krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Pede Bikin Malu

1 Komentar

“Dila, hari ini CV. Yasmin akan kirim chemical ke workshop. Tolong diurus ya, katanya ada oleh-oleh pempek Palembang juga dari pak Hendra.” Perintah Ibu Lia sang manager kepada saya.

“Baik bu, nanti saya terima chemicalnya. Langsung dikirim hari ini ke Duri kan bu?”Tanya saya.

“Jangan, besok saja tunggu satu item lagi yang mau datang. Saya masih meeting di head office, kamu tolong confirm ke team workshop ya, untuk packing dan cari kendaraan.”Jawab bu Lia plus perintah baru lagi.

“Baik bu.” Jawab saya singkat.

Satu jam lebih dari waktu bu Lia menelpon, barang dari CV. Yasmin tiba. Segera saya bergegas ke lobi. Ternyata sudah menunggu seorang bapak berkaca mata dengan membawa tentengan plastic putih. Senyumnya mengembang begitu melihat kedatangan saya.

“Mba Dila, ya?” Tanyanya kepada saya, sambil mengulurkan tangan menjabat tangan.

“Oh, iya pak. Saya Dila.” Jawab saya

“Ini ada titipan dari pak Hendra untuk bu Lia.” Ujar si bapak sambil menyerahkan kantong plastic putih.

“Terimakasih banyak pak, kebetulan bu Lia sedang meeting di HO. Jadi saya mewakili beliau. Tolong sampaikan salam saya dan terimakasih untuk pak Hendra ya.” Saya mencoba seramah mungkin dengan si bapak supplier.

“Iya mba Dila, sama-sama.” Jawab si bapak.

Dalam hati bimbang, kok si bapak menjawab ‘sama-sama’. Bukankah yang berdiri dihadapan saat ini adalah asisten atau pegawai pak Hendra. Atau sekedar basa-basi mewakili atasannya juga seperti saya.  Ah, yakin saja pastinya bapak ini bukan pak Hendra si bos supplier. Dari tampangnya tidak terlihat seperti bos-bos pada umumnya. Penyakit sok tau kumat.

Keesokan harinya, bu Lia menginformasikan kepada saya dan teman purchasing bahwa kami diundang buka puasa bersama oleh pak Hendra sang supplier. Senang hati menerima tawaran manis, tanggung bulan begini adalah moment perbaikan gizi untuk anak kos seperti saya.

Kami berlima diantar driver, berangkat ke sebuah resto tak jauh dari HO. Saya, bu Lia, Ical, dan dua rekan dari purchasing. Tiba di resto jam lima lewat limabelas, Maghrib masih lama. Di dekat pintu masuk, saya melihat seorang bapak berkaca mata sedang duduk asik mengobrol dengan seorang marketing perumahan. Ah, rupanya si bapak yang kemarin kirim chemical. Karyawan pak Hendra datang juga, fikir saya.

“Assalamu’alaikum, bu Lia, Dila.” Sapa si bapak kacamata kepada saya dan bu Lia.

“Wa’alaikumsalam, pak. Loh bapak yang kirim chemical kemarin ya? Pak Hendra yang mengundang kami mana, pak? Belum datang ya?” Tanya saya, sambil menjawab salam beliau.

“Ssst, Dila. Ini pak Hendra.”Bisik Ibu Lia di samping saya, sambil menangkupkan kedua tangannya di dada tanda salaman jarak jauh ke arah pak Hendra.

Waduh, saya terkaget. Oh, lala. Ternyata si bapak kacamata adalah pak Hendra, bosnya supplier.

Pantas si bapak tidak menjawab pertanyaan saya, justru tersenyum saja. Alamak, malunya. Ingin segera bersembunyi di balik badan bu Lia. Tapi tak bisa. Untungnya tak ada yang memperhatikan perubahan wajah ini, mendadak merah kuning hijau. Terpaksa, saya berjabat tangan juga dengan pak Hendra. Tampaknya si bapak tidak mempermasalahkan hal itu. Atau, sekedar menenangkan hati saya saja. Aih, benar-benar malu.

Sampai di dalam, saya ambil posisi tempat duduk agak menjauh dari si bos supplier. Tepat di sebelah bu Lia yang memilih hampir di pojok salah satu sisi meja. Sepanjang buka bersama, ingin tertawa mengingat kebodohan kemarin. Akibat pede yang berlebihan, efeknya cukup memalukan.

Sumber: Staff laboratorium kantor, Dila.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

One thought on “Pede Bikin Malu

  1. wkkkkkk..ngakak sndiri nda bca na..kBayang wjh “polos” na mb dila…hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s