krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Kentang Imut Harga Jumbo

2 Komentar

Liburan semester genap tiba. Senior  Pecinta Alam di Kampus mengajak saya mendaki Gunung Slamet. Teringat akan dana sisa di rekening tabungan. Rasanya tak mungkin untuk bergabung. Belum pernah bepergian dengan dana mepet seperti ini. Tak mau juga nantinya harus jadi gembel di tempat asing.

Saya menolak untuk ikut, tapi tak digubris. Mala, salah satu teman seangkatan yang semangat 45 mengajak saya, “Ayo ikutan, Lis. Belum tentu setahun sekali, bahkan selama kita kuliah belum tentu dapat kesempatan emas kaya gini,” begitu dia mengompori, dan berhasil.  Akhirnya saya ikut juga.  Pulang ke rumah berpamitan pada kakak, plus packing. Minta izinnya hendak liburan di kampung teman.  Jangan berfikir saya akan diizinkan jika jujur, hendak mendaki Gunung.

Walau terkenal tomboy, keluarga tetap melarang saya ikut kegiatan yang memacu adrenalin, termasuk naik Gunung. Hanya pada satu orang kakak, saya jujur pamit. Dia sempat kaget, heran, plus melarang. Tau isi kantong saya tak lagi tebal, plus di kampung orang nantinya malah menyusahkan.

Taraa, di sinilah kami. Berangkat dari terminal Pulogadung. Menumpang bis kelas ekonomi, tanpa AC, toilet, music. Benar-benar ekonomis. Kami duduk di deretan paling belakang. Berjejer memenuhi bangku yang sedianya cukup untuk enam orang. Penumpang tidak penuh dengan bebas saya berpindah tempat. Memisahkan diri dari teman-teman. Mencari posisi lebih nyaman untuk mendengkur.

Tiba di terminal Purwokerto setengah enam pagi. Menumpang mandi di toilet terminal yang baunya tujuh rupa. Menyempatkan diri sholat Subuh di sekitar terminal. Subuh kesiangan. Tiba-tiba Mala mengajak saya berkeliling di pasar Purwokerto. Awalnya saya belum faham kemana tujuan kami.Ternyata tujuan Mala adalah sebuah toko emas, yang baru saja buka. Mala menjual kalung emas yang masih melingkar di lehernya. Demi menambah dana kolektif yang minim. Saya sempat kaget.

“Ngga apa-apa Lis. Emas ini memang untuk dijual. Khususnya jika butuh dana darurat. Udah, ngga usah merasa ngga enak begitu deh. Dana kita sekarang cukup sampai ongkos kembali ke Jakarta.”

Mendengar penjelasan Mala, saya merasa agak tenang. Walau awalnya sempat merasa bersalah. Secara langsung saya membebani teman-teman secara financial untuk perjalanan kali ini. Sudah tak bisa mundur, saya harus melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dilanjutkan. menurut mbah gugel, gunung Slamet dapat didaki melalu tiga jalur. Lewat jalur sebelah Barat Kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden dan lewat jalur sebelah timur Bambangan. Desa terakhir sebelum kami mendaki bernama Bangbangan. Itulah sebab di kenal dengan Jalur Bangbangan. Senior memilih jalur ini, karena Bangbangan adalah jalur tercepat dibandingkan dua lainnya. Hanya butuh enam sampai tujuh jam bisa sampai di puncak.

Sebelum pendakian dimulai, kami beristirahat di pondok pendaki. Sempat mencicipi masakan sederhana tapi nampol. Nasi liwet hangat, tumis kangkung, teri goring kering, plus sambal mentah yang super pedas. Saya menemukan tumpukan kentang bayi (saking imutnya itu kentang). Meminta sebungkus plastic, untuk dibawa sebagai bekal pendakian.

Senior mempersiapkan kembali logistic yang dibutuhkan, termasuk membawa beberapa jerigen air bersih. Saya kebagian membawa carrier berisi sleeping bag, jaket, makanan kering dan tenda doom. Cukup ringan jika dibandingkan dengan beban senior. Terbayang memanggul air bersih ke puncak bahkan sampai turun kembali.

