krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Tak Sadar Sholat

2 Komentar

Ramadhan saat itu adalah kali kedua mengikuti kegiatan I’tikaf di masjid Al Hikmah di Jakarta. Berbeda dengan dua tahun lalu yang masih full kuliah saja, saat itu status saya adalah seorang pekerja yang masih harus menunaikan kewajiban untuk tetap aktif masuk kantor di siang hari, sementara malamnya bergegas kembali ke masjid melanjutkan kegiatan I’tikaf. Selama hampir sepuluh hari memaksakan diri bolak balik Cikarang – Jakarta, demi mencari suasana yang kondusif pada sepuluh malam terakhir. Tak ingin melewatkan moment Ramadhan hanya pulang ke Bogor, untuk disibukkan dengan agenda membuat penganan kecil dan sepinya masjid di lingkungan sekitar komplek.

Teringat saat pertamakali I’tikaf, kaki saya merasakan pegal luar biasa pada rakaat pertama saat sholat Tarawih. Tak pernah berdiri selama itu saat sholat. Bukan hanya semutan, bahkan sampai tak ada rasa lagi. Belum lagi saat tiba sholat Qiamulail, harus berdiri lebih lama dari tarawih, bacaanpun lebih panjang. Kondisi terparah terjadi pada shaf Ikhwan, ada beberapa ikhwan yang jatuh karena masih mengantuk. Kebetulan bunyinya berdebum terdengar sampai lantai dua tempat akhwat sholat. Tapi itu terjadi di awal saja, selanjutnya jamaah mulai terbiasa dengan pola sholat yang cukup panjang.

Sepuluh malam terakhir, tampak lebih semarak di Masjid ini. Terutama saat malam-malam ganjil, bertambah penuh sesak yang hadir untuk mengikuti sholat tarawih dan qiamulail berjamaah. Hal yang berbeda dari tempat lainnya, sholat tarawih di Al Hikmah dilakukan satu juz Al Qur’an setiap malam selama sebulan penuh, biasanya berlangsung ba’da Isya sampai dengan pukul setengah sebelas atau lebih. Sementara untuk sholat qiamulail, dilakukan dengan membaca tiga juz Al Qur’an setiap malam selama sepuluh hari terakhir, bahkan bisa lebih jika jumlah hitungan berpuasa hanya 29 hari.

Dilakukan mulai pukul setengah dua dinihari sampai waktu sahur. Bukan itu saja, siang harinya full day diisi kajian yang membuat waktu berjalan sangat cepat. Ada kajian ba’da subuh, Dhuha, Dzuhur dan Asar menjelang Maghrib. Terkadang juga saat Sholat tarawih masjid ini kedatangan ulama dari Timur Tengah, untuk mengisi ceramah sebelum sholat witir dilakukan. Tentu saja dengan berbahasa arab dan ada penterjemah.

Satu saat, saya hanya tidur setengah jam ba’da sholat tarawih karena mengejar target mengkhatamkan Al Qur’an tiga kali dalam Ramadhan kala itu. Alhamdulillah karena izin Allah, azam yang kuat, plus doping kopi susu hangat membuat mata ini tidak mengantuk saat melakukan Qiamulail berjamaah. Lantunan Al Qur’an dari sang imam yang juga hafidz menjadikan kami hanyut dalam kesyahduan, kekhusyu’an dalam sholat. Isak tangis mulai terdengar lirih dari imam dan jamaah, saat ayat-ayat tentang balasan orang-orang yang berdosa, balasan orang yang tidak bersyukur dibacakan. Saya yang sempat membaca arti surat sebelum sholat, turut hanyut dalam isak tangis.

Suaranya isak tangis dari seluruh jamaah mirip dengungan lebah dalam jumlah yang sangat banyak. Pun saat melakukan sholat witir, doa yang dibacakan imam sangat mengena dihati, termasuk mendoakan saudara kita yang berada di palestina dan dimanapun saudara seiman berada. Terutama yang sedang dalam kondisi yang sangat menyedihkan dan tertindas. Kembali saya terisak mengaminkan doa qunut nazilah yang dibacakan imam. Malam itu full dengan hujan tangis. Tidak hanya berasal dari barisan akhwat, barisan ikhwan di lantai dasarpun terdengar hal yang sama. Paginya, saya tidak tidur lagi ba’da subuh. Kajian dari ustadz Hasib sangat menarik hingga membuat mata ini merasa rugi jika terpejam.

Malam kedua setelah seharian kurang tidur, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba kaget terbangun dengan posisi duduk sedang tahiyat akhir dalam shaf melakukan qiamulail berjamaah. Seingat saya, baru saja beberapa menit yang lalu tertidur ba’da tarawih tadi. Setelah salam, bergegas saya mundur dari barisan. Menenangkan diri, sambil menyempatkan diri bertanya kepada seorang teman yang duduk di sebelah.

