krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Dilarang ke Dapur

Tinggalkan komentar

Umumnya seorang gadis mempunyai hoby masak walau tidak mahir. Jangan berfikir salah satu hobby si tomboy ini adalah memasak dan punya mimpi menjadi master chef. Alih alih memasak yang rasanya mak nyus, saya akan diusir dari dapur dengan tidak hormat oleh kakak tersayang.  Mengganggu stabilitas keamanan dan kenyamanan dapur, mereka bilang.

Alasan mengapa saya tidak begitu suka memasak adalah karena dari dalam diri ini kurang piawai dalam hal mengatur komposisi rasa, mengolah makanan, bahkan memegang alat masak seringkali meragukan dan mengundang protes. Pernah diprotes salah satu kakak, saat sedang memegang centong sayur.

“Ya ampun, Lis. Kok megang centong sayur seperti sedang pegang pulpen. Memangnya mau nulis pakai centong sayur? Yang bener atuh.” Tegur mba Susi, sambil membenarkan posisi tangan saya.

“Sama aja mba, yang penting sayurnya bisa diambil dari panci. Gitu aja kok repot.” Jawab saya sambil ngeloyor pergi

Alasan lainnya adalah kebiasaan buruk saya jika bertemu dengan pisau, kurang berhati-hati saat menggunakan.  Pernah pada hari yang sama berkali-kali tangan ini terpotong. Saat itu Mba Susi sedang masak sayur asem. Terlihat dia sedang memotong kacang panjang tepat di atas panci yang mengepul, langsung dengan telapak tangan sebagai talenan dengan begitu mudahnya. Tiba-tiba datang tamu, bergegaslah kakak keluar dan meminta saya melanjutkan pekerjaannya.

Tanpa fikir panjang, dengan kepedean yang cukup tinggi diri ini melakukan aksi yang sama. Masa iya memotong kacang panjang saja tidak bisa, ter-la-lu. Belum habis satu sulur kacang panjang, sret..sret… tangan terasa perih. Benar saja, pisau bukan memotong si kacang panjang, tapi menggores telapak tangan dan jari. Darah segar menetes, hampir saja masuk ke dalam panci jika tidak segera balik kanan, kabur cari kotak P3K.

Insiden kedua saat membuka bungkusan plastic berisi bumbu masak. Kesulitan membuka akhirnya digunakanlah pisau. Kejadian bisa ditebak dengan mudah, plastic terbuka bonus jari ikut tergores. Kembali darah menetes sampai lantai dapur. Bahkan sampai lantai warung depan rumah saat membeli plester untuk membalut luka akibat stok di kotak P3K habis. Penjaga warung sampai heboh melihat tetesan darah dari jari tangan yang terluka. Hebohnya.

Kejadian selanjutnya saat mengupas bawang, selain agak takut memegang pisau karena sudah dua kali terpotong, si bawang juga membuat mata ini perih. Akibatnya mata tidak bisa sempurna melihat si korban eh bawang. Bisa ditebak saudara-saudara, bukan bawang yang terkupas dengan sukses, tapi tangan terpotong, lagi?

Pengalaman hari itu cukup membuat saya trauma dengan pisau. Lain kesempatan setiap memegang pisau, selalu saja tangan ini terluka. Bahkan pernah saat tangan tergores, si pisau jatuh hampir menancap di kaki jika saja terlambat melompat. Sejak saat itu, saya menyatakan bahwa pisau adalah musuh, so menjauhlah kau dariku pisau.

