krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Kidzania, we’re coming..

2 Komentar

Hari yang ditunggu Ifa tiba. Yup, 16 November 2013. Bukan, bukan hari ultah siapapun. Tapi hari ini jadwal study tour kelas 1-3 SD AHIS. Pagi ini Ifa bangun lebih awal. Tak seperti biasanya yang agak susah dibangunkan. Mandi pagi, sarapan, sigap diselesaikan dalam waktu singkat. Nggak pakai “entar-entar”. Pukul 6.20 berempat ke AHIS. Ayahnya yang nyetir, saya dan dua krucil duduk manis.

Sampai di lapangan badminton sudah ramai. Enam bis berjejer parkir, sepanjang pinggir jalan.  Belum lagi antrian mobil yang mengantar siswa. Penuh. Saya dan Ifa masuk dalam barisan siswa kelas 1. Pegel juga ya, menunggu keberangkatan. Akhirnya, kami berangkat pukul tujuh. Rif’an melihat ramainya siswa yang akan berangkat, jadi ingin ikut juga. Merengek, ujung-ujungnya Huaaa… nangis deh.

Sepanjang perjalanan di bis, saya tak mau menyia-nyiakan waktu. Maksudnya, ngobrol dengan Ifa sepuasnya. Tanpa rebutan dengan adiknya, minta didengar lebih dulu. Moment emak dan anak gadis.

“Ibu, kalau nanti di kidzania aku boleh main semuanya?”

“Boleh dong. Kakak mau main apa? Di sana ada miniatur profesi loh?”

Saya jelaskan tentang kota kecil kidzania. Ada jalanan, gedung, mobil, taksi, rumah sakit, pesawat, pabrik coklat, roti, sampai dengan arena balap mobil ada. Ifa berbinar begitu mendengar  “Bisa berperan sebagai apapun yang dia mau”.

“Berapa jam lagi kita sampai, Bu?” tanya Ifa. Mulai terlihat tak sabar.

“Sebentar lagi, Kak.”

Sampai di Pacivic Place Mall pukul delapan pagi. Weleh, kepagian. Belum pada buka. Turun dari bis beriringan masuk ke dalam mall. Menunggu kesiapan Om & Tante dari Kidzania, lagi-lagi anak-anak diminta berbaris. Lumayan banyak. Gelap pula, plus rame seperti suara lebah.

Hampir setengah jam menunggu, akhirnya muncul deh, si om dan tante dari Kidzania. Memasang gelang merah di tangan anak-anak dan ibu/bapak yang mengantar. Ternyata gelangnya dibedakan berdasarkan usia. Ada tiga jenis gelang; untuk 4-16 tahun, lebih dari 16 tahun dan kurang dari 4 tahun.

Setelah gelang terpasang, kami menuju lantai enam. Lokasi kidzania berada. Toko-toko masih banyak yang tutup. Sepii. Begitu di depan pintu kidzania, ternyata sudah berderet antrian. Wedew, pengunjungnya lumayan padat. Ngantri lagii.. (sambil sesekali lirik ke lantai satu, ihh mendadak pusing)

Alhamdulillah akhirnya masuk juga. Sampai di dalam, saya bingung mau ke mana. Ifa dan kelompoknya sudah berjalan lebih dulu. Saya dan Ibu Mia mencoba mencari posisi anak-anak. Saya mencari Ifa, sementara Bu Mia mencari kelompok Ferrel. Yo wis, saya ngawal kelompok Ifa saja.

Dua belas siswa kelas satu (termasuk ifa) di bawah pengawasan Bu Aini. Bagian atas, ada beberapa wahana. Ada pembuatan nugget dari belfood, coklat dari silferqueen, apotek dari dexa. Kemanapun harus ngantri. Akhirnya dipilihkan Apotek, karena anak-anak ada yang bercita-cita jadi dokter. Ya, agak nyambunglah (maksa).

