krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Tiga Hari di Negeri Jin

Tinggalkan komentar

Oktober tahun 1995 saya mengikuti DIKLATSAR (Pendidikan dan Latihan Dasar) dari organisasi pecinta alam di kampus.  Peserta kali ini enam orang, tiga perempuan (saya, Gato, Mala) dan tiga laki-laki (Rahman, Rizal, Saeful). Lokasi yang akan kami tuju adalah Gunung Salak. Agenda diklat adalah mengevaluasi hasil pendidikan teori dan praktek selama hampir setahun. Diklat juga sebagai penempaan mental bagi kami anggota baru pecinta alam. Berbekal izin dari beberapa dosen kampus dan pihak keluarga masing-masing. Jumlah panitia tiga kali lebih banyak dari peserta. Mungkin antisipasi dari kondisi emergency di lokasi.

Hari pertama kami tiba di Gunung Salak, mulailah logistic kami dikurangi. Berbagai coklat, kornet, biscuit, dan banyak bekal lainnya disita oleh panitia. Menyisakan beberapa bungkus mie instan, segenggam beras, garam, dan gula. Menu makanan kami wajib dicampur dengan tumbuhan hutan yang aman konsumsi.

Peristiwa aneh pertama yang saya lihat adalah saat teman kami kelelahan, tiba-tiba saja dia berjalan ke arah pinggir jurang. Kebetulan berbarengan dengan saya yang sedang mengisi persediaan air untuk keperluan memasak. Terlihat pandangannya kosong, bahkan beberapa kali di panggil seperti tidak mendengar saya. Saat kembali ke tenda, baru tau bahwa Gato merasa ditarik seseorang untuk berjalan ke arah jurang. Mendengar itu, kami bertiga merinding (saya, Gato, Mala) segera kami duduk melingkar dan mulai tilawah.

Pembukaan jalur dilakukan juga oleh kami, menebang pohon dengan sembarang. Padahal menurut saya useless saja. Toh jalur air bisa kami gunakan sebagai jalan setapak. Justru sangat merusak hutan yang masih perawan. Semak, dan beberapa pohon kecil habis ditebang. Kami sebagai peserta hanya menurut tanpa bisa protes.

Seorang teman sempat becanda, “Entar penghuninya marah loh… kita nebang sembarangan gini. Tapi semoga biar penitianya yang kena. Kita kan disuruh aja, kalau nolak bisa kena hukuman berseri-seri. Kalo gini bukan pecinta alam namanya.” Ujar Saeful sambil bersungut-sungut karena punya prinsip yang sama dengan saya, beranggapan bahwa kita justru bukan pecinta alam, tapi perusak alam.

Hari ketiga ternyata ada kejadian aneh, di camp kami (kelompok putri) terdengar geraman cukup keras, ditambah lagi bau busuk yang semakin menyengat. Bulu kuduk berdiri, merasa seperti ada angin yang tiba-tiba bertiup di punggung kami. Semakin merapat posisi kami duduk.

Ternyata bukan hanya kami yang mengalami kejadian aneh malam itu, Camen (panitia paling galak) yang sedang buang hajat berjarak sekitar 30 meter dari camp kami, melihat bola mata berwarna merah darah yang mengelilingi kepalanya. Sontak saja dia langsung bergidik merasa ada sosok yang sedang mengamati dan menggeram marah, dengan langkah seribu dia kembali ke camp panitia. Begitu juga dengan Budi, di jalan setapak yang kanan kiri jurang dia melihat sosok berdiri beberapa meter di depannya dengan rokok menyala di tangan. Sosok mirip Rahman. Saat dipanggil, sosok tubuh itu mendadak hilang dari pandangan. Padahal posisi Rahman di belakangnya, dan tidak ada akses untuk melewatinya.

Hari terakhir ini kami dipanggil untuk interview, padahal cukup larut sekitar jam satu malam. Satu peserta diinterview oleh dua orang panitia. Saya diajak masuk lebih jauh ke dalam hutan, sekitar 50 meter dari camp terakhir.  Berbekal satu senter untuk menerangi kami bertiga, saya berjalan paling belakang. Ngeri juga, karena sumber cahaya sangat terbatas, rasa takut makin menjadi. Lisan terus dzikir, mohon perlindungan Allah.