Bukan hanya pisau yang menyebabkan harus menjauh dari dapur. Selain pisau, saya juga kurang bisa mengolah makanan dengan benar, termasuk mengatur waktu dalam memasak. Buktinya, menanak nasi hasilnya jadi arang. Masak air, hasilnya kering kerontang, bahkan ceret special untuk masak air yang bisa berbunyi “Tuut”. Tutup yang terbuat dari plastic meleleh lumer, rusak tak bisa berbunyi lagi. Masak lainnya, dijamin dengan pasti tidak akan ada yang menyentuh makanan tersebut termasuk saya. Karena rasanya tidak meyakinkan. Masak sop, rasa sayur asem. Masak sayur bening, kebanyakan gula garem. Masak telur dadar garamnya seringkali tidak merata, bahkan ada serpihan kulit telur ikut tergoreng. Masak mie instan pilihannya dua, kurang matang atau terlalu matang alias lodor. Duh, parah banget sih daku.

Selain masak makanan sehari-hari, membuat kue kering menjelang lebaran bukan hal yang aneh bagi keluarga kami, kecuali saya. Lebaran saat itu, mba Retno membuat nastar modifikasi. Bentuknya tidak bulat dengan hiasan batang cengkeh atau sukade, tapi lebih imut. Nastar berbentuk keranjang kecil dengan tali-tali yang melintang di atasnya. Dibuat dengan cetakan almunium berbentuk mangkuk kecil seukuran jempol tangan. Saya coba membentuk keranjang imut itu. Satu dua kali gagal, mencoba lagi, berkali-kali dengan hasil akhir sebuah keranjang yang tidak sesuai standar “keranjang imut” ala mba Retno. Tidak lolos kualifikasi bentuk nastar. Kesabaranpun mulai diuji.

“Mba, bikin nastarnya jangan susah-susah begini dong. Bikin aja bulat-bulat, templokin kismis, sukade atau batang cengkeh gitu. Kan jadi cepet beres. Dua kilo adonan kapan selesainya, kalau harus dibuat keranjang super imut begini.”Keluh saya panjang kali lebar, sambil melempar adonan ke dalam baskom. Kecewa tidak berhasil membentuk satupun keranjang imut yang amit-amit susahnya.

“Yang sabar dong Lis, namanya juga bikin kue. Biar bentuknya bagus dilihat, memang harus ada variasi jangan bulet-bulet terus. Nah, kalau sudah matang kan cantik. Nih lihat, bagus kan.” Jawab mba Retno, sambil menunjukkan hasil keranjang imut yang sudah tersusun dalam toples.

“Kalau di mulut rasanya sama aja mba, mau bentuk keranjang, bentuk bulan sabit, atau bulat. Rasanya tetap nastar, ada asin, ada manis, ada selai nanasnya.” Sanggah saya hopeless.

“Ya udah deh, kalau ga sabaran mending tunggu oven aja. Tolong dilihat kuenya, jangan sampai gosong.” Jawab Mba Retno yang agak kesal menghadapi adiknya yang mulai protes.

Alhasil, saya terusir dari ajang membentuk keranjang imut yang amit-amit itu. Duduk manis di depan oven untuk bersauna, sesekali inspeksi si kue-kue cantik yang siap diangkat. Kalau sampai gosong, bisa dapet kuliah dua sks tentang menjaga kue dalam oven dengan baik dan benar. Uh…ogah.

Niat baik saya untuk belajar masak atau saat turun ke dapur selalu berujung pada posisi yang kurang menyenangkan. Jika tidak di depan oven, tugas saya hanya sebagai destroyer, a.k.a. tukang uleg bumbu minus gula garam, atau parut kelapa. Jangan berfikir kami tidak punya blender, jika saya protes akan dijawab ‘kurang enak kalau diblender, lebih nikmat kalau hasil ulekan Lis’ begitu alasannya.

Kondisi terburuk adalah diusir dengan tidak hormat dari dapur untuk bermain dengan ponakan yang imut dari ibu yang amit-amit galaknya. Maaf mba, dirimu galak bener sih. Hal yang kurang menyenangkan selama proses memasak menyebabkan saya sering kali dilarang masuk dapur.  Mereka selalu bilang ‘sudah di luar saja, kalau masakan sudah matang dipanggil deh’ sebuah kalimat pengusiran yang halus. Hasilnya, si tomboy ini benar-benar tidak bisa masak.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s