Delapan anak masuk ke ruangan, memakai masker, jas lab, siap meracik obat. Mulailah mereka menulis etiket di bungkus puyer. Tulis nama dan jenis obatnya. Selanjutnya mereka mengambil 10 butir tablet parasetamol (mainan). Menggerusnya dengan mortar dan pestle. Anak-anak juga diajari cara memegang alat penggerus, membagi menjadi tiga bagian, kemudian memasukkan kedalam bunkus puyer. Senyum anak-anak cerah, begitu mereka menunjukkan puyer hasil kerjanya. Selesai meracik puyer, mereka menerima lembaran KIdzo (mata uang kidzania). Layaknya apoteker yang gajian. Image

Lanjut.., masuk dalam pancarian mata air di wahana air mineral Aqua. Kami orangtua tidak bisa ambil foto, karena letaknya tertutup. Hanya bisa melihat dari layar di luar ruangan. Ngga cocok buat emak-emak yang parno kayak saya. Lama pula, 25 menit anak-anak di dalam ruangan. Mereka di bagi dua kelompok, ditugaskan mencari sumber mata air yang jernih. Kelompok yang menemukan dialah pemenangnya. Bonusnya, segelas air mineral dan Kidzo.

Sampai sini, kepala saya mulai pusing. Bingung mau pilih permainan apa. Semua wahana antriannya mengular. Hanya satu yang sepi, kami pikir di sana tempat antrian pemadam kebakaran, ternyata salah. Wahana konstruksi yang sepi pengunjung itu benar-benar membuat anak-anak bosan.

Mereka hanya menyusun balok (mirip batako), menjadi dinding bangunan. Menaikkan kotak berisi bata dari lantai dasar ke lantai dua. Just it. Boring, terlihat jelas dari wajah anak-anak yang sebentar-sebentar melirik ke wahana semprot-semprot dari pemadam kebakaran. (lupa ngga ambil foto)

Sudah menjelang dzuhur, kamipun istirahat. Anak-anak naik ke tempat makan dan sholat. Sementara orangtua yang mengantar kudu nyari (beli) makanan sendiri. Ih, curang amat. Nggak sekalian dipesenin makan. Baiklah, ketemu lagi sama ayam kriuk dan nasi. Tanpa sayuur.

Selesai makan, maunya sholat. Walah, tempat wudhu terbuka. Cuma dua kran pula, dempetan dengan tempat wudhu kaum adam. Saya bingung gimana caranya biar aurat ngga terlihat kemana-mana. Repoot.  Mau sholat, ngantri lagii. Sempit, untuk ukuran arena bermain seluas ini. Habis sholat kayak habis olahraga. Kelelahan ngantri.

“Oke deh, kita mulai lagi. Mau kemana Kak?” tanya saya begitu kami selesai sholat.

Ifa sudah terpisah dari kelompoknya. Crowded banget. Bingung di mana posisi guru pendampingnya. Alhamdulillah saya ikut. Kebayang deh, kalau Ifa sendirian terpisah dari kelompok. (mulai parno lagi dah)

Antri sana-sini, akhirnya maksain antri di wahana pemadam kebakaran. Lamaa banget ngantrinya. Mainnya cuma beberapa menit. Sebentar banget.

Image

Mau ngantri tempat lain, yang kosong hanya tempat medical check up untuk buat sim. Baiklah.., kita buat sim dulu untuk Ifa. Biar bisa naik mobil, nyetir sendiri. Selesai bikin SIM, mau antri naik mobil. Fullbooked.

Masih satu jam lagi, giliran Ifa minta naik pesawat. Cita-citanya nggak berubah juga. Pengen jadi pilot atau pramugari. Saya gandeng Ifa dan Sausan, duduk manis nunggu antrian naik pesawat. Dah hampir setengah jam antri. Ternyata wahana sudah cycle terakhir. Idih.. napa nggak bilang dari tadi, Om. Tau gitu krucil bisa naik bis mini, muter-muter kota Kidzania.

Jam stengah dua, berkumpul lagi dengan rombongan. Saya belikan Ifa popcorn itung-itung menghibur rasa kecewa sudah antri capek tapi nggak jadi main.

Anak-anak, memang nggak ada capeknya. Sepanjang perjalanan pulang, mereka masih saja main, becanda sama temannya. Sementara ibu-bapak yang nganter pules.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

2 thoughts on “Kidzania, we’re coming..

  1. ada minimal usia ga sih bun kalo mau main ke kidzania? anakku baru 2 tahun..

  2. ada aturan usia seingat saya. kurang dari 4 thn, 4-16 thn, > 16thn. soalnya banyak permainan yang anak dibawah 3thn ngga bisa ikutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s