Pendakian memakan waktu hampir tujuh jam. Sempat bermalam di Plawangan sebelum mendaki puncak Gunung Slamet. Menyimpan semua perbekalan di Plawangan, masing-masing hanya berbekal satu botol air di kantung celana lapangan. Sempat bernarsis ria saat kami sampai di puncak. Tapi tak lama, karena gas beracun akan naik menjelang sore.

Menuruni gunung Slamet, lebih cepat dari mendaki. Sebab sebagian besar beban sudah berkurang. Termasuk berjerigen air bersih dan logistic. Sebagian beban saya dipindahkan ke senior. Tiba di pondok pendaki hampir Maghrib. Saat bermalam, kami bercerita sepanjang pendakian.

Jam delapan pagi, sebelum berpamitan. Kami menyelesaikan pembayaran ke pondok. Khususnya untuk makanan, air bersih, dan hal lainnya. Terkaget dengan jumlah yang harus dibayar. Tak terbayang jumlahnya begitu besar. Hampir mengabiskan dana yang tersisa. Terpaksa kami harus membayar. Mungkin karena senior adalah kereta uap yang tak henti merokok. Mungkin juga harga kentang imut yang saya bawa mendaki. Entahlah.

Senior sempat membesarkan hati kami, terutama saya. Beberapa saat kami terkatung-katung di Terminal Purwokerto. Rasa haus dan lapar mulai menyiksa. Tak layak saya merengek minta dibelikan makan. Semua berfikir, bagaimana caranya bisa pulang ke Jakarta. Awalnya ada usulan hendak menumpang truk yang akan mengirim barang ke Jakarta. Tapi senior tak ingin membahayakan dua perempuan. Saya dan Mala. Jika harus berlompatan turun naik menumpang truk.

Kami duduk melingkar, menghitung semua dana yang terkumpul. Pulang langsung ke Jakarta ongkosnya tidak cukup. Hanya cukup sampai ke Cirebon. Hampir jam sepuluh malam, belum satupun keputusna dibuat. Beberapa kali menghubungi teman di sekitar purwokerto tapi belum ada jawaban. Akhirnya salah satu senior berinisiatif menelpon salah satu rekannya yang sedang mudik ke Cirebon. Alhamdulillah, kak Rere ada di tempat.

Sampai di Cirebon kami disambut hangat oleh keluarga kak Rere. Masalah kesulitan biaya pulang kami sampaikan. Om Pandu (ayah kak Rere) menanggapi dengan tenang. Beliau sempat bercerita, bahwa pernah saat backpacker ke Amerika mengalami kehabisan dana. Hal sama seperti yang kami alami sekarang. Jika saat itu Om pandu ditolong seorang warga negara Amerika. Sekarang saatnya kamilah yang harus ditolong beliau. Begitu Om Pandu menjelaskan.  

Lega rasanya, tak jadi gembel di terminal Purwokerto. Mendapat tempat menginap yang nyaman, makanan yang lezat, plus binatu. Semua gratisan. Bahkan berbonus uang ongkos sampai Jakarta. Berbanding terbalik dengan kondisi kami saat kebingungan di terminal Purwokerto. Duduk di emperan mushola, menahan dingin, haus dan lapar. Sambil tetap berhati-hati terhadap orang yang berniat kurang baik.

Banyak hal yang saya petik dari perjalanan selama lima hari ini. Salah satunya adalah kesiapan secara financial, itu perlu. Tapi lebih penting lagi, saat melakukan transaksi apapun, sebaiknya tau harga yang akan kita bayar. Agar tidak over budget dari anggaran yang kita sediakan. Jika ditanya, apakah saya kapok? Jawabannya, tidak. Saya mendapatkan pelajaran berharga. Berlaku hukum aksi reaksi. Bahwa aksi pertolongan yang kita lakukan, pastinya Allah akan membalas di saat lain. Saat kita butuh pertolongan orang lain, Allah akan ulurkan pertolongan dari arah tak terduga.  

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

2 thoughts on “Kentang Imut Harga Jumbo

  1. Hi jeng..melanjutkan silahturahmi disini yah …
    hmm pecinta alam ternyata dirimu…
    ok will follow blognya biar gampang dapat updatenya soalnya sama sama wordpressnya

  2. wah, sudah mampir ke mari. makasih, mbak. blognya masih sepi begini, maklum saja.. pemula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s