krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.

Bukan Mas-Mas

Tinggalkan komentar

Moment penerimaan mahasiswa baru, sebagai salah satu senior saya harus mengikuti acara OSPEK di kampus. Bertugas sebagai PJS (Petugas Jaga Harian) dari sebuah kelompok mahasiswa baru. Saat itu ada seorang CAMA (calon mahasiswa) protes kepada senior yang lain, bahwa kelompoknya PJS mereka tidak ada perempuan. Kebetulan saya yang pegang kelompoknya. Waduh, dianggap laki-laki rupanya. Senior yang lain jadi ramai, ada yang tertawa, ada juga yang sedih, khususnya teman – teman seangkatan yang sudah berjilbab rapi, dan para ikhwan.

“Tuh, kan, salah liat deh yunior kita, besok – besok tomboynya dikurangin deh Lis.” Begitu salah satu ucapan yang sempat saya ingat.

Saat itu saya hanya menanggapi dengan tidak serius. Tapi lama kelamaan sempat terfikir juga. Karena saya pernah baca, bahkan berkali – kali, tentang laknat Allah pada laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya. Na’udzubilah, jangan sampai dilaknat oleh Allah, karena berpenampilan seperti laki – laki.

Setelah mengamati diri memang saya berpenampilan seperti laki – laki, sepotong rok pun tidak punya. Saat sekolah hanya rok seragam saja. Rambut selalu cepak, pakaian sehari – hari jeans belel, kaus lengan panjang, kemeja panjang, atau pakai sweater (karena bogor lumayan dingin dan sering hujan).

Sepatu kebanggaan converse low cut, make up, waduh boro – boro deh. Pake bedak sebatas bedak bayi, karena kulit agak sensitive. Satu lagi yang tidak pernah tertinggal, selalu pakai topi. Entah mengapa, merasa lebih nyaman dengan topi.  Selain bisa mengurangi wajah terpapar matahari, juga bisa bersembunyi untuk tidur saat dikendaraan umum. Hasilnya tak jarang orang salah panggil ke saya. seperti saat saya pulang ke jakarta bersama ita teman saya sekelas, saya dipanggil mas sama pedagang asongan. Pernah juga saat ke mall bertemu dengan senior, saat itu saya sedang bersama Yuli teman sekelas. Senior kira kami lagi pacaran (ih….ngawur) saat jarak kami deket baru senor ngeh bahwa yang dikira cowoknya Yuli adalah saya, cewek juga gitu loh.

Kejadian lainnya saat pulang kemaleman, diangkot bertemu dengan seorang ibu, yang ternyata sedang memperhatikan saya, mungkin karena penasaran beliau bertanya.

“ Maaf mba atau mas ya?”Tanya beliau dengan sopan.

“Saya perempuan, Bu.” Jawab saya, sambil nyengir.

“Oh, pantes. Saya fikir laki – laki. Hati – hati nak, sudah malem, sendirian ya?” Tanya beliau lagi.

“Iya bu, sendirian, mau pulang ke rumah, baru pulang dari kuliah di bogor, tolong doakan ya bu, biar selamat sampe rumah.” Jawab saya. Tak lama saya pun turun dari angkot.

_________

Tiga kali sehari

Berdiri berjejalan dalam bis kota sudah jadi pemandangan umum di kota besar. Saat ini di depan mata banyak penumpang pria yang sampai hati membiarkan seorang ibu kerepotan membawa dua anak kecil dengan posisi berdiri. Satu tangannya tetap berpegangan pada senderan kursi, sementara tangan yang lain memegang tangan anaknya. Tak tega melihatnya, dengan cepat saya berdiri untuk mempersilahkan ibu itu duduk.  Dengan tidak berkata sepatahpun, hanya mencolek tangan ibu tersebut.

“Makasih ya mas.” Ucapnya.

Waduh, kok dipanggil mas, mau menjelaskan sepertinya tidak penting. Lagi pula sebentar lagi saya harus turun. Hanya sempat senyum saja, menanggapi ucapan termakasihnya.  Kemudian turun di halte Cililitan.

Sementara tujuan masih jauh, harus beberapa kali lagi menyambung angkot, dan terakhir naik ojek.  Saya mulai mengamati penampilan diri sendiri kali ini, celana jeans biru yang sudah pudar warnanya, ada sobekan kecil di bagian tumitnya, sweater abu-abu, dengan kemeja putih garis-garis di dalam, plus topi pet jeans bergambar logo MTv. Sepatu All star yang warnanya sudah tak jelas lagi. Mungkin penampilan ini yang jadi penyebab saya dipanggil mas oleh ibu tadi. Masa sih, tampang saya separah itu.

Ah, biar sajalah, selama saya tidak merugikan orang lain, kenapa pusing. Mulai terasa agak haus, saya mencoba memanggil pedagang asongan di sekitar halte. Seorang  bapak menghampiri.

“Mau beli apa toh mas? Rokok atau minum?” Tanya si Bapak penjual asongan.

Duh, dua kali dipanggil ‘mas’ hari ini. Sambil nyengir saya jawab pertanyaan bapak itu

“Mau beli minum, Pak.” Jawab saya

“Adek ini perempuan apa laki?” Tanyanya lagi, sambil menyerahkan sebotol minumam dingin kepada saya.

“Perempuan pak, memangnya kelihatan seperti apa pak?” Tanya saya penuh selidik, sambil meneguk isi botol

“Oh, walah, saya kira laki-laki, lah wong rambutnya pendek, pake topi, badannya juga kaya laki, tapi saya penasaran denger suaranya kok kaya perempuan, makanya saya tanya.  ‘Adek ini perempuan apa laki’. Maaf ya dek, kalo saya tadi salah panggil” Jelas bapak itu dengan malu-malu

“Ngga apa pak, hari ini bapak orang kedua yang manggil saya ‘mas’, tadi di bis juga saya dipanggil mas.” Saya menjelaskan sambil nyengir garing.

Angkot yang ditunggu akhirnya kelihatan juga, dengan berbegas sayapun berdiri, siap-siap menyetop angkot. Siang panas begini mana betah lama-lama nongkrong di halte Cililitan. Goshong.

“Ayo..mas, masih kosong, centex – centex, klapadua – klapadua.” Teriak supir angkot, sambil melambaikan tangannya ke arah saya. Sempat celingukan, tapi tidak ada calon penumpang lain. Hanya saya sendiri yang berdiri menunggu angkot itu.

What? Tiga kali dalam sehari saya dipanggil mas, seperti minum obat saja. Jika sekali lagi dipanggil mas, besok saya harus menggunakan T shirt dengan tulisan huruf kapital warna merah ‘100% wanita tulen’.

Iklan

Penulis: dewiliez

ibu dua anak yang hobi baca buku dan nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s