krudekrucil

Catatan kecil tentang buku, anak-anak, dan lingkungan.


Tinggalkan komentar

Sakit Itu Sebentar

Sebulan ini saya dihadapi dengan masalah kesehatan babeh (eyangnya krucil) yang kurang baik. Penyakit yang muncul dua tahun lalu, dan terus menerus mengganggu aktifitas Babeh. Gejala sakit ini awalnya ditandai tidak bisa lancar buang air kecil (bak). Saya yang bukan ahli medis, asli nggak ngerti sebabnya. Langsung dibawa ke RS terdekat, masuk UGD, pasang kateter lanjut nunggu sampai keluar semua urine yang sempat ngetem semalaman di kandung kemih Babeh.

Besoknya kejadian sama berulang. Nggak bisa bak. Semalaman nggak tidur karena bolak balik ke toilet, tapi tetap tidak bisa lancar bak. Akhirnya pasang kateter, lanjut ke dokter urologi. Cek semua, termasuk usg. Hasilnya prostat. Saran dari dokter, baiknya segera dioperasi.

Saya penasaran, prostat ini sejenis apakah? Akhirnya saya tanya mbah gugel, tanya teman-teman dokter, dan cari opsi yang lain jika menghindari operasi. Karena kalau dengar kata-kata ‘operasi’ mendadak saya parno duluan. Mikir kondisi babeh yang udah sepuh, mikir resiko paska operasi, mikir.. ya banyak yang dipikirinlah.

Selama dua tahun ini Babeh jadi rutin bolak balik ke dokter, UGD, karena nggak bisa bak terus berulang. Jika dulu ada jeda dua-tiga bulan lancar bak, makin ke sini makin dekat jaraknya. Hanya 1-2 minggu, lagi-lagi harus pasang kateter. Terakhir Oktober lalu, tidak bisa lepas dari kateter. Begitu copot, langsung tidak bsia bak. Kebayang nggak rasanya nggak bisa bak, itu perut penuh urine, sakit dan nggak nyaman banget deh.

Alhamdulillah, akhirnya babeh mau juga dioperasi. Meski sempat mundur dari rencana. Jadwal yang sudah fixed tanggal 4 mundur jadi 11 Januari. Kondisi Babeh menurun saat menunggu jadwal operasi. Jadi nggak doyan makan, nggak bisa tidur, tensi naik, pastinya kepikiran operasi. Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Sanseviera dan Hidroponik

IMG-20160422-WA0005_resized

Jum’at 22 April 2016 lalu, saya diminta sharing tentang hidroponik di agenda Go Green  Al Hidayah Islamic School. Requestnya dadakan pula. Telpon dari MMS kamis pagi, lanjut mereka rapat dengan pihak sekolah. Saya berharap bisa pending pekan depan, karena memang belum ada persiapan. Eh… ternyata nggak bisa, kudu besok jalan Go Green-nya. Sempat minta bantuan pemilik toko hidroponik, langganan saya. Tapi bingung dengan waktu yang mepet.

Baiklah.. akhirnya Go Green tetap jalan, meski sempat gedubrakan nyari alat peraga. Mulai dari bibit, media tanam (rock wool), alat-alat hidroponik, dan semaian yang sudah jadi. Sharing (ngajarin) hidroponik pada anak-anak SD kelas 4-5 harus praktek. Nggak bisa jualan kecap (lisan) saja. Nggak bakalan nempel blas.

Pukul setengah delapan pagi, anak-anak sudah berbaris rapi di lapangan. Guru membagi menjadi dua kelompok besar. Kelas 1-3 diberi tugas menanam pohon sanseviera. Kelas 4-5 praktek hidroponik.

Pemilihan sansaviera (lidah mertua) karena tanaman ini bisa menghasilkan oksigen dan sebagai penyerap polutan yang baik. Berkaitan dengan lokasi sekolah yang dekat pabrik, cocoklah si sansaviera jadi artist of the month. Baca lebih lanjut


1 Komentar

Parent with no property

20160203_115113-1_resized

 

Ada Ayah Hebat di sini..

