krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Indahnya Berbagi

Tinggalkan komentar

Adanya krisis moneter pada tahun 1997 menyebabkan banyak perusahaan gulung tikar dan pemecatan karyawan secara besar-besaran. Salah satu dampaknya adalah diri ini sulit mencari pekerjaan. Secara kebetulan berbarengan pula dengan lulusnya saya dari diploma tiga. Hampir setahun lamanya menjadi pengacara, alias pengangguran banyak acara. Akhirnya datanglah usulan dari Bunda, meminta saya untuk back to campus melanjutkan kuliah dari diploma tiga ke jenjang sarjana. Tak perlu fikir dua kali, langsung menerima dengan senang hati tawaran tersebut.

Saat masih berstatus sebagai mahasiswa ekstension yang hanya kuliah Sabtu dan Ahad, saya selalu berusaha merancang hari-hari full dengan aktifitas. Senin, Rabu Jum’at dari pagi sampai siang hari mengikuti program tahsin di Lembaga Tahfidz Al Qur’an di Al Hikmah – Jakarta. Sabtu pagi mengikuti mahad di Al Furqon, juga di Jakarta. Jarak yang cukup jauh Bogor – Jakarta disiasati dengan naik KRL. Sabtu siang dan Ahad pagi jadwal rutin kuliah, tak boleh terganggu dengan kegiatan lainnya. Dalam seminggu terisi jadwal yang super padat.

Manusia yang paling baik adalah yang paling banyak kontribusinya untuk umat. Hal inilah yang selalu memotivasi saya untuk selalu berbuat, berkontribusi dalam hal kebaikan terhadap umat. Selain jadwal yang padat untuk kepentingan pribadi (kuliah, tahsin dan mahad), saya melibatkan diri untuk bergabung dalam beberapa organisasi. Termasuk KAMMI Jaringan Bogor. Mendapat amanah sebagai ketua biro kesektretariatan, atau kestari. Sementara di lingkungan rumah, tepatnya kos-kosan, juga turut aktif dalam kegiatan Ikatan Remaja Masjid Ar Rahman (Irema) di dekat kelurahan Tegal Gundil Bogor Utara.

Sempat juga ikut dalam anggota ZISWAF salah satu BMT dekat tempat kos, bertugas sebagai humas. Bisa dibayangkan bagaimana pengaturan waktu dengan kegiatan yang cukup banyak tersebut. Belum lagi ada jadwal rutin pengajian pekanan yang wajib diikuti. Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik. Semakin banyak kegiatan, semakin baik saya mengatur waktu. Walau terkadang rasanya sangat kurang waktu 24 jam dalam sehari, andai bisa minta bonus tambahan waktu, alangkah senangnya.

Tibalah saat yang dinanti semua umat muslim sedunia, Ramadhan. Berbagai agenda sudah disiapkan jauh sebelum datangnya bulan suci, oleh KAMMI, Irema dan ZISWAF. Tujuannya tetap satu, meningkatkan kontribusi sesama umat untuk mau berbagi di bulan suci. Didukung dengan jadwal perkuliahan yang mulai longgar, program tahsin dan mahad diliburkan. Full bisa konsentrasi untuk aktif mengisi bulan suci.
KAMMI mempunyai berbagai agenda yang cukup menarik, dimulai dengan pawai keliling kota Bogor sambil menyebar pamflet berisi jadwal imsakiyah dan bulletin panduan amalan selama Ramadhan kepada setiap orang yang ditemui sepanjang pawai berlangsung. Selain itu diadakan juga bedah buku “Kupinang Kau Dengan Hamdallah” dengan pembicara Faudzil Adhim.

Dari rangkaian semarak Ramadhan yang diagendakan KAMMI, salah satu kegiatan yang paling berkesan bagi saya adalah saat membagikan ta’jil dipusat keramaian kota Bogor. Ta’jil ini merupakan sumbangan dari para dermawan yang baik hati. Sebelumnya KAMMI menyebar proposal kegiatan semarak Ramadhan, serta merta uluran tangan yang ingin turut andil dan antusias sangat banyak. Tidak perlu kami datangi satu persatu ke pintu rumah mereka, tapi justru pemilik hati emas itulah yang datang ke posko kami. Untuk menyerahkan apapun yang mereka bisa berikan untuk mensukseskan berbagai kegiatan termasuk pembagian ta’jil. Dari mulai, kolak, jajanan pasar, gorengan, koktail, sampai dana fresh kami terima.

Tiada hari tanpa serbuan para dermawan. Kali ini tugas saya dan teman-teman untuk mempersiapkan menyebar ta’jil. Targetnya adalah para sopir angkot, pejalan kaki, pedagang kakilima maupun orang-orang yang berada di sekitarnya. Dimana lagi kalau bukan di terminal bis atau stasiun. Nah tujuan pembagian ta’jil memang kesana. Terminal bis Baranang Siang dan Taman Topi (dekat stasiun kereta). Respon dari penerima ta’jil sungguh beragam, ada yang senang, bingung, bahkan ada juga menolak. Berulangkali kami jelaskan bahwa pembagian ta’jil diberikan secara gratis, barulah mereka menerima.

