krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Orang Baik itu, Masih ada..

Tinggalkan komentar

Pukul tiga dinihari, saya dijemput driver kantor. Mengejar pesawat paling pagi menuju kota yang belum pernah saya kunjungi, Balikpapan. Berbekal daypack berisi dokumen pekerjaan, mukena plus kompas kecil, sebatang coklat, snack, dan tumbler berisi teh manis. Sholat subuh akan dilakukan di mushola ruang tunggu keberangkatan Bandara Sukarno Hatta. Diniatkan juga setelah sholat, harus menyempatkan tilawah beberapa halaman. Ini wajib saya lakukan, sebagai bekal ruhani selama perjalanan nanti.

Adalah saya yang diberi tugas kantor untuk melakukan verifikasi kepada pihak user. Tugas dan tangung jawab sebagai supporting divisi teknik adalah menjelaskan dokumen teknis. Hal ini berkaitan dengan laboratorium akreditasi pihak ke tiga yang akan kami gandeng (third party). Perjalanan kali ini tidak sampai menginap. Jadwal verifikasi sepuluh tigapuluh, setelah selesai langsung kembali terbang ke Jakarta. Berharap dengan sangat, semoga penerbangan tidak delay seperti biasanya.

Hari itu, hanya saya yang dikirim bertugas. Tak seperti biasanya, pengiriman tugas keluar kota selalu rombongan kecil, dan saya sering ada diantara mereka.  Mirip anak kehilangan induknya. Tapi berusaha percaya diri. Takut ada orang jahat mengintai. Ini efek paranoid kebanyakan melihat berita kejahatan di media.

Sambil menunggu boarding, saya mengamati sekeliling. Wajah penumpang rata-rata mirip Chinese. Apa Balikpapan banyak Chinese ya? Entahlah. Di hadapan saya pun duduk seorang bapak berstelan jas, lengkap dengan dasinya. Asyik menerima telpon dengan bahasa mandarin. Sempat terdengar bapak itu berkata “Ni Hao Ma?” satu kalimat yang artinya apa kabar? Pernah saya dengar dari teman kerja yang mahir berbahasa mandarin.

Pesawat berangkat jam tujuh kurang lima belas menit. Seiko kinetic saya ubah satu jam lebih awal. Balikpapan masuk WITA, beda satu jam dari Jakarta. Khawatir saya lupa, bisa berakibat terlambat menghadiri verifikasi. Penerbangan memakan waktu 1 jam lebih. Perkiraan sampai di bandara Sepinggan sekitar jam sepuluh pagi. Alhamdulillah, penerbangan on schedule. Doa pagi tadi dikabulkan.

Sampai Bandara Sepinggan jam sepuluh lewat. Keluar dari bandara, saya agak bingung sejenak. Banyak taxi yang menawarkan diri untuk mengantar. Berbekal informasi dari teman kerja yang langganan bertugas ke Balikpapan, saya memilih menuju loket taxi resmi. Membayar tiga puluh ribu, untuk mendapatkan karcis naik taxi. Lokasi yang ditempuh cukup dekat, begitu informasi dari pihak loket.

Sepanjang perjalanan menuju kantor TOTAL E&P, pak supir sangat ramah bercerita. Layaknya guide pariwisata. Pak Ahmad menjelaskan adat kebiasaan suku Dayak. Makanan khas dan kerajinan tangan yang wajib di bawa sebagai oleh-oleh saat saya pulang nanti. Andai semua supir taxi seramah ini, alangkah nyamannya. Pak Ahmad tidak seperti supir taxi yang tidak bertanggung jawab di Ibukota. Melakukan penipuan terhadap penumpang, khususnya pendatang. Berjalan berputar-putar sebelum sampai ditujuan. Padahal jarak normalnya dekat.

Hampir lima belas menit, sampailah saya di kantor TOTAL E&P Indonesie. Kantor tersebut ada di gedung BRI jalan Jendral Sudirman Balikpapan. Agak grogi masuk ke dalam gedung tersebut. Sampai dalam gedung saya bertanya kepada security untuk menunjukkan di mana tempat verifikasi. Selama ini tidak pernah berhubungan secara langsung dengan customer atau calon customer perusahaan tempat saya bekerja. Jadi cukup dimaklumi, jika saya agak demam panggung.