Judul buku “Parent with No Property” menarik perhatian saya. Keajaiban apa yang bisa dilakukan ayah miskin terhadap cara belajar anaknya?

Dalam buku ini, Han Hee Seok menceritakan pengalaman dirinya. Seorang penulis buku di Korea yang sangat perhatian dengan cara belajar anaknya.

Menurut Hee Seok, penghasilan dari menulis belum menjanjikan, sehingga dia harus melakukan beberapa pekerjaan lainnya. Melihat kondisi perekonomian keluarga yang memprihatinkan, dia berniat memutus rantai kemiskinan. Jangan sampai anak-anaknya nanti hidup susah juga.

Hee Seok terjun langsung dalam proses belajar putri sulungnya, saat hasil belajar Geoul  dibawah standar. Beruntung hasil belajar SD diberikan dalam bentuk deksripsi, bukan angka. Jadi seperti membaca laporan perkembangan belajar anak-anak TK di Indonesia. Beberapa SD di sini mungkin ada juga.

Meski bentuk cerita, tetap saja menyiratkan bahwa Geoul pencapaiannya jauh di bawah standar. Jika diteruskan sampai SMP pastinya tidak bisa bersaing dengan teman-temannya. Karena sistem penilaian sudah berupa angka, adan ada peringkat.

Rata-rata pelajar di sana mengikuti bimbingan belajar, atau pendidikan khusus. Jadi bisa dibayangkan persaingan dalam hal merebut peringkat di sekolah, seperti apa di sana.

Hee Seok mendadak menghentikan semua kebiasaan buruk (merokok, minum soju, pulang larut dalam kondisi masuk), demi mengawal belajar Geoul. Baginya, pendidikan Geoul lebih penting dari segalanya. Hee Seok berjuang agar anaknya bisa memperbaiki cara belajar meskipun tanpa ‘pendidikan khusus’ (les di luar sekolah).

Mencoba masuk ke dalam dunia anak bukan hal mudah bagi Hee Seok. Dia mulai mengalah untuk lebih menyukai makanan yang anak-anak suka, berbicara tema yang anak-anak suka, agar lebih mudah berkomunikasi.

Jika anak-anak mengeluh, fokuslah untuk memandang dan mendengarkan mereka. Jika kita tidak berusaha untuk terbiasa dengan gaya bicara, tingkah laku, dan kesukaan anak-anak, maka akan terjadi kesenjangan generasi. -hal.158

Saat SMP, Geoul mendapat rangking 27/36 siswa. Nyaris paling bawah. Si Ayah sedih, ternyata hasil belajar anaknya belum membaik. Mulailah Hee Seok menyuruh Geoul pinjam catatan teman yang rangking 1, meniru apa yang dilakukan si rangking 1. Mencatat apa yang dijelaskan guru saat di kelas. Baik dengan tulisan ataupun gambar-gambar lucu yang Geoul mengerti.

Terbukti, Geoul lebih paham saat banyak coretan di buku pelajarannya. Saat Geoul melihat gambar yang dibuatnya, serta merta ingatannya melayang pada penjelasan guru saat di kelas. Coretan dan gambar-gambar seperti komik yang dibuat Geoul sangat membantu proses belajar.

Peningkatan hasil belajar Geoul terlihat jelas, dari peringkat 27/36 menjadi peringkat 1/36 dan 1/211. Kereen banget ya. Tanpa les-lesan, hanya modal semangat dan dorongan kuat dari ayahnya Geoul mampu mendrongkrak prestasi belajarnya.

Baca lebih lanjut


2 Komentar

Seribu Semut dan Pasukan Badak

IMG-20151230-WA0007

Kali ini saya bukan nulis tentang kisah Nabi Sulaiman yang bertemu pasukan semut.  Tapi sekedar mengabadikan moment Rif’an khitanan  pekan lalu.

