krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Kado Anniversary

Tinggalkan komentar

Happy Anniversary Ummi. Semoga kita bisa menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rohmah dalam dakwah.

Sebuah kartu ucapan berwarna ungu disematkan di atas kotak kado bermotif batik dengan warna senada. Kado ulang tahun pernikahan kami. Kotak yang cukup besar, entah apa isinya. Aku tak tertarik untuk membukanya seorang diri. Biarlah menunggu kepulangan Syamil dari Pekanbaru.

Belum sempat kulangkahkan kaki menuju pantry kantor, HP berbunyi. Senandung “for the rest of my life” Maher Zain mengalun indah.

“Assalamu’alaykum, Ummi sudah terima kado anniversary kita? Sudah dibuka?” tanya Syamil

“Wa’alaykumsalam, Abi. Alhamdulillah sudah. Jazaakallah khairan ya. Ummi tunggu Abi pulang saja untuk membuka kadonya.  Ngga enak buka kado sendirian,” jawabku.

“Insya Allah sepuluh hari lagi Aku pulang, tak perlu menunggu hanya untuk membuka kado. Nanti kita rayakan dengan candle light dinner ya,” janji Syamil. Ini janji yang kesekian dan belum tentu bisa ditepati. Seperti janji-janjinya terdahulu. Sepuluh tahun bersama, sudah cukup hafal dengan janji-janjinya.

“Tak usahlah berjanji. Cukup perbanyak doa sebagai pengingat usia pernikahan kita. Bonus kado sudah bisa dibilang istimewa, tak perlu berlebihan dengan candle light dinner.”

Percakapan lewat telepon diakhiri bertepatan dengan bunyi ketukan pintu. Arini mengantarkan amplop merah hati, undangan pernikahannya. Binar cinta dan kebahagiaan dimata Arini terlihat jelas saat dia menjelaskan prosesi khitbah sampai dengan menunggu hari pernikahan.  

“Bu Nisa, datang ya. Akad Sabtu pagi, langsung dilanjutkan dengan resepsi. Saya baru mau ambil cuti hari Kamis saja, sekalian ambil cuti tahunan. Insya Allah kita mau honeymoon ke Yogya selama sepekan. Doakan ya bu, semoga semuanya berjalan lancar,” senyumnya mengembang.

Kupeluk lembut Arini. Selama ini sudah kuanggap sebagai adik, bukan hanya sebagai staff.

“Barakallah ya. Semoga Allah mudahkan semua urusanmu.”

“Aamiin. Ibu bisa datang, kan?” tanya Arini.

“Insya Allah..” jawabku singkat.

Segera kukirim pesan pada Syamil tentang undangan dari Arini. Respon Syamil lumayan cepat. Alhamdulillah, Syamil mengizinkan.

—-

            Akad berjalan lancar, sepasang pengantin duduk bersanding di pelaminan. Wajah bersinar, senyum diwajah mereka tak pernah lepas. Ada berjuta bahagia dan cinta di sana. Tapi mengapa tiba-tiba saja Aku merasakan kekosongan.

            Seperti biasa, kali ini datang ke pernikahan seorang diri. Ketiga anakku tak mau menemani. Setelah menyalami Arini dan suaminya, aku berjalan ke meja prasmanan. Ada menu kesukaan tak jauh dari tempatku berdiri, Somay Bandung yang tersaji pada meja kecil terpisah dari rangkaian prasmanan. Ah, ternyata sudah beberapa orang yang antri.

            Kulayangkan pandangan, rata-rata yang menghadiri undangan kali ini datang bersama pasangannya. Entah suami atau pacar.

            “Nis, Nisa..”

            Hampir saja piring ditangan jatuh, karena kaget ada panggilan sekaligus tepukan dipundak dari seorang pria. Tepat di sebelah kiriku.

“Assalamu’alaykum, Nis. Masih ingat Aku?” Pria itu bertanya dengan senyum diwajahnya.

Belum sempat kujawab, karena Aku sedang mengumpulkan ingatan, siapa gerangan dia.

“Ah, pasti lupa deh. Aku seniormu di SMU Merah Putih dulu, salah satu sabeum favoritmu. Ngga inget ya?” tanya Pria itu lagi.

