krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Menerima Kekalahan

1 Komentar

Ini tulisan saya yang dimuat di rubrik Buah hati, leisure Republika.

Selasa, 6 November 2012.

Image

Judul kirim “Efek negatif kompetisi” dimuat dengan judul “menerima kekalahan” lebih manis dibacanya.

mau tau isinya, yuuk dibaca.

 

Sebelum penerimaan rapot semester ganjil yang lalu, pihak sekolah TK A dan B mengadakan berbagai lomba. Lomba terdiri dari lomba Adzan, hafalan hadits, Al Qur’an, doa harian dan mewarnai.

Sepekan sebelum lomba, saya mencari tahu respon Ifa (4,5 tahun). Entah apa sebabnya, Ifa tak mau ikut lomba. Seingat saya, hafalan Ifa cukup baik. Selidik punya selidik, mengertilah saya. Ifa mogok ikut lomba, karena pada hari “H” saya tidak bisa menemaninya. Ada rapat kerja tahunan dari kantor tempat bekerja.

Melalui dialog yang ulet, akhirnya membuahkan hasil. Ifa mau ikut lomba.  

“Aku mau ikut lomba, Bu. Tapi ditemenin Ayah, kan Ibu ngga nemenin Aku,” pintanya sebagai syarat yang harus dipenuhi.

“Iya, walau Ibu keluar kota, Insya Allah ada ayah yang menemani Kakak,” jawab saya sambil mengangguk tanda setuju.

“Kata Bu Guru nanti kalau menang dapat piala, Bu. Kalau kalah dapat bingkisan. Tapi Kakak mau piala,” wajahnya penuh harap saat mengucapkan keinginannya untuk mendapatkan piala.

“Kakak, kalau nanti kakak menang, Alhamdulillah dapat piala. Tapi kalau tidakpun Kakak tetap anak Ibu yang Masya Allah..hebat. Berani ikut lomba saja Ibu sudah senang,”  jawab saya mencoba menenangkan, sambil mengacungkan dua jempol.

“Teman kakak kan banyak tuh, satu kelas ada 17 anak. Nah yang namanya lomba. Pasti dicari satu pemenangnya. Misalnya kakak bagus nih, Salwa dan Irene juga bagus. Nanti dipilih lagi, sampai dapat yang paling bagus diantara kakak, Salwa dan Irene. Hasilnya bisa Salwa yang menang, bisa Irene, bisa juga Kakak,” berharap dalam hati agar Ifa mengerti yang saya jelaskan, tak lupa memohon pertolongan Allah.

“Ngga bisa dapat piala semua ya, Bu?” tanya Ifa lagi.

“Iya, ngga semua teman kakak dapat piala. Hanya satu dari 17 teman kakak di kelas. Jadi kalau Kakak ngga dapat piala, ada 15 teman kakak juga yang tidak dapat piala. Tapi semua senang, karena semua sudah berani maju ke depan panggung ikut lomba. Allah sayang sama anak-anak yang berani. Allah tetap sayang Kakak, walau tidak dapat piala. Ibu juga tetap sayang Kakak,” dua kalimat terakhir membuat senyumnya kambali mengembang.

Alhamdulillah, tampaknya Ifa sudah mau ikut lomba. Semoga penjelasan menang kalah dalam lomba bisa menguatkan Ifa saat menerima hasil lomba nanti.

Mulailah Ifa latihan di rumah. Murojaah hafalan setiap saya pulang dari kantor atau sebelum Ifa tidur. Eyang dan neneknya sempat takjub, mendengar begitu lancar Ifa mengulang hafalan. Masya Allah…

Satu hari menjelang lomba, saatnya saya berangkat raker. Berharap pada suami, eyang dan nenek untuk menyemangati Ifa. Sebelumnya saya sudah mewanti-wanti kepada sang ayah agar tidak terlambat sampai di tempat lomba.

Pulang dari raker, sudah saya siapkan bingkisan untuk Ifa. Sebagai hadiah atas keberaniannya mengikuti lomba. Tak peduli kalah atau menang. Sampai di rumah, saya dapati Ifa demam tinggi. Entah apa sebabnya. Tak ada gejala flu, batuk atau pilek seperti biasanya. Semalaman saya terjaga, suhu badannya 39,6°C. Alhamdulillah, keesokan paginya demam Ifa turun.

Penasaran, saya mulai bertanya kepada Ifa tentang lomba kemarin. Jawaban Ifa cukup mengagetkan.

“Ibu, aku sayang Ibu. Tapi aku ngga sayang sama ayah. Ayah jahat ngga nemenin kakak lomba. Nanti kalau Lomba lagi, Kakak pengen ditungguin Ibu. Kakak pengen menang, biar dapat piala,” ujar Ifa pelan sambil duduk di pangkuan saya.  

Degh.. kata-kata Ifa menyadarkan saya, pentingnya sebuah support dari orangtua. Tetap ada rasa kecewa yang ditunjukkan Ifa dalam menghadapi kekalahan lomba. Tetap ada keinginan yang besar darinya untuk menang.

Liburan selama dua pekan usai. Saatnya kembali sekolah, tapi Ifa tetap mogok. Bangun tidur, langsung pasang wajah siap-siap menangis. Mandi pun dalam kondisi menangis. Setelah saya bujuk, akhirnya Ifa mau sekolah. Kejadian ini berulang beberapa hari.

Segala hal yang menyangkut efek lomba saya sampaikan pada pihak sekolah. Ternyata tak hanya Ifa yang mogok. Hampir separuh siswa TK-A mogok. Kelas kelihatan agak sepi. Guru-guru sempat bingung. Beberapa orangtua murid menyampaikan hal yang sama.

Efek negative dari sebuah lomba, adalah ketidaksiapan anak-anak menerima kekalahan. Walau sebelumnya secara verbal pihak sekolah dan orangtua, sudah membesarkan hati mereka. Kalah menang tak jadi soal, asal mereka berani ikut lomba. Itu sudah cukup. Tapi di mata anak, kalah artinya tidak mendapat piala, kalah artinya tidak mampu. Mereka berfikir, jika temannya mendapat piala, dia pun harus mendapatkan hal yang sama.

Hal ini menjadi pembelajaran, bagi saya dan pendidik. Agar lebih baik lagi dalam menyiapkan mental anak yang akan mengikuti sebuah kompetisi. Apapun judul kompetisi itu. Pembekalan untuk menerima sebuah kekalahan, harus disiapkan sebaik mungkin. Agar tidak ada lagi kejadian mogok, dan sejenisnya. Kecewa karena kalah wajar, tak perlu sampai berlebihan.  

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

One thought on “Menerima Kekalahan

  1. akhirnya ane bc jg tulisan ente di republika..walau via email,..soalee ane nyari koran entuu kg dapet dah kesiangan,,,hehe..mantabb..!!!teruslah berkarya..

    ________________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s