Sepulang kemping di Cibodas, ujug-ujung Rif’an request khitan. Alhamdulillah, akhirnya mau juga dia. Ahad sore 27 Des, meluncurlah kami ke klinik SABILA. Minta dijadwalkan khitan Senin pagi.

Sebelumnya Rif’an maju mundur mau khitan. Meski teman sekelas sudah banyak yang dikhitan, Rifan kekeuh belum mau. Yowis, nggak bisa maksa juga kan.

Sebagai emak yang pengen anaknya berani, saya setel film Upin-Ipin versi khitanan, lanjut wawancara ke teman-teman Rif’an yang sudah khitan. Jawabannya doong, plus minus bikin Rif’an ngeri-ngeri bingung. Ada yang bilang kayak ditabrak pasukan badak (lebay deh kamu Nak), itu pengikut si Mail yang bilang kayak digigit harimau. Ada juga yang bilang nggak sakit (hebat euy). Namanya juga anak-anak, jujur banget deh. Baca lebih lanjut

Obat itu bernama K3I

Tinggalkan komentar

k3iMemangnya sakit apa, kok ada obat judulnya aneh begitu? Apa K3I semacam antibiotic, probiotik, atau… obat penyakit kronis lainnya?

Ah jangan serius dulu. Bukan sembarang obat yang punya efek samping negatif. Tapi lebih banyak sisi positifnya. (jangan mikir test pack ya, hihihi)

Kerinduan saya pada moment naik gunung saat kuliah dulu semakin menjadi saat melihat film everest. Bukaan, saya belum pernah naik Everest, mimpi naik Rinjani dan Semeru saja belum kesampaian. Baru Salak, Gede-Pangrango, Ciremai, Slamet.  Keburu lulus kuliah langsung stop naik gunung.

Daaan.. K3I ini sukses mengobati kerinduan saya ke gunung. *minimal kemping dulu.

Rutinitas memang membuat bosan. Liburan ke tempat itu-itu lagi juga seringkali tidak sesuai harapan. Alhamdulillah, dapat info dari Nte Liani. Ternyata ada acara kemping keluarga yang bertepatan dengan agenda libur sekolah anak-anak dan long weekend.

Agenda kemping keluarga ini dimotori oleh Komunitas Kemah Keluarga Indonesia (K3I).  Kepala sukunya Om Chepy yang humble. Begitu saya pengen ikutan kemping, langsung dicemplungin ke grup wasap K3I. walah… isinya rame terus, nggak ada matinya deh.

Awalnya ragu, karena nggak punya perlengkapan kemping. Kebayang dong, bawa pasukan kemping. Duluu banget, bawa diri gampang. Modal baju ganti, jaket, sleeping bag dan logistic buat sendiri. Muat semuanya di keril. Lah ini, bawa peralatan lenong karena krucil kemana-mana kudu bawa bantal guling. Ga bisa tidur tanpa dua benda sakti ituh. Belum lagi buku favorit dan mainan. Plus, di bungsu yang super bersih, alias ogah kotor. Duh, parno duluan.

Penjelasan dari penghuni K3I Alhamdulillah menenangkan emak parnoan kayak saya. Nggak punya tenda, gampaang.. tinggal sewa. Nggak punya sleeping bag, tinggal sewaa. Sampai kompor juga bisa sewa. Ih, keren banget kan. Untuk keluarga pemula kayak saya, amanlah sewa ini itu. Next kalau mau rutin kemping, baru deh mikir nabung buat beli tenda yang besaaar dan perkap lainnya.

Taraa… berangkatlah kami ke Cibodas tgl 24 sore. Melalui jalur Cibarusah-Jonggol-Cariu-Cianjur-Cipanas-Cibodas. Ketar ketir, karena malam pas dijalan yang belok-belok dan gelaap. Sepanjang jalan saya asli stress. Sampai Cianjur bingung. Banyak perempatan, minim penunjuk arah. Alhamdulillah K3I lagi-lagi menuntun agar nggak nyasar. HP lowbat pula, nggak bisa buka google map or waze.