Urusan verifikasi berlangsung singkat. Menjelang makan siang, agenda sudah selesai. Tugas saya pun selesai sebagai utusan kantor. Berjalan keluar gedung sambil berfikir, saya pulang naik apa? Bodohnya, tadi pagi lupa mencatat nomor telpon taxi bandara. Bodohnya lagi, pulsa di HP saya minim. Tak bisa menghubungi teman. Ah, masih punya jurus andalan. Bertanya, dengan itu saya tak mungkin tersesat.

Saat menunggu taxi di pinggir jalan, saya bertemu dengan mba Dian. Salah satu karyawan TOTAL E&P yang barusaja bertemu di ruangan verifikasi. Sempat say hello dan bersalaman. Lagi-lagi saya lupa bertanya kepada mba Dian. Bagaimana menuju bendara untuk pulang. Akhirnya saya memutuskan berjalan kaki, menyusuri trotoar jalan Jendral Sudirman. Tak sempat bernarsis ria. Menyesal tak bawa kamera. Hanya sempat mengambil gambar Museum Nasional, itu pun dengan HP jadul nokia seri 6111.

Image

Lelah berjalan, saya berhenti sejenak pada warung kecil di pinggir jalan. Meneguk aqua dingin, sambil bertanya rute angkutan umum menuju Bandara Sepinggan. Mengusap peluh yang mulai membasahi wajah, dengan ujung lengan baju. Ini salah satu kebiasaan buruk saya, sering lupa bawa tissue kering atau basah.

Menjelang dzuhur, saya pergi ke Mall Balikpapan. Mencari buku bacaan dan membeli pulsa HP. Berharap bisa menemukan buku bagus, saya masuk ke Gramedia. Hampir setengah jam berkeliling akhirnya menemukan dua buku bacaan yang cukup menarik. Satu buku Karya Dee, lainnya karya Asma Nadia. Proses bayar di kasir selesai. Saya bergegas keluar. Hampir jam setengah satu siang, saya belum juga sholat Dzuhur.

Menuruni escalator dengan tergesa. Tangan kiri menenteng kantong plastic berisi dua buku baru. Sampai di lantai dasar, sepertinya ada orang yang memanggil. Saya menoleh ke belakang, tampak seorang pemuda setengah berlari mengejar saya. Astaghfirullah, teringat belum mengambil daypack di penitipan tas. Amnesia mendadak.

“Mba, maaf. Ini tasnya belum diambil. Kok sampai lupa?” tanya si petugas Gramedia, sambil menyerahkan daypack kepada saya.

Lumayan berat jika dibawa sambil berlari. Alhamdulillah, ternyata masih ada orang baik. Heran, kok petugasnya ngeh itu tas saya? Setelah mengucapkan terimakasih, saya sempatkan bertanya. Bagaimana si petugas mengetahui tas tersebut adalah milik saya. Jawabannya cukup cerdas. Dia bilang, pengunjung gramedia masih sepi saat jam kerja. Bisa dihitung dengan jari. Jadi dengan mudah dia mengenali pemilik barang titipan. Hebat.

Sebelum menyebrang jalan, saya mampir ke toko oleh-oleh. Membeli enam bungkus besar kuku macan, semacam krupuk ikan. Taraa, satu tas plastic besar berisi makanan khas Kalimantan. Selesai memburu penganan, kali ini saya tertarik membeli dua lembar tikar kecil anyaman bermotif masjid. Oleh-oleh ini special untuk suami dan ibu mertua.  Satu lagi, souvenir gantungan kunci dan manik-manik pembungkus pulpen saya beli satu lusin. Kalau ini oleh-oleh untuk teman ngaji.

Jam satu lewat, waduh. Keenakan belanja, jadi lupa waktu sholat deh. Belanja stop. Segera saya naik angkutan umum menuju pasar. Sampai di pasar saya turun. Supir angkot mengingatkan saya untuk naik angkutan umum dengan nomor yang benar menuju Bandara. Bahkan sampai memanggil supir angkot yang akan saya tumpangi. Menitipkan saya pada supir angkot ke dua. Berkali-kali dia berpesan,”tolong antar si adek ini ke Sepinggan ya, jangan sampai lewat. Kasian mau pulang ke Jakarta, dia,” duhai, baiknya si pak supir.