Pembagian ta’jil selesai beberapa saat sebelum adzan maghrib berkumandang. Hujan mulai turun lebat, bonus angin pula. Menyebabkan saya dan beberapa akhwat yang berlindung di bawah payung tetap basah kuyup. Sambil berlarian, kami pulang ke Masjid Al Ghifari, untuk sholat. Di perempatan jalan Salak, saya sempat tertegun melihat banyaknya gepeng (gelandangan pengemis) yang terlewatkan dari pembagian ta’jil tadi. Mereka mengadahkan tangan kepada kami.

“Ibu, maaf. Kami hanya punya ini, mohon diterima ya bu.” Jawab saya sambil menyerahkan kantong kresek besar yang saya bawa, di dalamnya masih ada beberapa bungkus paket ta’jil.

“Makasih neng, engga apa-apa. Alhamdulillah dapet makanan untuk buka puasa.” Jawab seorang ibu dengan sumringah. Kemudian membagikan makanan yang baru saja dia terima kepada beberapa anak kecil. Entah itu anak kandungnya atau bukan. Mendadak gerimis hati saya, melihat pemandangan itu. Bahagia terpancar dari wajah mereka padahal hanya menerima bungkusan yang berisi kolak, gorengan dan aqua gelas.

Lain KAMMI, lain pula agenda Irema. Salah satu agenda besar Irema adalah mengadakan santunan anak yatim dhuafa di sekitar kelurahan Tegal Gundil. Berbekal data dari kantor kelurahan setempat mengenai data warga miskin, kami mensurvey para mustahik. Untuk mencapai rumah mereka, kami harus berjalan cukup jauh melewati gang sempit, yang tidak bisa dijangkau oleh kendaraan. Untuk memastikan, bahwa mustahik adalah benar-benar yang berhak menerima.

Saat menyusuri rumah demi rumah, tersadar diri ini. Ternyata masih banyak warga yang hidupnya dalam kemiskinan. Rumah mereka berdinding bilik bamboo, beralaskan tanah. Terselip diantara rumah gedung dan bangunan bertingkat. Perabotan rumah mereka hanya terdiri dari balai bamboo usang, dipan kayu tak berkasur dan tungku masak dengan kayu bakar seadanya. Anak-anak kecil tampak jelas kekurangan gizi.

Tubuh kurus dengan perut buncitnya, membuat kami miris. Ibu menyusui pun tak jauh berbeda. Sama kurusnya. Informasi yang kami dapat, bahwa mereka belum tentu satu kali sehari makan nasi. Andaipun makan nasi, lauknya sangat sederhana. Tak jarang hanya nasi garam saja. Berkali-kali mata ini menggenang, menahan diri untuk tidak menangis dihadapan para mustahik saat membagikan kupon untuk pengambilan paket sembako dan santunan anak yatim.

Aura Ramadhan yang suci, memberi dampak yang cukup dahsyat. Begitu mudahnya kami mencari sponsor untuk berbagai kegiatan yang membutuhkan dana cukup besar. Beberapa toko kelontong dan supplier sembako bersedia menitipkan barang dagangan dengan system konsinyasi, ditambah dengan potongan harga yang cukup besar. Belum lagi para donator acara, yang dengan entengnya merogoh kocek lebih dalam demi suksesnya kegiatan berbagi ini. Selain mencari donatur, kami juga mengumpulkan baju layak hari raya untuk dijual secara murah kepada para dhuafa. Harganya berkisar seribu sampai limaribu rupiah. Harga yang sangat murah untuk sepotong baju. Pengumpulan baju, disambut baik oleh para penyumbang. Tak tangung-tanggung ada beberapa baju yang masih baru (masih ada labelnya) ikut disumbangkan untuk acara ini, entah dari siapa.

Rangkaian kegiatan menyemarakan Ramadhan saat itu, sangat berkesan di hati setiap kami khususnya panitia pelaksana. Segala penat dan lelah, terbayarkan saat melihat wajah para mustahik berbinar bahagia. Melihat para janda dhuafa tersenyum dan memeluk erat kami disaat menerima paket sembako. Melihat cengiran lebar dari anak-anak yatim yang menerima santunan dan paket lebaran. Ah, indahnya jika kita bisa selalu saling berbagi seperti saat itu.

Setiap Ramadhan tiba, selalu teringat akan moment tersebut. Selalu rindu untuk berkumpul dengan rekan seperjuangan, ingin rasanya mengulang kembali masa-masa dimana bisa berkontribusi seperti itu lagi.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s