Sampai di Cibodas pukul 22.50. Om Chepy dan Nte Ichy menyambut hangat. Om siapa ya, lupa. Yang ngajarin nyalain kompor. Hihihi… jaman dulu masih pake paraffin. Terakhir naik pangrango, ada teman yang hobi masak. Jadi saya terima makanan matang langsung hap, nyam-nyam.

Berhubung masih sedikit yang datang, kami boleh memilih tenda. Alhamdulillah bisa milih tenda dekat lampu, karena emergency lamp yang kami bawa tiba-tiba mutung nggak mau nyala. Sebelah kami tendanya nte Esy, yang juga baru sampai dari Bogor.

Pagi pertama di Cibodas, dinginya sampai ke tulang.CIMG1587

Alergi saya kumat, biduran sekujur badan. Lupa pula bawa Claritin. Nggak nyaman banget. Eh, tapii… duo krucil tidurnya pulas banget. Ifa si beruang kutub nggak mau pakai sleeping bag. Rif’an kayak kepompong. Anteng sama bantal utek-uteknya. Saya dan Nenek langsung bikin yang anget-anget. Hihihi… laper terus kalau dingin begini. Bisa proses penggemukan badan nih.

Satu persatu perserta K3I berdatangan. Nte Liani si penebar Virus, tiba subuh di lokasi. Sempat cipika-cipiki. Makin siang makin ramai. Tapi acara belum mulai. Mungkin belum full yang hadir. Rifan mulai terlihat bosan. Saya keluarkan buku yang dia bawa. Dua jilid mute, satu ensi pusbah, dan komik palestina. Nggelosor di dalam tenda sambil membaca. Lama-lama nggak betah juga dia.CIMG1609

“Ibu, kita kemping kok begini aja? Aku bosan.” Protes Rif’an.

“belum mulai Rif, bentar lagi mungkin. Nanti ada games seru loh.”

Belum sempat kenalan ke tetangga sebelah. Saya tawarkan saja lego yang dia bawa. Alhamdulillah anteng deh.

Ah, ternyata lego membawa berkah silaturahim. Penghuni tenda di sebelah langsung komentar begitu lihat Rif’an main lego.

“Ayah, itu kan lego ninjago.” Terdengar suara anak dari tenda sebelah.

“Hai, nama kamu siapa?”

“Rif’an”

“Kelas berapa?”

“Dua.”

“Wah sama dong sama Bilal. Boleh main bareng nggak?”

“Boleh.” Rif’an tersenyum. Hihihi, asli lucu liat rifan senyum ditahan.

Anak-anak tuh yaa, cepat banget adaptasinya. Langsung akrab saja.20151225_103444_resized

Selain buka tenda, tidur beralas matras, makan seadanya (sama aja kayak di rumah lah menunya). Lah megic jar aja dibawa. Pindah rumah ini mah. Kemping kali ini banyaaak banget bonusnya. Mau tau apa aja? Yuuk, simak tulisan selanjutnya.

  1. Games tradisional

Games tradisional ini bisa dibilang yang bikin anak-anak ketagihan. Iya, games seru buat anak-anak yang membuat mereka betah kemping.

Akhirnya games untuk anak-anak dimulai. Heboh, seruu, krucil bahagiaa banget. Paling asyik saat games tradisional. Yakin deh, anak-anak sekarang belum kenal sama permainan ini. Ada bola gebok, main karet, dampu, balap karung, makan krupuk, bakiak dan lainnya.CIMG1759

Om dan Tante juga nggak ketinggalan. Mengenang masa kecil yang bahagia ini mah. Si Om yang kalah main dampu, kudu gendong lawan main yang menang. Apesnya kalau yang kalah kudu gendong yang lebih besar badannya. Dijamin nyusruk. Hiburan banget buat penonton. Sayangnya saya nggak ikutan, masih berkutat sama si biduran.