Dalam angkot saya bertemu dengan seorang Bapak bertampang seram. Menggunakan jaket kulit hitam membawa tas ransel agak besar. Lebih besar dari yang saya bawa.

“Mau ke mana dek?” si Bapak bertanya kepada saya.

“Ke Bandara pak, pulang ke Jakarta.”

Akhirnya kami mengobrol sepanjang jalan menuju bandara. Ternyata pak Heru bekerja sebagai staff di Badan Narkotika di Jakarta. Ah, ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Tadinya berfikir, bahwa pak Heru ini adalah gembong penjahat kelas berat. Ini efek kebanyakan nonton film mafia. Benarlah, don’t judge a book by cover. Bawaannya jadi suuzhan saja. Takut ini, takut itu.

Sampailah kami di Bandara Sepinggan. Turun dari angkutan umum, kami menyeberang. Pak Heru segera berpamitan, karena pesawat yang ditumpangi sudah mulai cek in. Sementara saya masih harus mencari tiket go show (istilah membeli tiket dengan mendadak, langsung di tempat). Alhamdulillah, masih ada seat kosong di penerbangan jam tiga. Proses pembelian tiket selesai, saya segera berlari menuju mushola di lantai dua. Sholat Dzuhur dijama’ dengan Asar. Legaa.

Alhamdulillah, pertamakali berkunjung ke Balikpapan sukses. Walau naik turun angkot, jalan kaki ke mall dan tempat oleh-oleh tapi saya sangat senang. Biaya tiket pesawat yang lumayan mahal, tak terjangkau dengan gaji staff seperti saya. Tak pernah terfikir juga untuk sekedar main ke kota yang cukup bersih itu, jika dengan uang pribadi. Sayanglah, lebih baik ditabung buat umroh.

Berada dalam pesawat yang sangat dingin membuat ingin ke toilet. Urung, saya termasuk pengguna kloset jadul. Tak bisa di pesawat. Perjalanan dua jam terasa lebih panjang. Belum lagi, telinga berdenging. Sakit sekali. Entah semua orang merasakan hal yang sama atau hanya saya seorang. Beberapa kali saya menutup telinga. Makin sakit. Sempat bertanya kepada ibu yang duduk di sebelah, ternyata dia merasakan hal yang sama. Kuping berdenging sakit.

Sampai di Bandara Sukarno Hatta jam empat sore. Perjalanan selama dua jam dengan AC yang dingin membuat saya cukup lama menahan HIP (hasrat ingin pipis). Tak nyaman saja. Satu hal yang saya cari begitu sampai bandara, toilet. Tas ransel di punggung, tangan kanan  membawa kantung plastic besar, sementara kiri membawa gulungan tikar. Berjalan cepat lebih mirip lari, menuju toilet.

Ah, legaa. Saya berjalan menuju tempat pembelian tiket Damri. Tiba-tiba merasa ada yang kurang. Astaghfirullah, tas plastic besar berisi penganan khas Kalimantan entah ada di mana. Seingat saya, sebelum masuk ke Toilet saya simpan dekat wastafel. Segera saya kembali ke toilet. Mencari bungkusan plastic besar berwarna hitam. Nihil.  

Mencoba mengingat lagi, mungkin saja di bangku tunggu sebelum masuk ke toilet. Ternyata tak ada juga. Lemas, kok bisa hilang. Nilainya memang tak seberapa. Tapi hal ini membuat saya miris. Kota yang harusnya lebih ramah, tidak terlihat di sini. Saya pendatang di Balikpapan, tapi selama sehari di sana kesannya sangat berbeda. Orang-orangnya sungguh ramah dan baik hati.

Kuku Macan yang diniatkan sebagai oleh-oleh untuk tetangga telah berpindah tangan. Semoga penganan tadi, lebih bermanfaat untuk si pencuri. Masih Alhamdulillah yang hilang hanya tas plastic, bukan tas ransel.  Pelajaran kecil yang bisa saya ambil hikmahnya. Jangan repot sama tentengan, jika bisa dipacking dalam tas lebih simple. Toh, tangan kita hanya dua. Tetap harus hati-hati di mana pun berada. Khususnya untuk kaum hawa yang melakukan perjalanan sendiri.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s