Senior yang mana? Wajah pria ini mirip dengan Arga. Tapi Aku tak yakin. Kabar terakhir yang kuingat, Arga melanjutkan kuliah di Jerman. Wajahku yang bingung menyebabkan tawanya pecah.

“Coba diingat-ingat lagi,” pintanya.

“Jangan main tebak-tebakan deh. Maaf, Aku benar-benar lupa. Ya, wajar saja. Toh sudah lebih dari sepuluh tahun,” jawabku ketus.

Piring somay sudah terisi, kali ini Aku berjalan mencari tempat untuk duduk. Pria ini masih saja mengikutiku.

“Masih doyan somay, Nis. Ternyata empat belas tahun tak bertemu, kamu tetap seperti dulu. Tidak ada yang berubah.”

“Sebenarnya Kamu ini siapa sih? Lebih baik Kamu pergi dari hadapanku, jika tak menjawab juga.” tukasku kesal.

 “Maaf, Nis. Jika sudah membuatmu tak nyaman. Aku Arga, teman sekelas kakakmu saat SMU dulu.” Arga akhirnya menjawab sambil mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman.

Kuletakkan piring dipangkuan. Menangkupkan kedua tangan di dada, sebagai tanda bahwa aku tidak bersalaman dengan pria bukan muhrim. Wajahnya tampak kecewa.

Tiba-tiba saja ingatanku melesat jauh ke masa SMU dulu. Teringat sosok pria kurus, dengan rambut yang agak cepak. Periang, lucu dan sering mengajari Aku jurus-jurus Taekwondo jelang ujian kenaikan tingkat. Arga yang dulu adalah pria tersopan yang kukenal. Salah satu siswa SMU yang rajin dhuha di mushola sekolah. Tak pernah sekalipun kulihat Arga bersalaman dengan lawan jenis. Pandangannya sering menunduk jika berbicara denganku. Lantunan nasyid sering kali terdengar dari lisannya saat mengisi waktu di sela latihan. Arga juga yang mengajakku untuk aktif di rohis. Arga juga orang pertama yang mendukung gerakan jilbab di sekolah. Saat itu, masa perjuangan para jilbaber untuk memilih antara melepas jilbab atau pindah sekolah. Ah.. masa itu, sudah dua belas tahun yang lalu. 

“Kamu sama sekali tak berubah, Nis. Tetap jaim seperti dulu.”

Teguran Arga membuyarkan ingatanku.

“Aku memang tidak berubah, tapi justru Kamulah yang sangat berubah. Sampai-sampai tak bisa kukenali lagi. Arga yang dulu, ngga pernah tepak-tepok wanita seperti tadi. Apalagi salaman,” protes Nisa ringan.

Sambil mengabiskan sepiring somay di pangkuan. Kami kembali diam. Rasanya sangat tak nyaman. Mengapa tiba-tiba ada getaran aneh dalam hati ini. Astaghfirullah… ampuni Aku, ya Rabb.

“Kok sendirian aja, Nis. Suami dan anak-anak ngga diajak?” pertanyaan Arga memecah keheningan diantara kami. Keheningan yang hadir diantara keramaian suasana resepsi pernikahan Arini.

“Suamiku sedang dinas luar kota. Anak-anak ada acara eks-kul di sekolahnya.” Jawabku, sambil berusaha menetralkan getaran aneh yang tadi kurasa.

“Oh…”

“Kamu sendiri, mana Istri dan anakmu?” Aku balik bertanya.

Arga tertawa sambil mengusap wajah dengan saputangan.

“Aku masih single, Nis. Belum nikah.” Jawabnya.

Wajahku mendadak heran, atau lebih tepatnya tak percaya. Melihat espresiku, Arga kembali tertawa.

“Hey, kenapa? Ngga percaya? Aku beneran belum nikah.” Jawab Arga dengan senyumnya.  

“Apa yang membuatmu tetap sendiri? Usia jelang kepala empat, masih sendiri. Saat di Jerman sana, ngga ada satupun yang nyantol di hati?” tanyaku kembali heran dengan jawaban yang baru saja didengar. Arga tak menjawab. Hanya tersenyum.    

