pada saya tentang arti kata (maaf) berengsek, bajingan, kurang ajar. Awalnya saya kaget dan bingung harus menjawab apa. Yakin kata-kata tersebut mereka dari lingkungan. Bisa dari teman, dari tayangan televisi, atau dari lainnya. Akhirnya saya katakan bahwa kata-kata tersebut tidak baik diucapkan. Allah tidak suka dengan kata-kata yang tidak baik. Allah lebih suka dengan kalimat toyibah, yang jika diucapkan mendapat pahala.

Proses untuk menghilangkan atau menggantikan bad memory tersebut adalah bukan hal yang mudah. Saya butuh berhari-hari bahkan hampir sebulan untuk menggantikan kedudukan dua lagu ajaib. Belum lagi kata-kata aneh dan kasar. Saya butuh waktu lebih lama. Bukankah kerja otak lebih suka dengan kualitas yang baik, seperti warna yang indah, suara yang bagus, dengan frekuensi berulang serupa dengan kerja televisi. Pada awalnya memory akan tersimpan di otak sadar, tapi jika terus berulang dalam waktu yang cukup lama. Maka bukan tidak mungkin memory tersebut akan tersimpan di otak bawah sadar. Jika hal ini terjadi tentunya untuk menghapus, mengganti bahkan menghilangkan memory tersebut sangatlah sulit.

Iffa mempunyai sifat cepat bosan. Jika dia sudah mengetahui satu hal, maka tak mau lagi untuk membahas hal tersebut. Misalnya, proses terjadinya hujan. Pertama kali Iffa bertanya tentang hujan, dia sangat bersemangat. Tapi begitu tahu penjelasan proses terjadi hujan, hal tersebut tak lagi menarik hatinya. Terus mencari hal lain, hal yang baru. Butuh ketrampilan dan pembelajaran yang tak henti untuk menghadapi anak cerdas. terkadang beberapa pertanyaan Iffa saya tunda untuk menjawab. Khawatir jawaban yang diberikan salah. Mbah gugel cukup membantu untuk menjawab pertanyaan Iffa. Ditambah lagi setumpuk buku ensiklopedia, plus tafsir Al Qur’an sebagai sumber ilmu nomor satu.

Hal yang saya lakukan untuk selalu menjaga kondisi yang kondusif adalah dengan cara kerjasama yang baik antara saya, suami, dan seluruh keluarga yang terlibat. Kami semua harus kompak dalam membuat dan mematuhi aturan yang dibuat. Missal: acara menonton tivi dibatasi sehari hanya dua jam, tidak boleh lebih. Sebisa mungkin ada kegiatan membaca. Baik membaca keras yang dilakukan saya, suami, nenek dan eyang. Atau kegiatan lainnya yang positif. Seperti mewarnai, menggambar, bermain lego, bongkar pasang balok, bermain puzzle, atau aktifitas yang membuat anak bergerak dan tak memilih menonton tivi. Bukan hanya tayangan yang kurang mendidik, bahkan iklan pun jauh dari nilai mendidik untuk anak-anak.

Selain tauladan, aturan, kekompakan, maka konsistensi harus tetap terjaga. Punish dan reward bisa juga diterapkan. Tapi untuk usia sebelum tujuh tahun pusnishment rasanya masih agak sulit diterapkan. Cenderung mengedepankan reward atas prestasi. Reward tak selalu hadiah yang mahal. Cukup senyum, pelukan, dan kata-kata yang menyenangkan kadang sudah cukup membuat hati anak-anak senang atas penghargaan prestais mereka. Walau bisa saja ada moment khusus yang bisa kita berikan berupa hadiah.

Satu hal terakhir yang saya rasa cukup penting adalah doa. Ya, doa orangtua untuk anak-anaknya. Bukankah amanah yang Allah berikan berupa anak harus dijaga sebaik mungkin? Maka kekuatan doa merupakan kekuatan penutup yang sangat penting dibandingkan hal sebelumnya di atas.

Mempunyai anak cerdas adalah anugrah, sebagai orangtua saya mempunyai kewajiban untuk menjaga amanah dari Allah dengan sebaik-baiknya. Termasuk untuk mengolah kecerdasan anak sehingga bermanfaat untuk dirinya, untuk lingkungannya, juga untuk agama dan bangsanya, kelak. Jangan sampai kecerdasan anak disalahgunakan saat dewasa. Kecerdasan yang diharapkan adalah kecerdasan yang mencakup semua, intelegensi, social, emosional, dan spiritual.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s