“Mba In, barusan saya sholat dari awal sampai akhir atau tertidur dalam sholat?” Tanya saya kepada mba Indah, teman yang duduk di sebelah kanan.

“Engga kok, kamu sholat dari awal sampai akhir. Malah beberapa kali wudhu ke depan sana dan kembali ke dalam shaf. Memangnya ada apa?” Tanya mba Indah bingung. Menatap saya sambil melipat mukena yang baru dilepasnya.

“Bener mba, saya sholatnya berdiri, terus ruku sujud selesai sampai salam?” Tanya saya lagi tak percaya akan jawaban mba Indah barusan.

“Kamu kenapa Lis kok seperti orang bingung begitu, seperti orang yang baru bangun tidur. Saya tau kemarin tidurmu kurang, tapi Subhanallah, hari ini ternyata kamu tetap bisa ikut sholat berjamaah lengkap dari awal sampai akhir. Tidak tumbang seperti yang lain. Memangnya kamu bisa tidur sambil sholat, bahkan sambil berjalan? Ga mungkin kan. Yuk, ah. Sekarang sahur dulu, waktunya mepet loh. Keburu subuh nanti.” Ajak mba Indah sambil tersenyum. Menarik tangan saya untuk ikut berdiri dan bergegas ke ruangan untuk sahur bersama teman yang lain.

Sepanjang makan sahur tak habis difikir bagaimana bisa saya melakukan sholat dalam kondisi tidak sadar. Tak ingat jika berkali-kali mengambil air wudhu saat ada jeda dari satu salam ke salam. Tak ingat pula dimana meletakan mushaf yang tak pernah jauh dari genggaman ini. Jawaban mba Indahpun semakin menguatkan bahwa saya sholat seperti layaknya orang normal, bukan sambil tidur.

Segera saya habiskan makanan sahur, kemudian berjalan menuju tempat berwudhu. Masya Allah, mushaf kecil warna biru terbitan madinah yang dipojoknya tertulis nama saya tergeletak disana, di atas tembok tempat wudhu. Berjejer tepat di sebelah deretan kantung plastik berisi sabun dan alat mandi. Tak ingat, bagaimana mushaf itu bisa sampai di tempat wudhu, tak ingat sama sekali. Astaghfirullah, ada apa gerangan ini semua bisa terjadi. Pertanda apa ya Allah.

Selesai bersiwak dan menyempurnakan wudhu, saya kembali ke dalam masjid. Duduk bersimpuh, di salah sisi masjid memilih posisi paling depan. Tak ada seorangpun di sana, jamaah akhwat banyak yang masih menyelesaikan sahur dan sebagian lagi berwudhu. Duduk dengan tenang, sambil mencoba kembali mengingat apa yang saya lakukan setelah sholat tarawih tadi. Seperti film yang sedang diputar, teringat dengan jelas bahwa setelah sholat tarawih dan melepas mukena.

Saya tidak beranjak dari tempat sholat, melainkan berbaring dengan tetap menggenggam mushaf sambil menghafal beberapa ayat dalam surat Al Anfal. Tidak ada sedikitpun dalam ingatan, bagaimana saya terbangun dari tidur, kemudian berwudhu dan melakukan sholat qiamulail yang hampir empat juz. Bagaimana bisa saya berdiri dengan kondisi tidak sadar, berjalan ke tempat wudhu, kemudian kembali dalam posisi shaf semula dengan berulang-ulang, tanpa menunjukan bahwa saya sudah terbangun dari tidur.

Bercampur aduk rasa dalam hati, antara bingung, tak percaya, juga takjub. Sambil bersujud saya memohon ampun, berdoa dan berharap semoga ini bagian dari pertolongan Allah. Bukan ulah syetan. Boleh jadi badan secara lahiriah tak sanggup untuk bangun malam berjamaah qiamulail, karena kekelahan. Sementara hati dan fikiran berkeinginan kuat untuk tetap melakukan ibadah yang maksimal di sepuluh malam terakhir. Jika Allah sudah berkehendak, bisa saja dengan mudahnya menggerakan badan ini. Sehingga orang sekitar melihat saya seperti biasanya, bukan orang yang tidak sadar.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

2 thoughts on “Tak Sadar Sholat

  1. I just want to say,..SubhanaAllah..** Untung ga ngelidur ke luar masjid,..**

  2. Subhanallah,apapun pasti bisa terjadi bila ALLAH mengijinkan sesuatu..,ALLAHU AKBAR..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s