krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

KRUCIL RINDU AYAH

Tinggalkan komentar

Senin pagi yang cerah entah kenapa mendadak mendung menyelimuti hati ini.
Teringat akan dua hari yang lalu, yup. Saat weekend kemarin. Walau weekend full activity with krucil, tapi ada satu hal yang membuat saya bersedih hati. Kedua krucil sangat merindukan sosok ayah yang selalu bisa menemani hari-harinya bermain, bersenda gurau, bahkan sampai mereka tertidur.
Begitu melihat ayah dari teman-temannya, langsung saja mendekat rapat. Ingin juga diiajak ngobrol, digendong, dipeluk dan diajak bermain.

Di kolam renang
Pagi itu masih sepi. Kolam rerang serasa milik sendiri. saya dan kedua krucil main air di kolam yang paling dangkal, tak lama kami bermain di sana karena kolamnya sangat kotor banyak sampah daun, sampah serangga kecil. Akhirnya kami pindah ke kolam yang ada ember tumpahnya. Tetap kolam dangkal untuk anak balita.

Di sana, hanya ada kami bertiga, dan seorang anak lekali dengan ayahnya. Ndut langsung akrab dengan anak itu. Reza (kelas 1 SD), juga langsung akbrab dengan Ndut, mereka berdua main seluncuran bergantian. Saat reza kambali berenang bersama ayahnya, ndut pun turut serta. Terus mengikuti kemana Reza & ayahnya pergi. Tak lama reza pindha ke kolam yang lebih dalam, karena memeang reza sudah mahir berenang. Melas melihat wajah ndut yang ditinggalkan Reza & ayahnya.

Kali kedua juga ada seorang anak lelaki, kali ini bernama Dani juga bersama ayahnya. Sudah TK B, pandai juga berenang. Kembali Ndut nempel kepada mereka berdua. Ayahnya dengan sabar mengajari Dani berenang. Melihat Dani yang tidak menggunakan ban pelampung lantas saja Ndut melepas pelampungnya. Padahal posisi berdiri sedang di tengah kolam setinggi dada Ndut, terpeleset sedikit saja bisa tercebur. Melihat ndut melepas pelampung, ayah Dani sempat melarangnya. Takut kalau-kalau Ndut kekelep, jika terpeleset.

“Adeek.. jangan dilepas ban pelampungnya. Adek belum bisa berenang. Nanti ya.. kalau sudah pandai berenang baru dilepas bannya.” Ayah Dani berkata kepada Ndut.

Mendengar ayah Dani, barulah ndut menurut untuk memakai ban pelampung lagi. Kembali bermain bersama Dani. Tapi tak lama. Karena setelah itu, dani pindah kembali pindah ke kolam yang lebih dalam.
Dua kali ditinggal teman barunya, tak membuat ndut berkecil hati. Setiap ada anak lelaki yang berenang bersama ayahnya, lantas saja Ndut mengikuti dan akrab kepada mereka.

Trip to Bandung
Minggu pagi, jadwal kami pergi ke Bandung. Menghadiri resepsi pernikahan salah seorang rekan kerja. Awalnya saya sendiri masih bingung, akan mengajak kedua krucil atau tidak berangkat sama sekali. Tapi mba Rina menguatkan, agak mengajak kedua krucil.
Ndut tampak bahagia sekali, sepanjang perjalanan ceria, bernyanyi tiada henti, mendekati lokasi ndut justru tertidur kelelahan.

Sampai di tempat resepsi, Ndut mulai mencari sosok ayahnya kembali. Berkali-kali bertanya.
“Ibu, ayah mana?” Tanya Ndut untuk yang kesekian kalinya dengan wajah melas penuh harap.
“Loh, ayah kan ngga ikut. Masih ada training di Bogor.” Jawab saya singkat berharap ndut mengerti.
Tak lama Ndut mulai mencari, ternyata yang dicari adalah ayahnya Randi Damar. Teman kantor yang kami tebengi dalam perjalanan ke Bandung.
“Ibu, ayah Landi mana? Ndut mau sama ayah Landi.” Pinta ndut kepada saya
“Itu Randi sama ayahnya, Ndut ke sana aja ya. Ibu duduk di sini sama kakak.” Jawab saya
Ndut langsung menghambur ke Randi & ayahnya. Mengajaknya ngobrol, bercanda, berujung pada minta digendong. Justru Randi tidak digendong ayahnya, merelakan ayahnya menggendong Ndut.

Proses Pengantin memasuki ruangan resepsi di awali dengan tarian-tarian, para tamu berdiri berjejer disepanjang tepi karpet merah. Termasuk Ayahnya randi yang masih menggendong Ndut. Damar juga tak mau kalah. Minta digendong ayahnya. Ndut akhirnya harus mengalah mau digendong oleh Eko (juga rekan kantor).
Resepsi selesai, kami berjalan ke Hutan Dago pakar. Di sana Ndut bermain bersama Randi & ayah bundanya. Main seluncur, ayunan, plus disuapi makan oleh bundanya randi. Tampah bahagia sekali. Ndut juga memanggil hanya “ayah” kepada ayahnya randi. Makin sedih saja mendengarnya. Kelihatan sekali kerinduannya kepada sosok ayah, yang seharusnya mewarnai hari-harinya.
(ga mau nulis in detail ah.., setiap moment yang membuat saya semakin sedih)

——-
Intinya sepanjang dua hari kemarin, tampak sekali kebahagiaan di wajah mereka saat bermain dengan seorang ayah temannya. Bukan hanya kepada teman dekatnya, bahkan teman yang baru saja dikenalnya.
Duhai suamiku, bantu agar anak-anak bahagia menjalani hari-harinya. Bagaimana caranya agar mereka bisa dekat dengan mu. Satu kali dalam seminggu tak cukup untuk menemani hari-hari mereka. Begitu banyak moment yang terlewatkan.

Tak tega rasanya melihat binar dimata kedua krucil saat bermain bersama ayah temannya, dan saat mereka juga memanggil hanya “ayah” kepada mereka (setiap ayah dari temannya).
Duuh… makin mellow aja nih. Ga tahan mewek deh, diruangan kerja.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s