krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Ribut Mulut Dengan Pemabuk

Tinggalkan komentar

Menghabiskan weekend ke rumah salah seorang kakak, adalah agenda pagi ini. Rumahnya terletak di daerah Ciracas, dari Condet kami naik angkot 07 kemudian menyambung 03 jurusan Kelapa Dua Wetan. Saya duduk dipojok bagian bangku pendek yang memuat empat orang penumpang. Sementara kakak duduk di bangku yang memuat enam orang penumpang. Tepat di hadapan duduk dua orang lelaki. Umurnya mungkin sekitar dua puluh tahun. Tepat di sebelahnya kosong jeda satu orang penumpang lagi. Entah mengapa si cowok gondrong justru bergeser mendekati posisi kakak, bukan mendekat ke temannya yang duduk di pojok tepat  berhadapan dengan saya.

Awalnya tidak menaruh curiga, sampai pada saat ada seorang ibu yang naik ke angkot. Si Ibu dengan tentengan cukup banyak kesulitan duduk, karena si gondrong enggan bergeser mendekati temannya yang di pojok. Wajahnya lusuh, matanya merah dan agak berbau alcohol saat dia berbicara dengan temannya. Angkot kali ini berhenti untuk mengambil penumpang. Dua orang naik, satu orang duduk di bangku tambahan, satu lagi duduk di bangku enam tetap disebelah kanan kakak, tapi karena “penumpang mata merah” di depan saya tidak mau bergeser, alias maunya deket – deket kakak. Akhirnya saya angkat bicara.

“Tolong geseran dikit dong, kasian ibu itu duduknya susah.” Saya bicara dengan nada yang dasar sama dengan C, halah… ini ngomong atau nyanyi.

“Mau apa lu, mau ribut sama gua?” Si Gondrong menjawab dengan agak marah, posisi duduknya jadi lebih tegak, dengan mata menatap tajam ke arah saya.

“Gue ga mau rebut. Cuma minta tolong duduknya geser sedikit, ibu itu mau duduk juga.” Jawab saya yang agak naik intonasinya, sambil menunjuk seorang ibu yang posisi duduknya hanya menempel pada jok kursi nyaris berjongkok dengan memegang tentengan belanjaan segambreng.

“Jadi mau lu apa? Kalo gua ga mau geser, mau ribut lu?” dengan nada yang makin meninggi, dan posisi tangan mengepal, seperti mau meninju saya.

“Gue ga mau ribut, Lu aja yang buta dan ga bisa mikir. Kasian tuh si ibu mau duduk susah gara-gara elu ga mau geser dikit, emang ini mobil Lu, apa?” Jawab saya yang makin sewot juga, sambil menunjuk wajahnya yang semakin tidak sedap dipandang.

“Eh udah, udah, kok malah jadi ribut. Ini juga ga tau malu. Beraninya sama perempuan.” Akhirnya kakak ikut bicara. Mungkin takut kalau adiknya ini ditinju cowok gondrong bermata merah itu.

Si gondrong mendadak diam, menatap saya ragu.

“Eh, elu ini cewek, bukannya cowok?” Dia balik bertanya pada saya, kali ini nadanya agak menurun. Tidak segalak dan segarang tadi.

“Emang kenapa kalo gue cewek.” Saya jawab dengan ketus, masih kesal.

“Gue kirain cowok.” Jawabnya pelan, sambil menundukkan kepalanya. Malu.

Jujur dalam hati, bersyukur, Alhamdulillah, jika tidak segera dilerai kakak, mungkin sudah terjadi adu jotos di angkot. Tidak lama kemudian mereka berdua turun, tak lupa mereka berdua meminta maaf pada kami. Sementara penumpang yang lain hanya senyum dan geleng kepala melihat saya. Memulai hari dengan insiden yang kurang menyenangkan.

“Lis, besok – besok jangan begitu lagi ah, tadi hampir aja berantem sama orang.” Kakak mengingatkan saya, begitu kami turun dari angkot.

Saya cuma bisa nyengir, tapi dalam hati berjanji, besok harus lebih hati – hati. Tidak boleh ceroboh dan terpancing emosi menghadapi orang. Thanks sista, tanpamu muka manis ini bisa tak manis lagi karena bonyok dijotos orang.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s