Tiba-tiba HP di tas Nisa bergetar, ternyata pesan singkat dari Syamil. Nisa cepat merespon.

“Next time, Aku boleh main ke rumahmu, Nis?” tanya Arga.

“Silahkan saja asalkan pas suamiku ada di rumah,” jawab Nisa singkat.

“Mau pulang jam berapa, Nis? Mau kuantar?” tanya Arga.

“Menunggu pengantin duduk lagi di pelaminan. Mereka sedang ganti kostum sepertinya. Biar bisa pamitan pulang,” jawab Nisa, sambil mengarahkan pandangannya ke pelaminan.

“Pulang dengan siapa? Mau kuantar?” tanya Arga lagi.

“Sendiri. Terima kasih, tak usah diantar. Aku bawa mobil kok. Lagipula dari sini langsung ke sekolah anak-anak, janji mengantar mereka ke toko buku,” jawab Nisa.

Tak lama Arini dan suaminya kembali duduk dipelaminan. Nisa berdiri dan berjalan menghampiri pelaminan, diikuti Arga.

“Barakallah ya.. Rin. Aku pamit dulu, ada janji sama anak-anak.” Nisa berpamitan.

“Makasih ya, Bu.” Arini bersalaman bahkan hampir mencium punggung tangan Nisa. Cepat Nisa menarik tangannya.

“Jangan cium tangan begitu,” protes Nisa pelan.

“Eh, Om Arga. Ini bu Nisa yang sering kuceritakan itu,” Arini menegur Arga dengan ekspresi bersemangat.

“Oh, ternyata atasanmu Nisa. Kita satu SMU, Rin. Hanya beda angkatan,” jawab Arga bangga.

Arini meminta mereka berempat berfoto. Awalnya Nisa agak sungkan, karena khawatir akan ada pertanyaan jika orang lain melihat foto mereka. Pastinya orang menyangka Nisa adalah pasangan Arga. Tapi karena Arini sampai memohon-mohon, akhirnya Nisa mau juga berpose.

Sebelum pulang Nisa berpesan. Agar foto mereka berempat tidak tersebar. Cukup menjadi koleksi pribadi Arini saja. Khawatir timbul fitnah.

Malam ini Syamil mengajak Nisa ke sebuah restoran dekat perumahan mereka. Candle light dinner yang dijanjikan akhirnya terwujud juga. Syamil sudah memesan meja outdoor yang menghadap ke danau. Pemandangan malam itu begitu eksotis. Langit yang bersih, mulai tampak bintang satu-satu. Cahaya lampu di pinggir danau memantul dengan cantiknya.

Nisa menggunakan gamis ungu bermotif bunga-bunga kecil putih dengan jilbab ungu senada. Walau wajah tanpa polesan make up, kecantikan Nisa tetap terlihat. Syamil bertingkah laku sangat manis. Mulai membukakan pintu mobil dan menggandeng mesra Nisa saat mereka berjalan menuju meja. Terakhir menarik kursi untuk mempersilahkan Nisa duduk.

“Hari ini, hari special dan harus kita rayakan. Toh, kita jarang bisa pergi berdua saja seperti ini. Anak-anak biasanya protes kalau ngga diajak,” suara berat Syamil memecah keheningan.

“Jazakallah khairan, Abi.” Jawabku singkat. Entah mengapa, malam ini tak bersemangat dengan anniversary kami.

Pesanan makanan belum datang. Kupandangi wajah Syamil. Satu-satunya pria dalam rumah kami. Ketiga anakku semua perempuan, wajarlah dia paling ganteng diantara kami. Wajah sumringah Syamil sepertinya menyimpan sesuatu. Tapi entah apa. Feeling sebagai istri merasakan seperti itu.

“Ummi, kenapa liat Abi seperti itu?” tanya Syamil.

“Jarang-jarang Ummi bisa liat wajah Abi seperti ini. Ternyata kalau rapi begini, ganteng juga ya.”

Pujianku membuatnya tertawa.

“Ummi baru nyadar kalau Abi ganteng ya? Kemana aja Mii.” Syamil membalas dengan bercanda.