Tiba di satu tempat, saya disuruh duduk. Saya sempat menolak, karena kondisi sudah berganti baju bersih, dan siap tidur. Sementara tanah basah & becek bekas hujan seharian. Dua panitia berdiri di hadapan saya, Ahmad di kiri dan Anisa di kanan. Sesekali Ahmad menyorotkan senternya ke kaki kemudian ke mata saya. Berulang-ulang seperti itu, menyilaukan mata. Tiba-tiba Anisa berpindah tempat ke sebelah kanan Ahmad.

“ Mata kamu kenapa? Kok merah begitu.” Tanya Ahmad mengagetkan saya.

“ Silau, tolong jangan sorot mata.” Pinta saya

Interview belangsung singkat, bergegas Ahmad dan Anisa berjalan cepat kembali ke camp panitia. Saya tetap di belakang mereka. Beberapa kali Anisa menengok kebelakang. Seperti melihat sesuatu yang tidak beres, tapi saya tidak berani bertanya.

Belakangan baru tahu ternyata Ahmad melihat mata saya berwarna merah menyala dengan wajah bukan saya, itulah alasannya mengapa berkali kali menyorot ke arah mata dengan senter. Sementara Anisa merasakan ada yang berpegangan kuat di pundaknya, itulah yang menyebabkan dia berpindah posisi secara tiba-tiba. Padahal saya tidak merasakan hal aneh, hanya takut dan kantuk yang tiba-tiba menyerang dengan hebat. Hampir saja saya tertidur jika tidak segera di tarik kuat oleh Anisa. Indikator adanya dunia lain di sekitar saya.

Sampai di camp, ternyata keadaaan makin tidak kondusif. Ketua panitia kerasukan. Teriakannya yang keras membuat kami ngeri, apalagi bukan suara asli sang ketua. Beberapa panitia membantunya, dengan membaca Qur’an dan berusaha menenangkan. Sementara beberapa panitia yang lain akhirnya menutup Diklat kali itu. Mengukuhkan kami sebagai anggota baru pecinta alam dengan nama Wana Banyu, karena selama tiga hari berturut dalam hutan diguyur hujan.

Sebagai peserta kami cukup miris melihat kondisi DIKLATSAR ini, mengingat panitia mayoritas muslim, tapi sangat disayangkan hanya 1-2 orang saja yang tetap menunaikan kewajibannya untuk sholat lima waktu apalagi tilawah atau dzikir. Hanya segelintir dari panitia yang sadar untuk menghormati keberadaan mahluk lain di hutan Gunung Salak ini.

Sementara sebagian besar panitia masih sembarangan berkata kotor, membentak kami, menghukum, bahkan sampai kontak fisik (menampar peserta). Lupa akan posisi keberadaan mereka. Bahwa ada alam lain selain kami. Bukankah dalam Qur’an jelas ditulis, “Tidak aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku”. Duh…. Robbi…, begitu lalainya kami, bahkan dalam kondisi tak berdayapun lupa memohon pertolongan dan pelindungan-Mu.

Jadi teringat akan guyonan Saeful tentang harapannya agar penghuni hutan hanya marah kepada panitia. Memang benar adanya, sebagian besar kejadian mengerikan menimpa panitia. Dari enam peserta hanya Gato saja yang sempat diganggu. Walaupun kami juga sempat mendengar suara aneh dan mencium bau busuk, Alhamdulillah tidak lebih dari itu. Bisa jadi yang awalnya guyon justru menjadi kenyataan. Ke depan harus lebih hati-hati lagi dengan lisan kami.

Diklat kali ini meninggalkan pesan yang begitu dalam, bahwa sebagai mahluk yang lemah. Ternyata tiada daya dan upaya apapun. Ada alam lain yang harus kami akui keberadaannya. Mereka tidak akan mengganggu jika kita berlaku lebih arif dengan tidak merusak rumah mereka. Hutan adalah rumah mereka, wajar saja jika mereka marah dalam bentuk menampakkan wujud, atau hal lainnya.

Syukur Alhamdulillah, kami selamat dan dalam kondisi baik kembali ke kampus. Kecuali ketua panitia, beberapa kali masih juga kerasukan Jin dari Gunung Salak. Butuh waktu cukup lama, untuk benar-benar terlepas dari pengaruh jin tersebut. Pelajaran berharga agar lebih hati-hati dalam lisan dan perbuatan. Tiga hari di negeri Jin, merupakan moment tak terlupakan bagi kami.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s