krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Games untuk anak boleh, tapii..

Tinggalkan komentar

Niatnya nulis tentang hobby baru Rif’an (5thn) yang membuat saya sedikit pusing. Pastinya pusinglah. Rif’an kalau sudah bertemu dengan gadget, bisa asyik berlama-lama main games. Padahal di rumah, nggak punya gadget high tech. HP saya jadul, laptop yang cepet panas kalau kelamaan dipakai, dan ibu yang gaptek untuk urusan games. Lengkap sudah..

Ini nih, pencetus masalahnya. Satu saat, suami ganti HP karena yang lama sering error. Memilih sebuah HP layar colek, yang murah meriah. Fiturnya lumayan banyak, bisa download games juga. Begitu sampai rumah, krucil heboh dengan HP baru ayahnya. Bener banget, langsung saja Rif’an mahir main games dalam waktu singkat.

Sebagai Ibu yang gaptek, saya paling malas kalau urusan nge-games. Permainan apapun yang ada di kompi, HP dan PSP, satupun saya nggak bisa. Pernah juga minta diajari anak-anak caranya. Tetap nggak mudeng. Yo wis, makin malaslah urusan game-game itu.

Nah, kejadian deh. Pas saya mau memindahkan foto-foto dari HP, semua gambar langsung disimpan di kompi. Masih nggak ngeh isinya apa aja. Begitu satu-satu dibuka, niat ngedit foto. Walah, kaget. Ketemu gambar-gambar dari games yang tidak pantas dilihat anak-anak. Makin geregetan, dengan sekali klik “OK” games tersebut bisa langsung di download. Permainannya bongkar pasang baju. Jadi gambar perempuan dengan pakaian minim, bisa diganti2 bajunya. Yang sangat disayangkan kenapa itu gambar musti begonoo. *malu mau share ke sini gambarnya. Auratnya terlihat jelas. Duh, nyesel banget kenapa baru ngeh. huhuhu..

Beneran deh, games banyak minusnya daripada plusnya.

Minus:

  • Konsentrasinya nggak mau beralih dari layar HP (games) yang sedang dia mainkan.
  • Kalau diganggu bisa panjang kali lebar nangisnya, jadi emosian. Apalagi kalau pas kalah. Wedew, kanan kiri kena imbasnya.
  • Sampe lupa aktifitas lainnya, bahkan pernah nahan buang air kecil (walau nggak sampai ngompol). Padahal bisa di pause kan? Aneh deh, krucil.
  • Imajinasinya seputar games aja. Disuruh gambar, pasti gambarnya selalu yang ada di games.
  • Sereeem, ternyata ada sekilas info yang diluar pemantauan orangtua. Mengarah ke pornografi. Gambar kartun wanita dengan pakaian, begitu deeeh..
  • Bikin anak males baca buku.
  • Bikin anak males bergerak.
  • Bikin anak, males ngapa-ngapain…

Plusnya:

  • Nggak berasa nasi sepiring dah abis. Biasanya kalau saya suapin, Rif’an pasti ngitungin. “Lima suap aja ya, Bu” dan nggak pernah lebih.
  • Nggak khawatir dia nyungsep karena hobinya manjat lemari dan berdiri di pinggiran kursi atau keseleo karena jungkir balik.
  • Nggak main ke tengah jalan yang banyak motor edan (ngebut).

Akhirnya saya coba mengalihkan dunia games Rif’an. Tentunya dengan hal yang dia minati juga. Nggak jauh-jauh dari pesawat tempur, tank, traktor, dan tema cowok banget lainnya.

Yes! Berhasil, berhasil. Hore! *kok kayak Dora.

Rif’an sedikit demi sedikit kembali ke buku. Saya harus rutin membaca keras, menjelaskan, menceritakan dengan gaya bahasa yang menarik perhatiannya. Sekali baca bisa 5 sampai 7 buku. Lumayan kering deh, tenggorokan. Demi mengalihkan dunia games Rif’an ke buku.

Sekarang, apa sudah STOP nge-games. Masih sih, walau tidak separah dulu. Games di HP yang banyak disisakan tiga saja. Cabut gigi, mewarnai, dan pesawat tempur. Selain itu, dihapuus. Games lain saya coba tawarkan AKAL interaktif. Mengajak anak belajar sambil bermain. (ini bukan iklan)

Penting untuk di jalankan oleh kami (saya dan keluarga), adanya aturan yang dibuat.

  1. Boleh main games kalau libur sekolah, sehari hanya 1-2jam.
  2. Games harus lulus sensor Ibu-Ayah.
  3. Saat mereka main, harus didampingi pula. Nggak dibiarkan main games asyik sendiri. Apalagi bisa download sana sini. Bahayaaa.
  4. Terlibat dalam kegiatan anak-anak. Jangan hanya duduk manis mainan HP sementara anak-anak sibuk main. Tapii, ikutan main. Ikutan mewarnai, menggambar, main becek-becekan atau hujan-hujanan sekalian.
  5. Buat aktifitas lain, sehingga anak-anak tidak nge-games terus; Indoor: menggambar, mewarnai, praktek sains, kreasi gunting tempel, banyak praktek dari buku kreatifitas. Outdoor: main bola, bersepeda, lari-larian (adu lari sama emaknya, pasti menang deh krucil)

Banyak deh, aktifitas yang bikin mereka nggak kepikiran nge-games.  Sekarang, televisi banyakan nganggur. Laptop sekedar emaknya buka email, blog, fb-an (itu juga niat jualan online dan belajar nulis). Nge-games bisa dihitung seminggu sekali.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s