  1. Story telling by Om Budi

Story telling juga menjadi salah satu magnet buat anak-anak. Yey, bonusnya banyak banget K3I ini. Selain kemping ternyata ada story telling.CIMG1637

Anak-anak sampai sekarang masih ingat sama si Riri. Rif’an & Ifa penasaran banget, Riri itu bisa bicara sendiri. Bukan dubbing-an Om Budi. Riri itu bisa bergerak sendiri, bukan tangan Om budi yang menggerakan. Imajinasi anak-anak hebring bener deh. Riri & Om Budi, kereeen.CIMG1639

 

  1. Parenting

Mana ada kemping bonus seminar singkat (sharing) parenting? Eh, di sini ada loh. Sharing parenting oleh Bunda Iin Safitri. Meski singkat tapi cukup membekas. Tentang Ayah Artis, Bunda Bidadari dan Anak Bintang. Pengen nangis deh, kalau ingat materi sharing Bunda Iin. Ternyata saya mengidap BLAST yang cukup parah. Huhuhu… semoga bisa segera disembuhkan.  Semoga sembuh BLAST-nya berubah menjadi FAST (Fathonah Amanah Shidiq Tabligh).  You rock Bun. Asli ngefans mendadak.

  1. Silaturahim

Kentalnya persaudaraan di K3I membuat yang jaim-jaim jadi meleleh. Beneran deh. Om tantenya baik-baik bangeet. Sejak datang sampai pulang, panitia support para peserta. Saat regristrasi, sabar banget update transferan, nulis catatan kapan dan berapa jumlahnya. Ada yang bantuin peserta buka tenda, ada yang diajarin nyalain kompor (ini mah saya), sampai sabar banget melayani satu persatu request dari peserta. Jempol sepuluh deh… buat panitia.

  1. Berbagi

Berbagi, baksos sambil kemping. Adanya di K3I. Ini juga bikin melting. Ditengah hiruk pikuk egoisnya manusia, K3I menyelipkan satu agenda berbagi dengan anak sekitar lokasi kemping.CIMG1729

Melibatkan peserta anak-anak secara langsung dalam baksos membuat mereka lebih banyak bersyukur. Tidak melulu berfikir, “untuk aku, aku lagi, hanya aku.” Tapi juga diajak berbagi dengan teman-temannya. Panitia keliling tenda untuk mengumpulkan donasi, Masya Allah… dalam waktu singkat dana terkumpul lumayan. Kekuatan berbagi itu ternyata masih ada dalam hati kita. *mewek deui

 

  1. Selalu ingat ALLAH

Ini juga yang bikin saya meleleh. Meski sedang kemping, urusan sholat jamaah tetap berjalan dengan baik. Bahkan sholat jum’at di tempat. Huhuhu… jarang-jarang bisa begini. Liat sholat jum’at di tengah lapang, di kaki gunung gede-pangrango, di kelilingi puluhan tenda. Syahdu bangeet. Masya Allah, semoga keberkahan tercurah untuk seluruh penghuni K3I. Tetap mendahulukan Allah disetiap moment. Dekat dengan alam, menjadikan kami lebih mendekatkan diri pada Allah. Jazaakumullah khairan panitaa K3I.

  1. Selalu di hati

K3I selalu dihati kami. Sampai-sampai Rifan (7thn) mutung ngga mau pulang. Begini nih, kalau mutung minta digendong. Nggak mau difoto. 20151227_054334_resized

Bahkan tawar menawar minta pulang siang. Berat dia berpisah dengan teman-temannya, sempat mellow pas Bilal dan Kafi pulang lebih dulu. Sempat sedih tak sempat berpamitan pada Umar dan lainnya. Benarlah, di K3I anak-anak panen kawan baru.

Weleh… panjang juga nih tulisan.

