krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

No Way Turun

Tinggalkan komentar

Judul di atas diambil dari sebuah film dengan pemeran utama Van Damme, salah satu actor film laga favorit saya, selain Jet Lee dan Jacky Chan. Tetapi ini tidak ada hubungan sama sekali dengan film tersebut. Juga bukan salah tulis. Memang maksudnya tidak ada jalan untuk turun, bukan No way to run. Mau tau turun dari mana? Silahkan disimak cerita berikut.

Sungguh damai memang berada di ketinggian seperti saat ini. Jangan berfikir saya sedang berada di puncak gunung. Ketinggian yang dimaksud adalah di atas pohon, bertengger laiknya burung. Sambil menikmati bergerombol duku yang manis. Jika ditimbang mungkin lebih dari satu kilogram duku yang sudah saya habiskan. Ini doyan atau lapar ya.

Merasa lelah berpegangan pada salah satu dahan, kali ini berpindah posisi naik ke atas atap lantai dua. Duduk bersila di atas atap sambil menghabiskan hasil panen duku mendadak, tanpa izin sang pemilik pohon. Awas ada pencuri dukuuu

Hampir satu jam saya duduk di atas atap lantai dua, sendiri menikmati buah duku yang manis. Tiba-tiba saja terdengar suara memanggil. Ah ternyata Ibu angkat saya, yang juga sang empunya pohon duku yang sedang saya nikmati buahnya.

“Liiis, kemana ini anak. Dicari dari tadi ngga kelihatan juga. Mba iroh liat lis ngga?” Tanya Ibu Sri ke mba Iroh yang sedang di balkon lantai dua tepat di bawah posisi saya duduk. Suaranya jelas terdengar.

Jika saya bergerak sedikit saja dan minimbulkan suara pastinya Ibu akan curiga ada something di atap rumahnya. Maklum saja atapnya dari asbes, tanpa plafond. Salah injak bisa jeblos. Alih alih turun, saya makin menyepi di atap, keep silent. Sesekali melongok ke bawah, barharap tak ada lagi Ibu Sri yang sedang mencari terdakwa si pencuri duku.

Sudah dua jam, mulai terasa seperti dipanggang. Panas mulai menyengat kulit, bayangan tubuh hamper tepat di atas kaki. Harus segera turun, jika tidak ingin jadi krupuk kulit garing. Tubuh saya yang kurus, sering jadi bahan ejekan “tinggal kulit dengan tulang”, artinya saya bisa jadi bahan krupuk kulit. Asal banget.

Perlahan mulai beranjak dari duduk. Kedua tangan berpegangan erat pada dahan, sementara kaki kanan mulai menggapai salah satu dahan besar yang menjorok ke atap. Hup..Berhasil. Tahap selanjutnya turun perlahan sampai pada dahan yang berjarak tak lebih satu meter dengan balkon lantai dua. Dahan terakhir yang bisa dipijak, sebelum batang pohon besar lurus sampai ke tanah. Saat menengok ke bawah, mendadak pusing, telapak tangan pun basah keringat, hati ini mencelos, nyali mendadak ciut. Ternyata posisi cukup tinggi, hampir empat meter dari tanah. Terbayang jika saya terpeleset dan jatuh, pastinya akan cidera berat.

Seharusnya bisa dengan mudah melangkahkan kaki agak lebar untuk mencapai balkon. Toh tadi saat naikpun berawal dari balkon, tidak dari bawah. Tapi entah mengapa saya tidak percaya diri. Melihat kondisi yang menghawatirkan, segera ambil inisiatif. Mumpung mba Iroh posisinya tepat di bawah saya sedang menyapu di halaman samping.

“Mba Iroh…, minta tolong ambilin tangga dong, saya mau turun nih.” Pinta saya dengan memelas.

Mba Iroh bingung, tengok kanan kiri tak seorangpun yang dia lihat. Kembali ia melanjutkan pekerjaannya.

“Mba… saya di atas pohon duku nih, liat ke atas.” Suara kali ini agak dinaikkan volumenya.

Mba Iroh, mendongak. Kaget dia melempar sapu lidi yang dipegangnya, bergegas mendekati pohon duku tempat saya berpijak.

“Ya Ampun mba…, ngapain di atas pohon situ? Ayo ndak turun. Ibu dari tadi nyariin si mbak.” Ujarnya khawatir, sambil melambaikan tangannya pertanda menyuruh saya segera turun dari pohon duku.

“Mba Iroh, tanya-tanyanya nanti dulu, sekarang tolong ambilin tangga, biar saya bisa turun. Cepetan ya, jangan sampai ibu tau.” Jawab saya makin memelas. Telapak tangan mulai berkeringat.

Alhamdulillah, dengan sikap dan cekatan mba Iroh membawa tangga bambu. Maklumlah bodynya yang kekar tidak sulit untuk mengangkat tangga yang cukup berat. Jika diamati seksama, tubuh mba iroh lebih mirip atlit pelatnas angkat berat. Dalam hitungan menit, saya berhasil turun dari pohon dengan selamat. Sebagai ucapan terimakasih, saya bantu mba Iroh mengembalikan tangga ke posisi semula plus dengan sekantong duku.

“Mba Lis, piye toh, iso mundak ra iso mudun.” Protes mba Iroh.

“Saya juga ga tau, mba. Kenapa pas naiknya kok gampang banget, tapi giliran turun takutnya minta ampun. Seperti mau jatuh gitu.” Jawab saya.

“Bukan sekali saja mba begini, setiap naik pohon selalu ngerepotin orang pas turun. Aneh banget, bisa naik pohon sampai tinggi tapi takut kalau turun. Besok-besok ngga usah naik pohon lagi mba, nanti ngga bisa turun. Lah iya kalo pas saya ada, bisa bantuin mba, kalau ndak ada orang di bawah piye, bisa di atas pohon seharian, apa mau?” Sebuah nasehat yang manis namun dalem. Teganya dirimu mba.

Setelah kejadian di atas apakah saya kapok? Ternyata tidak. Climbing is my hobby. Panjat tebing belum kesampaian pemanasannya dari yang ringan terlebih dahulu. Panjat pohon. Walau selalu susah turun.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s