krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Ramadhan terindah bersama Bunda

1 Komentar

Dengan adanya pengiriman tenaga medis secara besar besaran, akhirnya sampailah Bunda di Saudi Arabia, tepatnya kota Jeddah. Sebagai perawat yang bertugas di rumah dengan pasiennya ibu tua yang buta dan lumpuh. Keluarga kaya di Jeddah.

Setiap dua minggu sekali Bunda mengirimi kami surat. Bercerita, bahwa pasiennya yang buta sangatlah galak, setiap hari ada saja yang membuat pasian ini marah –marah. Banyak pembantu yang tidak betah tinggal di rumah itu. Mungkin Bundapun juga merasa demikian, tapi karena demi kami anak – anaknya Bunda tetap bertahan, apapun keadannya. Walaupun selalu kena marah setiap hari, walau tidur hanya 1- 2 jam sehari, tetap tabah menjalani semua. Tekadnya hanya satu demi anak –anak.

Seperti sebelumnya, setiap bulan selalu Bunda mengirim kami uang untuk keperluan sekolah. Bukan hanya sebagian dari penghasilan Bunda, tapi hampir keseluruhan gaji yang diterima dikirimkannya untuk kami. Terkadang uang yang tersisa di tangan Bunda sangat minim. Pesan yang selalu saya ingat,
“ Jangan tinggalkan sholat, sekolah yang rajin”

Begitulah kami hidup, tanpa pengarahan langsung dan belaian sayang seorang Ibunda. Karena beliau berprinsip, jika tidak berjuang di negeri orang, kami akan sulit sekolah sampai tinggi. Karena butuh biaya yang tidak sedikit. Bunda tak mau kami susah dikemudian hari.

Setiap surat yang saya terima menceritakan keadaan yang indah di sana, jarang sekali Bunda bercerita tentang sulitnya hidup di negeri orang. Mungkin lain cerita isi surat untuk kakak yang lebih dewasa. Surat untuk saya isinya menyemangati untuk rajin belajar. Padahal kalaulah saat itu saya sudah mengerti tentunya setiap menulis surat, pasti selalu diiringi air mata karena Bunda menahan rindunya pada kami.

Dua tahun bertugas di Jeddah, Allah mentakdirkan pasien Bunda tutup usia. Hampir bertepatan selesainya kontrak. Pulanglah Bunda ke Indonesia, tentunya kami sambut dengan penuh sukacita. Saat itu saya kelas 5 SD, kakak pertama saya baru saja menikah dan dikaruniai seorang anak.

Kepulangan Bunda, selama 3 bulan sangat membekas dihati kami. Saat itu menjelang Ramadhan. Bulan puasa terindah sepanjang hidup saya. Kami tinggal dirumah kontrakan dekat sungai Cipinang (masih di daerah Ciracas Jakarta Timur).

Bersama Bunda, terasa indah dunia. Kami berempat (mba Dewi, mba Susi, saya dan Iyo si bungsu) sangat bahagia. Kakak kedua saat itu kuliah di IKIP padang (mendapat PMDK). Puasa yang saya rasakan sangat berbeda. Waktu sahur dan berbuka sangat dinanti kami, untuk berkumpul bersama. Menu yang unik dan lezat selalu tersedia untuk kami. Seringpula kami duduk membentuk lingkaran mendengar cerita saat pergi menunaikan Haji, saat bertugas mengurus pasien, dan banyak hal lainnya.

Menjelang idul fitri, Bunda mengajak kami ke Ramayana Cililitan. Saya yang sedang berpuasa hampir batal karena kehausan. Tapi hebatnya Bunda, tetap menyemangati saya untuk tidak membatalkan puasa. Mendekati hari raya, kami diminta menuliskan makanan apa yang kami inginkan ada dihari raya. Semua menulis di secarik kertas dan digulung (seperti orang arisan). Kemudian Bunda memilih beberapa gulungan kertas dan membukanya, untuk menentukan hidangan apa yang akan disiapkan dihari raya. Subahanallah indah….sekali. Saling berebut agar kertas salah satu dari kami yang diambil.

Saat takbir menggema, saya lihat mata Bunda basah. Karena teringat empat kali hari raya tidak bersama kami, anak – anak yang disayanginya.

“ Alhamdulillah…., Ya…Allah, Engkau pertemukan hamba dengan anak – anak di hari raya ini”. Air mata Bunda semakin deras.

“Doakan Bunda, panjang umur ya nduk, supaya bisa menyekolahkan kalian biar jadi orang, biar besar nanti hidupnya tidak susah. Ngga apa – apa Bunda susah di negeri orang, asal kalian bisa sekolah.” Ucap Bunda disela tangisnya

“ Jadi anak yang sholeh/sholeha ya, nduk, yang selalu mendoakan orangtuanya.”
Satu persatu kami dipeluk, lama…sekali, hangat, diciumnya kepala kami. Sambil sesekali mengusap air mata yang terus membasahi pipinya.

Juga dimata ketiga kakak saya (mba Eha, mba Dewi dan mba Susi), saya yang masih lugu termangu tidak mengerti. Mengapa semua mata jadi sembab, dengan derai air mata. Yang saya rasakan saat itu hanya kebahagiaan yang sangat. Dan belum pernah terulang lagi sampai sekarang, karena sebulan setelah itu ibu berangkat ke Jeddah. Untuk waktu yang sangat lama.

Sebelum keberangkatan Bunda dan mba retno ke Jeddah

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

One thought on “Ramadhan terindah bersama Bunda

  1. Membaca tulisan mu ..membuatku menitikkan air mata,..I love her so much,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s