Terakhir, K3I menjadi pilihan utama keluarga untuk mengisi liburan. Selain costnya sangat murah, semua bisa didapat di sini. K3I mampu mengalihkan perhatian anak-anak pada gadget dkk. K3I membuat kami mendapat pengalaman baru, teman baru, dan batre baru. Hihihi.. iya nih, saya kayak baru nge-charge batre hati saya. Sekaligus memantapkan hati membuat resolusi tahunan yang lebih baik lagi. Obat rindu saya pada gunung, ya… K3I.

pic terakhir, pasukan minus Nadin. *juru foto.

20151227_054419_resized


Tinggalkan komentar

Alysha si Naga Marah

Alysha merebut boneka beruang warna krem milik Jasmine. Keduanya saling tarik.Tak lama Alysha melepas pegangannya. Jasmine jatuh dengan posisi duduk, sementara boneka beruang terlempar ke tanah becek. Siku Jasmine lecet, boneka beruang kotor dan basah. Alysha hanya berdiri diam melihat Jasmine terjatuh. Tak ada kata maaf atau uluran tangan untuk menolong.

“Kamu jahat, Alysha.” Mata Jasmine berkaca-kaca. Air mata siap tumpah. Tapi urung. Jasmine berdiri dan membersihkan kotoran yang menempel pada boneka beruangnya. Kemudian berjalan menjauhi Alysha.

Kali ini Alysha mengambil bola Diego yang terletak di bawah pohon. Sementara Diego dan Billy sedang membuat kereta dari kotak bekas susu. Diam-diam Alysha menendang bola jauh-jauh. Sayangnya, bola tergelincir dan jatuh ke saluran air.

“Hei, mengapa bolaku dibuang ke saluran air?” teriak Diego.

Alysha diam saja. Sementara Diego mencoba mencari kayu untuk mengambil bola. Beberapa kali tak berhasil. Akhirnya Billy membantu. Bola Diego basah, kotor dan bau.

“Kalau mau pinjam, bilang dulu!” Diego marah. Hati-hati dipegangnya bola yang basah dengan dua tangan. Diego khawatir kotoran yang menempel di bola mengenai baju.

Alysha hendak merebut kereta api yang baru saja dibuat Billy, tapi tak bisa. Karena billy lebih cepat berkelit. Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Gadget silakan minggiir

14 Nov ini Qodarullah, ada sedikit gangguan teknis. Si Moly  nyaris gagal manggung karena Tante Carry ngadat nggak mau distater.

Alhamdulillah.., tawaran manis dari Ummi 4 jundi (yang super deh). Akhirnya si Moly meluncur manis Sabtu pagi ke Darul Ilmi. Koleksi bu Rini langsung digelar. Meski sibuk dengan si kembar yang aktif, bu Rini sempat read aloud 1 jilid Halo Balita. Next, lanjut repot sendiri sama anak-anak. *jazaakillah khairan buu..

Anak-anak tuh yaa, selalu heboh liat buku. Langsung cari posisi weenak. Ada yang gelosoran di lantai anteng baca buku. Balita ada juga? Teteup yang paling semangat lah.  Sayangnya.. waktunya keburu habis, sementara anak-anak masih belum selesai baca. Lain waktu disambung lagi yaa.

Ahad sore si Moly juga mampir ke Vila Mutiara. Kali ini Moly digelar di gang. Iya, bukan dalam rumah. Tapi di gang masuk perumahan. Bapak-bapaknya semangat langsung gelar karpet. Ibu-ibunya semangat nenteng bocah. Ish, kompak bener warga di sini. Syukaa… *pengen pindah rumah aja jadinya.

Satu pemandangan menarik hati. Si anak yang sedari tadi sibuk dengan tab-nya ternyataa… bisa mengalihkan perhatiannya. Awalnya Cuma lihat-lihat, lanjut ambil satu buku confindence in science. Lanjut menggeser tab-nya dengan buku. Yes! *senengnya lebay banget sih saya. Headphone tetap terpasang, tapi si anak mulai serius baca buku.IMG-20151115-WA0002_resized

Semoga makin banyak anak-anak yang cinta buku yaa…