“Selama ini mata Ummi kelilipan pasir, jadi ngga ngeh ada pria ganteng di rumah.”

Pesanan makanan dan minuman datang. Menu biasa menurutku. Hanya saja tempatnya yang tak biasa. Menu syamil tenderloin steak, plus minuman segar entah apa namanya. Pesananku gurame bakar, nasi putih plus cah kangkung. Menu pasangan yang jomplang.

Selesai makan, Syamil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Kotak hitam beludru sebesar bungkus rokok. Menyerahkan kepadaku dengan wajah yang sulit kutebak.

“Ini untuk Ummi, dibuka ya.” pintanya.

Kuterima kotak hitam tersebut, membukanya pelan. Sebentuk gelang emas. Sangat indah, ada namaku terukir disana.

“Kado yang kemarin saja belum dibuka, Bi. Ini ada kado lainnya. Jangan berlebihanl. tak ada kadopun Aku sudah sangat bersyukur kita bisa berkumpul lagi.”

“Ummi, ada satu hal yang mau Abi sampaikan. Semoga Ummi tidak marah mendengarnya.”  Syamil berkata dengan pelan tapi penuh tekanan.

“Sampaikan saja, Bi. Selagi tidak melanggar aturan Allah, Ummi tidak akan marah. Insha Allah,” jawabku mantap.

“Abi sudah menikah lagi.”

Seperti tak percaya dengan apa yang kudengar.

“Maksud Abi apa? Becanda ya?” tanyaku.

“Aku tidak sedang bercanda.”

Hal aneh yang setahun terakhir ini sering kudengar. Syamil lebih memilih menggunakan kata ‘Aku’ dibandingkan ‘Abi’.  Juga kado-kado manis yang sering diberikan padaku walau tak ada moment special. Hal lainnya, Syamil tampak lebih rapi dan modis dibanding sebelumnya.

“Teruus, Ummi harus bagaimana?“ tanyaku bingung.

“Ummi ngga marah, mendengar Abi menikah lagi?” Syamil balas bertanya sambil menggenggam erat kedua tanganku.

“Tidak, insha Allah Ummi tidak marah, walau baru tau saat ini. Jika dibandingkan Abi berzina. Lebih baik Abi menikah lagi. Karena zina sama dengan hutang yang harus dibayar. Seperti kata imam Ghazali, ‘karena ketahuilah oleh kalian. Sesungguhnya zina adalah hutang. Dan salah seorang dalam nasab pelakunya pasti harus membayarnya’. Sementara kita punya tiga anak perempuan. Tentunya Abi tak ingin anak-anak kita menanggung dosa zina orangtuanya.” Penjelasan yang cukup panjang dari Nisa membuat Syamil terdiam.

“Maafkan Aku,” Syamil tergugu. Tertunduk menciumi punggung tangan Nisa.

“Tak perlu minta maaf, ini sudah kehendak Allah. Aku ridha. Abi harus berlaku adil terutama pada anak-anak kita. Jangan pernah berpikir untuk bercerai, karena pastinya anak-anak lebih tersakiti. Biarlah seperti ini saja. Abi harus sampaikan pada mereka tentang semua ini.” Aku merasa plong saat mengatakan kalimat terakhir.

Tak ada air mata setetespun, tak ada sesak kurasakan di dada. Semua berjalan biasa saja. Sepertinya ada yang salah pada hatiku. Selama sepuluh tahun membina rumah tangga belum juga muncul rasa cinta pada Syamil. Terbukti hari ini. Aku tak merasa tersakiti, tak merasa kecewa. Pernikahan ini kujalani hanya mencari ridha Ibu dan juga ridha Allah.

Apa yang harus kujelaskan pada ketiga anakku tantang Abi mereka. Salwa, Salma, Syifa, maafkan Ummi yang selama ini tidak bisa membaca perubahan yang terjadi pada Abi.  

 

Bersambung…

 

 

 

Note:

Ini fiksi loh… bukan beneran. Kebetulan saja idenya muncul bertepatan dengan anniversary kami yang ke-8. Doakan kami agar tetap SAMARADA (sakinah, mawaddah wa rohmah dalam dakwah).

   

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s