krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Idul Adha with krucil

Tinggalkan komentar

Jum’at pagi suasana rumah mulai hiruk pikuk mempersiapkan hari raya Idul Adha. Ini kali kedua kami merayakan Idul Adha di Cikarang. Jika setahun yang lalu kami boyongan ke Bogor untuk merayakan disana, tahun ini agak berbeda. Kami terpaksa merayakan dengan dirumah saja, karena kondisi kesehatan anak-anak yang baru membaik setelah sakit batuk dan flu yang cukup lama. Dan kondisi cuaca yang tidak memungkinkan jika berpergian jauh, kendaraan yang kami punya tidak support (ngeri mogok dijalan).

Jam 6.00, saya mulai membangunkan Iffa. Semalam padahal tidur cukup larut, tapi kalau mau ditinggal takut nangis. Perlahan Iffa saya bangunkan, matanya masih riyep-riyep, guling kesayangannya masih dalam pelukan. Bahkan makin erat dipeluknya saat saya usap pipi gembilnya.

“ Kakak…., mau ikut sholat Ied di Masjid ga?” tanya saya sambil mengusap lembut kepalanya.

Tubuhnya tambah merinkuk dan berbalik membelakangi saya.

“ Mau ibuu, kakak mau ke Masjid.” Jawab iffa perlahan.

Kemudian saya lihat matanya mulai terbuka lebar  (ga lebar banget sih, karena mata Iffa memang dasarnya agak sipit).

Iffa mulai nyambung, mengamati saya sejenak dan bertanya

“ Ibu udah kelja?” tatapannya tak lepas memandangi saya yang sudah berpakaian rapi.

“ Hari ini ibu ngga kerja sayang, libur. Kan Lebaran.” Jawab saya

“ Ibu libul?” tanya iffa lagi, dengan senyum mengembang dibibirnya.

Duh…pertanyaan Iffa membuat saya sedih.  Gadis kecilku sudah mengerti arti makna libur. Bahwa libur artinya ibunya akan berada dirumah, bisa bermain sepuasnya dengan dirinya.

“ Iya nak hari ini libur, yuk kita ke kamar mandi.  Karena dingin kakak cuci muka aja ya.” Saya pun menggendong Iffa ke kamar mandi.

Beberapa menit Iffa masih diam, biasanya kalau bangun tidur langsung berkicau meramaikan suasana rumah. Tapi pagi itu mungkin iffa belum ‘nyambung’ benar. Sepanjang saya memakaikan baju, tidak ada perlawanan atau protes sama sekali. Tidak seperti biasanya, yang harus berlari-lari mengejar Iffa hanya untuk memakaikan minyak telon, bedak, atau baju. Tak jarang pula jika pakaian yang kita pilihkan tidak sesuai dengan keinginan Iffa. Biasanya dia mogok tidak mau dipakaikan baju yang tidak cocok.

“Ibu, kakak pake jilbab ya? Sama kaya ibu, sama kaya nenek.” Iffa berkata sambil saya pakaikan baju.

“ kakak mau pakai jilbab?” tanya saya

“ mau bu.” Jawabnya.

Setelah semua siap, pasukan kecilku pun berangkat. Tak lupa berbekal dua botol susu siap minum (my 2 angels masih ngedot).

Sampai di Masjid At Taqwa, parkiran penuh. Wuah….ternyata banyak juga muslim di perumahan ini. Tapi kok ga pernah kelihatan ya? (apa saya yang kurang gaul)

Dengan berjalan agak tergesa, kami pun mencari tempat sholat untuk wanita. Full….., tak ada tempat tersisa. Akhirnya terpaksa sholat di bagian shaf paling belakang (aslinya jalur orang hilir mudik). Sepanjang sholat, iffa berdiri dengan tenang, tidak nangis atau beranjank dari tempatnya semula. Tetap berdiri dengan manis disebelah kiri saya.  Sesekali iffa memegang punggung saya saat sujud.  Sementara Rif’an menangis dalam gendongan teteh Mira. Mungkin panik lihat kerumunan orang yang tidak dikenalnya.

Setelah selesai sholat Ied, jamaah mulai banyak yang meninggalkan tempat sholatnya. Akhirnya saya masuk ke dalam masjid untuk mendengarkan khutbah. Iffa tetap tenang. Duduk manis dipangkuan saya. Mengingatkan saya saat Iffa sering diajak ‘ngaji’ ke At Tin ataupun ke masjid lainnya.

Pulang dari masjid, Iffa mengguman tidak jelas. Baru saya sadar ternyata Iffa sedang takbiran.

“Allah…di akbang….Allah…di akbang.” Maksudnya Allahu Akbar.

Subhanallah…., baru mendengar beberapa kali Iffa langsung hafal takbiran.

“ Hayuk kak, kita takbiran lagi.” Takbiran pun berlanjut sampai kami tiba di rumah.

Sesampai dirumah kami liat acara televisi yang meliput penyembelihan hewan Qurban.  Tiba-tiba saja Iffa bertanya.

“Ibu, kambing kakak mana? Kakak mau potong kambing.” Iffa bertanya sambil menunjuk televisi yang sedang menayangkan penyembelihan hewan qurban.

“kambing kakak dipotong di bogor aja ya, titip sama Abi.” Jawab saya.

“ Kakak mau liat.” Wah…repot nih pikir saya.

“Nanti tunggu ayah ya…., “ janji saya. Iffa pun mengangguk senang.

Idul Adha yang cukup berkesan, bertemu dengan komunitas muslim. Mengenalkan anak-anak pada masjid dan  Insya Allah akan berlanjut setelah Idul Adha ini. Semoga.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s